← Beranda

Dadu Kancil, Dadu Dadidu

Ilham SafutraSenin, 20 April 2020 | 05.39 WIB
Sujiwo Tejo
DADU miliknya bukan dadu biasa. Tidak dipotong-potong, dipahat, dan diukir sendiri dari tulang paha mayat ayahnya, seperti dadu Patih Sengkuni, tapi dadunya jelas bukan sembarang dadu. Ia dadu bernyawa. Kancil mengelus-elus dadu putih tulang itu, melemparnya. Si empunya nyawa menggelinding di gelondongan kayu meranti. Bareng dengan mata kancil yang dikedipkan dadu berhenti. Empat! Persis bilangan yang dihasratkannya.

”Waduh, itulah jumlah bilangan tanda-tanda Zaman Kaliyuga,” badak bercula dua menonjolkan diri tanpa diminta. ”Pertama, ada anjing buduk di antara anjing-anjing segar di sekelilingnya. Kedua, ada sapi yang kebablasan menjilat-jilat terus bayinya sampai bayi itu terluka. Ketiga ... Waduh ... Ketiga dan keempat aku lupa .. Apa ya?”

Badak malu. Telanjur menonjolkan diri, ternyata tak jadi menonjol. Saking malunya, culanya yang barusan dua kini merasuk tinggal satu setengah.

Sambil tetap konsisten #diRumah Aja, bekicot dan keong mengingatkan badak bercula bilangan pecahan itu. ”Bilangan ketiga, ada burung bersiul-siul sambil makan kelinci yang berdarah-darah. Bilangan keempat, ada gajah raksasa yang turun gunung bagai gletser raksasa. Menggelinding dia ke kaki bukit. Bebatuan besar jadi terdorong ke lembah karenanya.”

Kura-kura dan siput yang juga sambil tetap konsisten #diRumah Aja menyambung, ”Pohon-pohon yang usianya sudah berabad-abad bertumbangan. Tumbang diterjang oleh balok-balok granit yang melaluinya dengan gemuruh badai petir, makin ke bawah makin jatuh berguling-guling meluluhlantakkan segala makhluk tanpa pandang bulu.”

Raja Singa Sastro gelisah raut wajahnya. Mulutnya berdehem-dehem. Tanda tak suka pada obrolan klenik model begini.

”Kau ingin aku membuang dadu itu, Kakanda?” Ratu Singa Jendro meraih dadu kancil dan bersiap melemparnya ke matahari utara. ”Tapi, apa kau lupa, Kakanda. Ini bukan dadu biasa. Dadu ini bertuah. Benda ini terbuat dari tulang punggung negeri tetangga yang hancur lebur di kericuhan malam itu.”

Seluruh hewan menebak-nebak, apakah yang dimaksud ”tulang punggung” negeri tetangga? Apakah itu kaum penggerak ekonomi seperti lebah pekerja? Apakah itu landasan ideologi suatu negara?

Dari cerita kancil yang pernah didengar badak, landasan ideologi suatu negara tak lebih dari lima. Itulah bilangan landasan yang kancil pernah menguping dari manusia, ketika dulu ditahan lama seusai tertangkap nyolong timun, eh, nyolong kesempatan pada saat wabah melanda perkampungan penduduk. Tapi, kenapa bilangan dadu ini sampai enam?

Galau memikirkan bahasa perlambang dari ratu singa, hewan-hewan akhirnya tertidur. Yang tidurnya paling pulas di tanah bagai deretan kayu-kayu gelondongan adalah monyet-monyet.

Esok paginya, ketika matahari utara membayangkan pohon-pohon ke barat daya, ratu singa menafsir satu per satu empat pertanda Zaman Kaliyuga.

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS


Pertama, anjing kurus berkudis di antara anjing-anjing imut dan terawat. Pertanda banyaknya orang yang hidupnya nelangsa dan rentan terjangkit wabah di tengah-tengah mereka yang bergelimang kelimpahan.

Kedua, sapi kebablasan menjilat-jilat terus anaknya, pedet, yaitu kaum milenialnya sapi, sampai pedet itu terluka. Pertanda mewabahnya jumlah milenial yang saking disayangnya oleh kaum kolonial, mereka terburu-buru dianugerahi jabatan tinggi. Sampai-sampai tak sadar bahwa itu menjadi wabah baru yang lain lagi.

Ketiga, burung bersuara merdu tapi sambil memangsa kelinci yang menjerit-jerit dan berdarah-darah. Pertanda menjamurnya pawang-pawang moral yang bertutur kata indah, membuai dan membius, di tengah-tengah umat yang kehilangan pekerjaan gegara wabah.

Keempat, gajah raksasa turun bagai gletser menggelinding di kaki gunung, memorak-porandakan segalanya. Pertanda merajalelanya wabah kerakusan!

*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=_7PIIyVIWKk

https://www.youtube.com/watch?v=hD3SvAu7K5c

https://www.youtube.com/watch?v=YJ-nU7kfVFs
EDITOR: Ilham Safutra