Melahirkan di Penjara Tak Dibawa ke RS, Ini Alasan Kepala Rutan

30 September 2022, 16:39:00 WIB

JawaPos.com–Pada 21 September, AV, salah satu warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Rutan (Rumah Tahanan) Perempuan Surabaya di Porong Sidoarjo melahirkan anak kelima. Saat melahirkan, AV masih menjadi napi di lapas.

Saat proses kelahiran, AV hanya ditangani di puskesmas. AV dibawa saat sudah bukaan empat. AV tak bisa ditangani di rumah sakit.

Amiek Diyah Ambarwati, Kepala Rutan Perempuan Surabaya mengatakan, bukan berarti AV tak bisa ditangani di rumah sakit. Namun karena memang Rutan Perempuan Surabaya hanya bekerja sama dengan Puskesmas Porong.

”Berdasar arahan Ibu Gubernur Jawa Timur (Khofifah Indar Parawansa), fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan rutan adalah RSUD Soetomo dan puskesmas setempat,” kata Amiek saat ditemui, Jumat (30/9).

Amiek menjelaskan, AV juga telah ditangani secara rutin dan baik di Poliklinik. Fasilitas kesehatan itu berada di dalam rutan.

”Jadi sudah ditangani dalam poliklinik dulu, lalu dibawa ke puskesmas,” terang Amiek.

AV, lanjut Amiek, mendapatkan perawatan di puskesmas. Proses kelahiran juga dibantu dokter dan tenaga kesehatan.

Lantas, mengapa proses kelahiran tidak dilakukan di RSUD Soetomo? Amiek mengatakan kondisi AV cukup baik dan stabil.

”Untuk ke RS itu kan butuh surat rujukan ya. Nah, berdasar pemeriksaan, kondisi AV cukup baik dan bisa ditangani di puskesmas,” ungkap Amiek.

Atas dasar itu, AV tak dibawa ke RSUD Soetomo. Jarak yang cukup jauh juga menjadi salah satu pertimbangan. Rutan Perempuan Surabaya berada di Porong, Sidoarjo. Sementara RSUD Soetomo berada di pusat Kota Surabaya.

Menurut Amiek, AV mendapatkan perawatan yang sesuai dan baik untuk standar ibu hamil. Sebab, selama kehamilan AV mendekati HPL (hari perkiraan lahir), Amiek menyiagakan bidan selama 24 jam.

”Saya minta bidan poliklinik buka shift malam. Jadi tujuannya ada yang memantau kondisi AV 24 jam,” klaim Amiek.

Saat ditemui, AV mengatakan hal serupa. Dia sempat mengalami kontraksi palsu seminggu sebelum kelahiran.

”Ceritanya pas sudah malam. Terus perut saya sakit. Saya lalu minta tolong bidan untuk diperiksa,” ujar AV sambil menggendong putranya, MK, yang masih berusia 7 hari.

Bidan yang memeriksa kemudian menanyakan beberapa hal yang biasa terjadi ketika kelahiran akan segera tiba. Namun, AV tidak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.

”Ternyata kontraksi palsu. Jadi dirawat lagi seperti biasa. Bahkan saya juga diminta untuk banyak jalan kaki supaya pembukaan dan kelahiran normal,” ungkap AV.

Ketika akan melahirkan, dia pun meyakinkan diri kembali. Sehingga ketika bidan datang, AV dipastikan telah mengalami pembukaan empat.

”Langsung dibawa ke puskesmas. Melahirkan di sana,” tutur AV.

Sejak ditahan aparat penegak hukum pada 17 April 2022, perempuan asal Wonokromo, Surabaya, itu masih harus menjalani sisa masa penahanan. Menurut Sistem Database Pemasyarakatan, dia baru bisa bebas pada 17 April 2023.

Sebelumnya, dia divonis 12 bulan mengikuti pembinaan di lapas/rutan karena kasus penipuan jual beli 700 karton minyak goreng.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Rafika Rachma Maulidini

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads