JawaPos Radar | Iklan Jitu

Jadi Gamer Pro Nggak Harus Mahal, Bisa Dimulai dari Warnet

07 Februari 2019, 18:05:00 WIB
E-Sport, Gamer Pro, E-Sport Gamer Pro
Ilustrasi: turnamen e-sport. (GameCrate)
Share this

JawaPos.com - Belakangan istilah e-sport semakin populer dan banyak menjadi perbincangan publik. Secara sederhana, e-sport sendiri merupakan kegiatan bermain game yang ditekuni kemudian menghasilkan prestasi dan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit. Belakangan juga banyak bermunculan tim-tim e-sport lokal yang jago-jago dengan prestasi yang membanggakan. Namun, di balik euforia e-sport di Indonesia yang tengah naik daun dan mulai mendapat perhatian pemerintah, cabang olahraga ini masih dianggap sebagai kegiatan yang tidak murah.

E-sport dan stigma sebagai kegiatan rekreasi yang 'mahal' mengacu pada equipment yang dibutuhkan. Dalam hal ini adalah perangkat komputer, laptop atau konsol game. Harga perangkat tersebut memang harus diakui tidaklah murah. Sebagai contoh, untuk dapat memainkan game dengan kualitas grafis menengah saja misalnya. Paling tidak dibutuhkan komputer gaming atau laptop dengan harga mulai Rp 10 jutaan. Kedua perangkat tersebut di dalamnya diisi jeroan semisal kartu grafis dan CPU yang tidak boleh 'biasa-biasa saja'.

Perlu dicatat, harga yang kami sebutkan di atas bisa dibilang paling murah. Pasalnya, beda jenis game, beda pula spesifikasi perangkat yang dibutuhkan. Semakin tinggi kualitas grafis game, berarti semakin tinggi pula spesifikasi yang mesti dipenuhi perangkat komputer untuk bisa menjalankan sebuah game. Itu berarti semakin dalam kocek yang mesti dirogoh untuk dapat memainkan game. Belum lagi aksesori dan kebutuhan lainnya, seperti jaringan internet kecepatan tinggi di rumah yang mesti dipenuhi.

E-Sport, Gamer Pro, E-Sport Gamer Pro
Tim e-sport asal Palembang, Armored Project yang masih memanfaat warnet sebagai sarana berlatih. (Rian Alfianto/JawaPos.com)

Meski demikian, stigma dan label e-sport sebagai olahraga mahal ternyata tak sepenuhnya benar. Tim e-sport dari daerah Armored Project yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, saat mewakili tim-nya berlaga di gelaran Acer Asia Pasific Predator League bulan lalu menuturkan, untuk menjadi seorang gamer profesional bisa dimulai dari i-Cafe atau warung internet (warnet). Armored Project kala berlaga di Acer Asia Pasific Predator League mewakili game Dota 2. Dota 2 sendiri memang menjadi game yang ditekuni tim di Armored Project. "Bisa dari i-Cafe kok," katanya kepada JawaPos.com.

Lebih jauh, dua orang tim dari Armored Project itu menyebut bahwa perangkat komputer high-end untuk memainkan games hanyalah alat semata dan bukan menjadi senjata utama. "Kami di Palembang mainnya banyak yang dari warnet. Kalau ada jadwal latihan ya kita sama-sama ke warnet atau janjian online jam sekian-sekian misalnya. Nggak harus sih (punya komputer atau laptop gaming dengan spesifikasi tinggi). Yang penting skill," terangnya. "Apalagi kami di daerah, belum banyak tempat yang menyediakan equipment komputer gaming dan lainnya," tambahnya.

Senada, Manajer Tim e-Sport Aura, Shint menyebut bahwa untuk memulai debut sebagai seorang gamer profesional bisa dimulai dari mana pun. Termasuk dari i-Cafe atau warnet. "Yang paling penting ya jelas skill lah. Mau punya komputer atau laptop gaming semahal dan secanggih apa pun kalau nggak ada skill ya percuma," beber pentolan tim e-sports yang bermarkas di Pondok Indah, Jakarta Selatan itu.

"Selain skill, yang paling penting bagi kami untuk para gamers adalah personality. Punya tujuan nggak mereka. Mereka main game mau ngapain, mau dapat apa. Kalau nggak ada tujuan apa-apa ya mending nggak usah main," tegasnya.

Masih soal e-sport, selain dapat dimainkan lewat perangkat komputer atau konsol game, saat ini juga semakin populer games dari berbagai genre yang bisa dimainkan di perangkat mobile dalam hal ini smartphone. Kepopuleran beberapa game mobile seperti Mobile Legend, AOV, PUBG Mobile, dan lainnya bahkan banyak mengundang para pembuat event game untuk membuat turnamen. Hal itulah yang membuat e-sport saat ini menjadi semakin populer dan dikenal oleh beragam lapisan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Terbaru, menanggapi semakin membuminya istilah e-sport yang disertai dengan tumbuhnya tim-tim e-sport dengan talenta muda yang berbakat, pemerintah mulai mengikuti kemajuan zaman dengan ikut memperhatikan orang-orang di dalam industri e-sport. Sebagai awalan, pemerintah membuat Piala Presiden E-Sport yang mempertandingkan game Mobile Legend. Seperti pernah kami beritakan sebelumnya, Piala Presiden e-Sport dengan game Mobile Legend menjaring talenta-talenta muda dari seluruh Indonesia untuk ikut bertanding memperbutkan hadiah senilai Rp 1,5 miliar.

Seluruh peserta Piala Presiden E-Sport 2019 merupakan saringan dari regional yang meliputi kota-kota di tana air, seperti Palembang dengan seluruh Wilayah Sumatera; Pontianak meliputi wilayah Pulau Kalimantan; Manado dengan wilayah, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Seluruh Pulau Maluku, dan Pulau Papua; juga Makassar dengan seluruh wilayah Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Kemudian Bekasi dengan wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten; Solo dengan wilayah Jawa Tengah dan DIY; Surabaya dengan Jawa Timur dan Madura; serta Denpasar meliputi wilayah Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Keseluruhan peserta yang terjaring dari regional-regional di atas akan bersaing di babak grand final pada 30-31 Maret 2019 di Istora Senayan, Jakarta.

Editor           : Fadhil Al Birra
Reporter      : Rian Alfianto

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up