alexametrics
Kembali ke Fitrah

Lontong Kupang dan Rujak Cingur, Kuliner Wajib Lebaran Merza Fachys

6 Juni 2019, 15:40:52 WIB

JawaPos.com – Indonesia kaya akan kuliner nusantara. Terlebih lagi saat Lebaran sekarang ini. Selain silaturahmi, Hari Raya Idul Fitri juga identik dengan penganan khas. Malahan tak sedikit masyarakat yang rela berjuang pulang ke kampung halaman demi mencicipi kuliner khas Lebaran.

Momen Lebaran seperti itulah yang selalu teringat bagi Merza Fachys, direktur utama PT Smartfren Telecom Tbk. Merza rupanya Arek Suroboyo (sebutan untuk masyarakat Surabaya). Dia mengaku ketika Lebaran selalu rindu untuk menikmati sajian khasnya. Khas kotanya dan khas masakan mendiang ibunya.

Lebaran tahun ini Merza tidak pulang kampung. “Kalau pulang kampung, seperti yang lain, silaturahmi tetap nomor satu. Kalau sempat mengunjungi saudara, kerabat dan yang lainnya. Kuliner juga wajib. Tapi tahun ini saya tidak pulang saat Lebaran,” kisahnya kepada JawaPos.com dalam sebuah pertemuan.

Merza melanjutkan, Surabaya itu surganya kuliner. Yang paling tradisional sekali pun semuanya ada di sana. “Saya suka lontong kupang, tahu campur, lontong balap, rujak cingur. Semua kuliner itu wajib ada kalau saya di Surabaya,” jelas Merza semangat.

Direktur Utama PT Smartfren Telecom Merza Fachys. (Rian Alfianto/JawaPos.com)

Menurut Merza, kuliner tersebut sulit ditemukan di tempat lain. Kalau pun ada pun tidak seenak yang asli Surabaya. “Kenapa? Karena Surabaya adalah ‘rumah’. Itulah masakan khas almarhumah ibu saya,” kata Merza lirih.

Merza yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) juga bercerita soal perayaan Lebarannya. Meski mengaku selalu rindu dengan makanan khas Lebaran dari Surabaya, rupanya dia tak setiap Lebaran selalu pulang ke kampung halaman. Hal tersebut lantaran kedua orang tuanya telah tiada.

Oleh karena hal tersebut, kini orientasi pulang (ke Surabaya) itu tidak harus Lebaran. Menurutnya, silaturahmi bisa dilakukan kapan saja. “Ibu saya meninggal tahun 1996, bapak saya tahun 2004. Sejak 2004 itu orientasi berlebaran saya berubah. Lebaran tak harus pulang kampung. Tapi saya selalu rindu masakan khas Lebaran kesukaan saya tadi,” terangnya.

Merza sendiri merupakan tiga bersaudara. Dia yang bontot. Menurutnya, faktor untuk tidak menengok kampung halaman saat lebaran juga karena pekerjaan, juga tantangan saat mudik. “Pulang saat Lebaran itu tantangannya banyak, macet, kalau mau naik kendaraan publik mahal dan sebagainya. Jadi pulang itu tak harus Lebaran. Bisa kapan saja kalau saya rindu,” ungkapnya.

Makna Lebaran

Merza memaknai Lebaran sebagai sarana detoksifikasi tubuh alias menghilangkan racun di tubuh. Menurutnya, seperti tubuh, Ramadan dan Idul Fitri itu adalah momen detoksifikasi. Tubuh dan hati dilatih secara spiritual selama Lebaran. “Ramadan adalah momen introspeksi diri, mensucikan diri, mengenang dosa-dosa kita, kesalahan kita yang sudah dilakukan 11 bulan ke belakang dan minta ampun kepada Allah,” tegas Merza.

Setelah itu, lanjut pria berkumis tebal itu, Lebaran mendorong rasa untuk berbagi, juga mensyukuri nikmat yang sudah diberikan oleh yang maha kuasa. Hal tersebut dikatakannya karena masih banyak orang yang tidak bisa merasakan kegembiraan berlebaran.

“Ujung daripada ini adalah mengeratkan silaturahmi lagi. Jadi setelah Lebaran itu kita seperti baru menjalani rangkaian detoksifikasi. Kita baru lagi, semua racun di tubuh sudah keluar, silaturahmi tersambung kembali. Jadi bagi saya Ramadan dan Lebaran adalah momen detoksifikasi tubuh dan hati,” beber Merza.

Tanggung jawab yang diemban Merza saat ini membuatnya termasuk menjadi salah satu orang yang tidak bisa merasakan Lebaran dengan maksimal. Betapa tidak, sebagai penggawa di industri telekomunikasi, kepastian jaringan saat Lebaran harus baik-baik saja tentu membuatnya selalu siaga.

Meski begitu, Merza mengaku tak masalah. Keluarganya pun mengerti dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya kepada layanan masyarakat. Malahan Merza mengaku berdosa ketika momen Lebaran ada yang tidak bisa berkomunikasi, tidak bisa bersilaturahmi lewat jaringan telekomunikasi.

Menurut dia, setiap jenjang memiliki tanggung jawab yang berbeda. Merza menyebut merasakan betul hal tersebut sejak dirinya masih jadi teknisi hingga sekarang jadi direktur utama. Tantangan paling berat di posisinya saat ini justru disebut berada saat momen-momen Lebaran. Lebaran semua ingin berkomunikasi dan berimbas kepada trafik yang sangat tinggi.

“Kalau tidak bisa diatasi, ini akan chaos, congestion, down, dan tidak hanya kehilangan revenue, tapi saya itu berdosa. Kenapa? Karena saya membuat orang-orang di hari Lebaran tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga mereka karena layanan atau jaringan telekomunikasi terganggu. Dosa itu saya,” tuturnya.

Terakhir, Merza berpesan untuk menjadikan Ramadan dan Lebaran sebagai momen pembelajaran diri. “Disiplin, tanggung jawab, tenggang rasa, ketulusan, dan keikhlasan berbagi serta silaturahmi di momen itu. Setelahnya kita jadi ‘orang’ yang baru, yang lebih baik lagi. Semoga kita bisa berjumpa lagi dengan Ramadan tahun depan,” tutupnya.

Editor : Fadhil Al Birra

Reporter : Rian Alfianto