alexametrics

Truku, Bantu Pelaku UMKM Kurangi Pengeluaran

14 April 2019, 09:56:45 WIB

JawaPos.com – Biaya pengiriman logistik di Indonesia lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara lain. Ada beberapa penyebab biaya pengiriman logistik mahal. Salah satunya, mekanisme penggunaan kendaraan pengiriman logistik belum optimal. Imbasnya, harga sebuah barang menjadi lebih mahal.

“Misalnya begini. Pabrik di Bekasi mau mengantar barang dengan truk ke Serang. Nah, pabrik itu harus menghitung biaya dari Bekasi ke Serang dan balik lagi ke Bekasi. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah truk itu tidak mengangkut apa-apa saat balik dari Serang ke Bekasi,” ungkap T. Arsono, co-founder Truku, kepada JawaPos.com belum lama ini.

Permasalahan itu, dipecahkan Arsono dengan menciptakan aplikasi Truku. Lewat aplikasi itu, tidak hanya lebih murah, proses pengiriman logistik juga menjadi lebih efisien. Sebab, prosesnya dikerjakan via sistem.

“Kalau saya mau mengantar barang secara manual, saya harus mencari truk dan sopir. Setelah dapat, surat jalan terbit. Lalu, setiba di customer, surat jalan saya diverifikasi. Dengan aplikasi Truku, proses tersebut jadi lebih singkat. Customer juga bisa men-tracking posisi truk sudah sampai mana,” jelas Arsono.

Alumnus Universitas Gajah Mada itu menilai, Truku adalah solusi untuk mengatasi tingginya biaya pengiriman. Sebab, dengan Truku, sopir truk tidak kembali dengan tangan kosong.

“Misalnya, truk mengirim barang dari Bekasi ke Serang. Nah, dengan Truku, truk bisa pulang ke Bekasi dengan membawa logistik. Potensi itu ada karena di Serang juga banyak industri. Customer industri di sana bisa ada di Jakarta, Bekasi, dan daerah lain. Kalau itu bisa di-combine, akan meningkatkan utilitas truk,”jelasnya.

Dengan begitu, sambung Arsono, biaya pengiriman barang di-sharing dengan pengusaha lain. “Sebuah pabrik atau UMKM juga jadi tidak perlu mengeluarkan dua kali biaya perjalanan dalam pengiriman logistik,” tegas pria yang juga jebolan Universitas Airlangga tersebut.

Selain digitalisasi pengiriman barang, sambung Arsono, Truku juga menyediakan market place truk yang fokus untuk pelayanan business to business (B2B). Truku menggandeng pemilik truk.

“Dengan adanya market place truk, proses mencari truk menjadi lebih mudah. Sebaliknya, pemilik truk juga lebih mudah mendapatkan muatan. Inilah yang membuat kesejahteraan sopir menjadi lebih baik,” ungkap Arsono.

Arsono menjelaskan, proses pembuatan Truku membutuhkan waktu dua tahun. Pihaknya membutuhkan waktu panjang karena permasalahan dalam pengiriman logistik di tanah air cukup kompleks.

“Dalam menciptakan sistem ini, kami tidak hanya berkonsentrasi pada teknis komputasi. Kami juga memahami kebutuhan masyarakat. Sehingga, aplikasi ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tegas Arsono.

Dia berharap, aplikasinya bermanfaat bagi masyarakat. Bukan hanya menguntungkan pengusaha dan UMKM, melainkan juga driver truk.

“Di Indonesia, kami menjadi yang pertama dalam upaya mendigitalisasi logistik dengan mengombinasikan pengiriman menggunakan truk. Aplikasi ini bisa diakses lewat website atau mobile,” terang pria berkacamata tersebut.

Editor : Budi Warsito

Reporter : Andribagus Syaeful