JawaPos Radar

Tidak Hanya Otak Komputer, Masa Depan Otak Manusia Pun Bisa Dibajak

08/11/2018, 18:27 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
otak manusia dibajak, masa depan otak manusia, otak komputer
Ilustrasi data di otak manusia. (TechBuf)
Share this

JawaPos.com - Jika saat ini target pelaku kejahatan siber adalah otak komputer, lain halnya dengan masa depan. Menurut peneliti dari Kaspersky Lab dan University of Oxford Fuctional Neurosurgery Group, di masa depan otak manusia pun bisa 'dibajak'.

Kaspersky Lab menyebut bahwa di masa depan para pelaku kejahatan siber mungkin dapat mengeksploitasi implan memori untuk mencuri, memata-matai, mengubah atau mengendalikan ingatan manusia. “Teknologinya sekarang sudah hadir dalam bentuk perangkat simulasi otak mendalam,” ujar pihak Kaspersky Lab dalam keterangan tertulisnya kepada JawaPos.com, Kamis (8/11).

Para ilmuwan, lanjutnya, kini sedang mempelajari bagaimana memori diciptakan dalam otak bisa menjadi target, tempat penyimpanan, dan dapat ditingkatkan menggunakan perangkat yang ditanam. “Namun, kerentanannya justru terdapat dalam perangkat lunak dan keras yang terhubung ke manusia. Hal ini perlu diperhatikan agar kita dapat bersiap menghadapinya,” terangnya.

Terkait dengan temuan tersebut, para peneliti menggabungkan analisis praktis dan teoritis dalam mengeksplorasi kerentanan perangkat yang ditanamkan dan digunakan untuk stimulasi otak dalam. Dikenal sebagai Implantable Pulse Generators (IPG) atau neurostimulator, perangkat ini mengirim impuls listrik ke target spesifik di otak untuk pengobatan seperti gangguan penyakit Parkinson, tremor esensial, depresi berat, dan gangguan kelainan obsesif-kompulsif.

Generasi terbaru dari implan ini dilengkapi dengan manajemen perangkat lunak untuk dokter dan pasien yang dipasang pada tablet dan ponsel pintar kelas komersial. Koneksi yang dihubungkan antar mereka berdasarkan pada protokol Bluetooth standar.

Adapun dua hal yang ditemui dalam penelitian tersebut rupanya menjadi celah otak manusia mungkin 'dibajak' di masa depan. Pertama adalah faktor infrastruktur koneksi yang tidak terlindungi. Para peneliti mengaku menemukan satu kerentanan serius dan beberapa kesalahan konfigurasi yang mengkhawatirkan dalam platform manajemen online.

Platform tersebut cukup populer di kalangan tim bedah dan dapat menyebabkan penjahat siber menyerang data sensitif serta prosedur perawatan pasien. Ketidakamanan atau transfer data yang tidak terenkripsi antara implan, perangkat lunak pemrograman, dan seluruh jaringan terkait dapat menimbulkan gangguan berbahaya. Baik pada pasien atau bahkan seluruh kelompok implan yang terhubung ke infrastruktur yang sama. Sebab, penjahat siber dapat memanipulasi data sehingga bisa menyebabkan perubahan pengaturan yang berujung pada rasa sakit, kelumpuhan, termasuk juga pencurian data pribadi yang bersifat rahasia.

Temuan kedua yang menjadi faktor pembajakan otak manusia di masa depan adalah perilaku tidak aman oleh staf medis. Program perangkat lunak patient-critical ditemukan dengan kata sandi default yang digunakan untuk menjelajah internet atau dengan aplikasi tambahan yang diunduh ke dalamnya. Hal ini tentu menjadi rentan yang harus diatasi.

Para peneliti memperkirakan bahwa selama beberapa dekade mendatang, akan lebih banyak neurostimulator canggih dengan pemahaman lebih mendalam tentang bagaimana otak manusia membentuk dan menyimpan ingatan. Neurostimulator ini juga kemungkinan akan mempercepat pengembangan dan penggunaan teknologi serta menciptakan peluang baru bagi para pelaku kejahatan siber.

Dalam lima tahun, para ilmuwan menyebut teknologi dapat merekam sinyal otak secara elektronik dalam membangun dan meningkatkan ingatan atau bahkan menulis ulang sebelum mengembalikannya ke otak. Satu dekade dari sekarang diklaim akan mulai muncul implan peningkatan memori secara komersial pertama di pasar, dan 20 tahun mendatang, teknologi akan cukup mumpuni untuk memiliki kontrol besar atas ingatan.

(ryn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up