Pesan Terakhir Guru di Gresik Berpulang Usai Melahirkan Bayi Pertama

30 Juni 2022, 13:02:58 WIB

JawaPos.com- Mendung duka tengah memayungi keluarga besar SMA Muhammadiyah 10 (SMAMIO) Gresik Kota Baru (GKB) 2, Gresik. Salah seorang guru muda terbaiknya telah berpulang, Selasa (27/6). Yakni, Santi Puspitasari. Guru alumnus Fisika ITS itu meninggal dunia saat melahirkan anak pertamanya di salah satu RS di Sumenep, Madura.

Rusdiah, salah satu wakasek SMAMIO, kepada Jawa Pos membenarkan kabar duka tersebut. ‘’Kami merasa sangat kehilangan. Almarhumah itu guru yang sangat kreatif dan berprestasi. Beliau itu humble. Termasuk guru favorit anak-anak. Beberapa kali mengantarkan anak-anak jadi juara bidang robotik,’’ katanya, Kamis (30/6).

Guru-guru SMAMIO masih ingat betul pesan terakhir yang disampaikan Santi sebelum berpulang. Melalui WhatsApp grup, almarhum yang masih berusia 28 tahun itu menuliskan pesannya sebagai berikut:

Assalamualaikum, teman dan rekan seperjuangan di tim PP, hari ini aku dijadwalkan untuk melakukan proses persalinan di RS. Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya jika ada kesalahan dan kekhilafan yang telah saya lakukan dan juga mohon kiriman doa untuk kelancaran persalinan anak pertama kami. See you soon guys

Mengutip PWMU online, Agung Yunizar, suami almarhumah menceritakan, istrinya adalah tipe pribadi yang menyenangkan. Tidak pernah menyakiti hati. Setiap pulang kerja, sang istri menyambut. Setelah itu, disiapkan teh panas, kemudian makan bersama. ’’Dari awal kita juga sudah berkomitmen untuk saling tolong menolong dalam pekerjaan rumah,” ungkapnya.

Memori itu yang membuat Agung saat ini memiliki perasaan takut pulang ke Gresik. Sebab, memori di Gresik itu hanya mereka berdua yang menjalani. Tidak ada sanak saudara lain. Agung berasal dari Surabaya. Adapun Santi berasal dari Sumenep. Pasutri ini tinggal di Perumahan Apsari, Cerme, Gresik. Berjarak sekitar 12 km ke SMAMIO.

Santi melahirkan anak secara caesa. Sebelum memutuskan operasi itu, cerita Agung, istrinya sebetulnya bermimpi ingin melahirkan bayi secara normal. Namun, karena sudah lewat dari hari perkiraan lahir (HPL), akhirnya diputuskan caesar. Jika tidak dilakukan, dikhawatirkan berbahaya. Karena itu, dokter mengecek semua. Mulai hemoglobin hingga saturasi. Syukurlah,  semuanya normal.

’’Sebelum operasi pun ia masih menyempatkan untuk salat tahajud bersama saya, hingga mengajak saya untuk khataman Alquran. Sampai pukul 07.00 pagi, kita masuk ruang operasi. Alhamdulillah proses persalinannya berjalan lancar,” ujar Agung.

Setelah itu, Santi sudah bisa menyusui sang jabang bayi. Namun, tidak lama, Santi merasakan perutnya sakit yang luar biasa. Setelah dicek dokter, ada perembesan darah di perut bagian dalam. Darah itu tidak bisa berhenti. Akhirnya, ditransfusi darah sampai 10 kantong.

’’Itu pun ditransfusi langsung keluar dari alat yang dilubangi di perutnya itu tadi, jadi kelihatan darah itu cuma ngalir lewat dan juga masih dalam keadaan nifas sehingga pendarahannya luar biasa,” papar Agung.

Kemudian, salah satu dokter menyampaikan ke Agung, pendarahan pada Santi itu mungkin bisa berhenti. Caranya, disuntikkan satu obat untuk dapat membekukan darah. Namun, obat itu harus diambil dari RSUD dr Soetomo Surabaya. Tentu, perjalanan ke Sumenep memakan waktu. Estimasi obat itu sampai di Sumenep pada pukul 02.00 WIB.

Pukul 01.00, Santi masih terus mengalami pendarahan yang hebat sampai kejang. Akhirnya, kondisi Santi drop. Saturasi turun, hemoglobin turun, detak jantung turun, nadi turun semuanya. Akhirnya, Santi mengembuskan nafas terakhirnya. ’’Meninggalkan saya, keluarga, dan putri kami tercinta. Mohon doanya. Semoga almarhumah husnul khotimah,” ungkap Agung.

Angka Kematian Ibu di Indonesia dan Jatim

Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), angka kematian ibu (AKI) pada 2020 di Indonesia mencapai 4.627 jiwa. Angka itu meningkat 8,92 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 4.198 jiwa. AKI adalah rasio dari kematian ibu selama kehamilan, persalinan dan nifas, yang disebabkan oleh komplikasi di setiap 100.000 kelahiran hidup.

Provinsi Jatim, berada di urutan tertinggi kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Pada 2020, jumlahnya 565 kasus, sedangkan Jawa Barat ada 745 kasus. Saat pandemi, angkanya dilaporkan mengalami kenaikan.

Di bawah Jawa Barat dan Jatim, sepuluh besar provinsi dengan jumlah AKI tertinggi adalah Jawa Tengah (530), Banten (242), Sumatera Utara (187), Aceh (173), Nusa Tenggara Timur (151), Sulawesi Selatan (133), dan Riau (129).

Menurut WHO, penyebab kematian ibu hamil yang paling sering adalah komplikasi yang terjadi saat kehamilan dan melahirkan. Beberapa komplikasi itu antara lain perdarahan hebat saat proses persalinan, infeksi saat kehamilan atau setelah persalinan, hipertensi dalam kehamilan yang mengarah ke preeklampsia dan eklampsia, komplikasi pada masa nifas, adanya penyakit lain yang mendasari, seperti diabetes dan penyakit jantung.

Selain hal itu, ada pula beberapa faktor lain yang turut berperan menjadi penyebab kematian ibu hamil seperti kehamilan di bawah umur, jarak kehamilan yang terlalu dekat, tidak adanya pemeriksaan kehamilan dan perawatan masa nifas, kurangnya tenaga medis, dan tidak ditangani di fasilitas kesehatan yang memadai, kurangnya pendidikan seputar kesehatan reproduksi, tidak adanya sistem transportasi yang baik, kurangnya peran serta masyarakat dalam meningkatkan kesehatan ibu, biasanya terkait dengan budaya dan kultur setempat.

Di Indonesia, perdarahan merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi saat persalinan. Meski demikian, kondisi ini juga bisa terjadi selama kehamilan dan merupakan suatu kondisi gawat darurat.

Perdarahan setelah proses persalinan terjadi akibat tidak adanya kontraksi rahim (atonia uteri), robekan jalan lahir, gangguan pembekuan darah, maupun adanya sisa jaringan di dalam rahim. Sementara itu, perdarahan saat kehamilan biasanya terjadi akibat plasenta previa. Yakni, kondisi kelainan letak plasenta, yang ditandai dengan perlekatan plasenta di bagian bawah rahim sehingga menutupi jalan lahir.

Dalam beberapa kesempatan, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, persoalan AKI dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Jatim memang menjadi salah satu yang menjadi perhatiannya, selain persoalan stunting.

Editor : M. Sholahuddin

Saksikan video menarik berikut ini: