Tiongkok Bikin Pengadilan Internet Kedua, Ini Fungsinya

11/09/2018, 18:25 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
Ilustrasi pengadilan internet. (WomenofChina)
Share this image

JawaPos.com – Pemerintah Tiongkok ternyata memiliki Pengadilan Internet. Bahkan pada Minggu (9/9) kemarin, negeri Tirai Bambu itu resmi membuka pengadilan internet yang kedua.

Sebagaimana JawaPos.com lansir dari laman TheDailyStar, Selasa (11/9), dibukanya pengadilan internet yang kedua itu tidak lain untuk mengatasi meningkatnya sengketa ataupun masalah di dunia maya. Pengadilan yang kedua ini berlokasi di Beijing, terletak di zona teknologi distrik Fengtai di barat daya ibu kota. Sementara Pengadilan Internet pertama yang dibuka tahun lalu terletak di Hangzhou.

Pengadilan Internet kedua di Beijing akan berfokus menangani kasus hak kekayaan intelektual dan internet. Kasus tersebut seperti perselisihan yang melibatkan pinjaman online, kontrak belanja online, dan masalah hak cipta online. Dari sana, Mahkamah Agung Rakyat juga akan menulis interpretasi peradilan online.

Ilustrasi: Ketuk palu pengadilan. (Alamy/TheTelegraph)

“Banyak perusahaan internet dan teknologi yang berbasis di kota membawa kemakmuran dunia maya serta booming dalam sengketa terkait," kata juru bicara Pengadilan Tinggi Beijing An Fengde pada Minggu setelah resmi membuka Pengadilan Internet.

Berdasarkan data Pengadilan Tinggi Beijing, lanjutnya, dari Januari hingga Agustus tahun ini ada sebanyak 37.631 kasus terkait internet diajukan di Beijing dengan peningkatan 24,4 persen dari tahun ke tahun.

"Kami berharap para pengaju perkara akan memiliki akses ke layanan hukum yang lebih efisien dan lebih cepat di pengadilan, juga dilengkapi dengan perangkat berteknologi tinggi. Informasi pribadi mereka akan sepenuhnya dilindungi. Pengadilan juga akan menjadi dasar untuk mempelajari sengketa online jenis baru dan isu-isu panas di industri," kata An.

Liu Shuhan, seorang hakim di pengadilan, mengatakan bahwa salah satu fitur utamanya adalah bahwa orang yang berperkara dapat menangani tuntutan hukum mereka sepenuhnya secara online. Sehingga, mereka tidak diharuskan mendatangi pengadilan guna melaporkan kasus.

Liu menjabarkan, pengacara dapat mengajukan materi, melacak tuntutan hukum mereka, menghadiri sidang kasus, dan berkomunikasi dengan hakim setelah mendaftarkan akun di situs web bjinternet.gov.cn. Identitas mereka akan dikonfirmasi oleh pengenalan wajah dan teknologi otentikasi nama yang nyata.

“Kenyamanan pengadilan ini berasal dari perangkat berteknologi tinggi. Sebagai contoh, kami memiliki sistem pembuatan dokumen otomatis yang menulis informasi standar dalam putusan, hanya menyisakan spesifik kasus kepada hakim. Lainnya ada juga sistem pengiriman elektronik yang mengirimkan putusan kepada pihak yang berperkara lebih cepat dari sebelumnya,” jelas Liu.

Seperti disinggung di atas, pada 18 Agustus tahun lalu, Tiongkok mendirikan pengadilan internet pertamanya di Hangzhou, provinsi Zhejiang. Tujuan awal dari berdirinya pengadilan internet sebagai jawaban atas sengketa yang berkembang terkait pembelian online dan aktivitas keuangan di daerah tersebut.

Sejak itu, pengadilan Hangzhou telah menangani lebih dari 11 ribu kasus, 9.600 telah disimpulkan. Sidang rata-rata berlangsung 38 hari, lebih cepat daripada pengadilan konvensional. Berangkat dari pengalaman itu, juga pertumbuhan pesat dalam perselisihan yang berhubungan dengan internet secara nasional, hal ini membuat pemerintah pusat untuk memutuskan untuk mendirikan pengadilan internet kedua di Beijing dan Guangzhou, provinsi Guangdong. Pengadilan Internet di Guangzhou sendiri akan dibuka akhir bulan ini.

(ryn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi