alexametrics
Diskusi Pilwali Surabaya dengan Mahasiswa (2)

Lebih Perlu Interaksi Langsung, Bukan Hanya Kampanye lewat Medsos

30 November 2019, 07:32:32 WIB

Para pengurus lembaga eksekutif mahasiswa memberikan gambaran mengenai bentuk sosialisasi yang bisa menyentuh para generasi muda.

BALIHO – baliho besar bergambar tokoh yang hendak maju dalam pilwali Surabaya ternyata sempat membuat ilfil Wakil Presiden BEM Unesa Diky Rudianto. Meski demikian, itu juga membuatnya penasaran dan bertanya-tanya ”Di satu sisi, orang ini bermodal sekali. Tapi, kalau mau rasional, kepemimpinan itu memang membutuhkan uang, ya nggak? Artinya, dia benar-benar bisa mengusahakan,” ujar Diky dalam diskusi terbatas tentang pilwali Surabaya di Graha Pena Jawa Pos pada Rabu (27/11).

Dalam diskusi tersebut, selain pengurus BEM dari Unesa, ada perwakilan dari UK Petra, Universitas Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan UIN Sunan Ampel (UINSA). Dalam diskusi itu, yang dibahas bukan hanya kriteria pemimpin pengganti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, melainkan juga persoalan perkotaan yang dihadapi para mahasiswa milenial tersebut. Mereka juga diminta mengupas model sosialisasi yang bisa menyentuh para milenial secara langsung dan masyarakat secara umum.

Gagasan mengenai bentuk sosialisasi dari mereka tidak hanya berkutat pada media sosial, melainkan juga catatan kritis bentuk sosialisasi yang telah hadir di tengah-tengah publik. Misalnya, baliho besar yang mendapatkan komentar dari Diky. ”Saya juga ketawa. Sebelum pilpres itu, ada banner besar calon wakil presiden. Lha presiden saja belum ada calonnya,” kata Diky, lantas tertawa.

Kepala Departemen Komunikasi BEM UK Petra Hilarius Bryan menuturkan, penggunaan media sosial dan digital perlu menjadi perhatian. Tetapi, tentu juga harus dicari semua media yang membuat visi, misi, dan program calon itu bisa diketahui publik secara luas. ”Biar kena semua ke masyarakat,” jelasnya.

M. Fachrul Fatih, pengurus senat mahasiswa Fakultas Psikologi UINSA, memberikan catatan yang tak kalah penting untuk para calon. Mereka harus ikut berinteraksi dengan para konstituen secara intens. Misalnya, terlibat membuat kegiatan atau acara secara langsung. ”Bukan sekadar datang, lalu memberikan ceramah. Tapi, ikut terjun dalam kegiatan milenial,” ungkapnya.

Wakil Ketua BEM UINSA M. Riswan Efendi mengungkapkan, pemetaan kelompok masyarakat yang tepat juga penting. Ada yang apatis hingga partisipan. Termasuk pula rentang usia para pemilih. ”Usia juga jadi patokan ketika berhadapan dengan pemilih pemula,” tuturnya. (*/habis)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : jun/c20/tia


Close Ads