alexametrics

Jalan Penghubung Tanjung Perak: Macet Hebat, Bocor, atau Celaka

31 Juli 2019, 20:03:24 WIB

JawaPos.com – Persoalan klasik di jalur utara Surabaya belum tertangani secara maksimal. Justru siksaan yang dialami pengendara kian bertambah. Jalur nasional di ruas Greges–Osowilangun ambles. Macetnya mengular ke mana-mana.

Padahal, jalur tersebut merupakan akses distribusi barang dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Perak Perbaikan memang ada, tapi belum maksimal. Rasanya seperti tambal sulam saja. Buktinya, hingga kemarin (30/7) kondisi jalan belum pulih 100 persen. Amblesnya jalan sebenarnya hanya sebagian kecil penderitaan yang dialami pengendara.

Dari pantauan Jawa Pos, keluhan yang muncul di ruas Surabaya–Gresik ramai sejak sepuluh tahun terakhir. Bagi warga, terputusnya akses Surabaya–Gresik bukan lagi hal baru.

Kalau mencari jalur alternatif, para pengendara harus memutar melalui Stadion Gelora Bung Tomo. Meski begitu, kemacetan bakal tetap ditemui. Sebab, jalan di ruas Sememi–Kandangan juga menjadi jalur truk yang setiap hari macet. Kalaupun lewat jalur tersebut, pengendara sepeda motor membutuhkan waktu ekstra hingga satu jam.

Kemacetan di sana juga dipicu adanya bengkel liar truk. Itu bisa dilihat di sekitar Jembatan Branjangan. Banyak kendaraan besar yang parkir di pinggir jalan dan menghambat arus lalu lintas. Gara-gara itu, pengendara harus mengurangi kecepatan dan bergantian melewati jembatan. Bila sudah begitu, macetnya ampun-ampunan.

Tambal ban khusus truk menjamur di sana. Tidak hanya di Branjangan, di dekat Terminal Osowilangun setidaknya juga ada dua tambal ban truk. Mereka tidak punya garasi khusus. Seluruh proses perbaikan ban dilakukan di jalan raya.

MASIH BERCAMPUR: Setiap hari ratusan trailer melintas di jalan penghubung menuju Pelabuhan Tanjung Perak. Kendaraan besar tersebut harus berbagi dengan mobil kecil dan sepeda motor. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

Keberadaan tambal ban tersebut menjadi dilema. Sebab, di wilayah tersebut banyak mobil dan motor yang mengalami ban kempis. Bertebaran logam di jalur berlubang dan bergelombang itu. ”Sehari, saya menambal minimal 50 ban motor. Ada yang meletus karena kejeglong, kena paku dan baut,” kata Saibun, penambal ban.

Tak sampai di situ. Jawa Pos menghitung ada 16 putar balik yang juga bikin macet. Truk yang atret membutuhkan ancang-ancang dari kiri jalan. Jika memutar, tentu kendaraan lain harus menunggu. Masalahnya di beberapa titik putar balik, yang mengantre untuk berputar juga banyak. Akibatnya, kendaraan yang seharusnya bisa lurus ikut-ikutan mengantre. Contohnya, akses putar balik di dekat pertigaan Greges. Di lokasi itu, banyak pengendara roda dua yang memutar nyelonong dan membahayakan. ”Adanya roda dua yang putar balik ngawur juga sering menyebabkan kecelakaan,” kata Lurah Tambak Sarioso Sholeh Moedzakir.

Dia mencatat ada lebih dari 40 kecelakaan sepanjang 2019 di wilayahnya. Ada korban meninggal. Banyak pula yang hanya luka-luka. ”Termasuk anak saya sendiri yang ndelosor di dekat Jembatan Branjangan,” tambah Sholeh.

Menurut lelaki asal Lamongan tersebut, kecelakaan tidak hanya disebabkan aksi putar balik ngawur. Sebagian juga dilatarbelakangi jalan yang berlubang.

Kalau terjadi kecelakaan, biasanya yang disalahkan sopir truk. Padahal, bisa jadi kesalahan itu disebabkan pengendara motor yang masuk ke sela-sela truk saat menyalip. Atau karena jalan bergelombang. ”Tapi, sopir ditahan. Truk juga disita. Hilang lagi pendapatan kami,” ujar pengusaha angkutan truk Putra Lingga.

Kerusakan jalan bisa ditemukan di hampir seluruh ruas. Sebab, belum semua jalur tersebut dibeton. Banyaknya jalan yang bergelombang berisiko membuat pengendara roda dua terpeleset. Salah satunya di depan pom bensin Greges.

Jembatan Branjangan

– Terjadi penyempitan jalan dan jembatan.

– Warga tak mau rumahnya dibebaskan karena harga penawaran dari pemerintah dianggap rendah.

– Hingga kini uang pembebasan dari pemerintah belum dianggarkan.

– Truk sering mogok karena jembatan terlalu menanjak. Jika sudah begitu, akses Surabaya–Gresik macet.

– Sebagian jalan tidak memiliki saluran air. Saat hujan, jalan tergenang.

– Pembetonan jalan hanya separo lajur. Dampaknya, jalan aspal tetap bergelombang.

– Banyak logam berceceran. Ban motor sering bocor.

Jalan Greges

– Jalan ambles karena ada bekas galian PDAM.

– Penanganan sudah dilakukan, tetapi jalan ambles lagi.

– Ada saluran air, tetapi tidak berfungsi.

– Kondisi tanah tidak stabil. Akibatnya, jalan bergelombang.

– PJU sering mati.

– Banyak paku bertebaran. Kendaraan sering bocor.

Jalan Margomulyo

– Sering terjadi kemacetan di pertigaan Margomulyo.

– Itu adalah titik temu kendaraan dari arah Kalianak, Osowilangun, dan Margomulyo.

– Terdapat banyak lubang di jalan.

– PJU sering mati.

– Sering banjir.

– Sering terjadi kejahatan.

Jalan Kalianak

– Sudah ada betonisasi dan pelebaran.

– Truk keluar masuk dari depo kontainer. Akibatnya, terjadi kemacetan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : hen/sal/jar/c6/git



Close Ads