alexametrics

Pertokoan Lain Tetap Buka, Manajemen Anggap Penutupan PGS Tidak Adil

29 April 2020, 16:59:46 WIB

JawaPos.com – Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat Pusat Grosir Surabaya (PGS), Bubutan, kembali ditutup selama 14 hari. Yakni, mulai Selasa (28/4) hingga Sabtu (11/5). Seluruh pedagang merasa sangat dirugikan dengan keputusan tersebut.

Sebab, mereka (pedagang) tak bisa lagi berjualan. Meski begitu, mereka tak kuasa menolaknya. Penutupan pun tetap dilakukan. Hanya, para pedagang menilai Pemkot Surabaya pilih kasih dalam mengambil keputusan. Sebab, penutupan hanya berlaku di PGS. Sementara itu, pusat perbelanjaan lain tidak ditutup. Pasar Kapasan, misalnya.

Manajer Operasional PGS Dedy Prasetyo menyatakan, sampai saat ini Pasar Kapasan masih beroperasi dengan normal. Tidak ada penutupan. Padahal, kondisi yang terjadi di Pasar Kapasan dengan PGS tidak jauh berbeda. Mayoritas pedagang berjualan tekstil. Kondisi pasar pun sangat ramai sehingga rentan terjadi kerumunan orang.

Karena itu, untuk menyukseskan PSBB serta memutuskan mata rantai Covid-19, seharusnya Pasar Kapasan juga ditutup. ”Jadi, jangan hanya PGS yang ditutup. Sedangkan yang lainnya (mal dan pasar, Red) sampai saat ini masih buka. Kalau mau adil, ya ditutup semuanya,” kata Dedy Prasetyo kemarin (28/4).

Terkait dengan hal tersebut, dia menjelaskan bahwa koordinasi terhadap pemerintah melalui Dinas Perdagangan (Disperindag) Surabaya telah dilakukan. Dia ingin mengetahui apakah penghentian operasional diberlakukan di pusat perbelanjaan lainnya. ”Sudah kami tanyakan, kenapa hanya PGS yang ditutup. Dan disperindag belum bisa memberikan jawaban pasti,” ucap dia.

Sikap tidak adil yang dilakukan disperindag dapat menimbulkan kecemburuan sosial terhadap para pedagang. Pihaknya khawatir seluruh pedagang mendesak untuk kembali membuka PGS. Jika itu terjadi, mau tidak mau PGS kembali dibuka sebelum waktu yang ditentukan. ”Kami lihat tiga hari ke depan. Bagaimana sikap pemerintah. Kalau tidak ada perubahan, kami akan mengambil keputusan baru. Apakah dibuka atau tetap ditutup. Tapi, kemungkinan untuk dibuka kembali dalam waktu cepat, bisa saja terjadi,” ujarnya.

Dia mengakui, kembali ditutupnya PGS pasti sangat merugikan pedagang setempat. Selama penutupan berlangsung, mereka tidak bisa berjualan. Karena itu, guna meringankan beban mereka, pihaknya memberikan keringanan biaya operasional terhadap para pedagang. Di antaranya, biaya keamanan, kebersihan, air, dan listrik.

Namun, pihaknya belum bisa memastikan berapa besarannya. ”Belum bisa kami putusan keringanan yang diberikan terhadap pedagang. Sebab, saat ini masih kami rapatkan terhadap seluruh pengurus,” ujarnya.

Kepala Dinas Perdagangan (Disperindag) Surabaya Wiwik Widayanti menyatakan, PGS kembali ditutup atas dasar penerapan Peraturan Wali Kota (Perwali) Surabaya Nomor 16 Tahun 2020. Yakni, terkait dengan protokoler pelaksanaan PSBB dan percepatan penanganan Covid-19. Oleh karena itu, PGS terpaksa kembali ditutup.

Namun, ketika ditanya apakah Perwali Nomor 16 Tahun 2020 itu akan diberlakukan di pusat perbelanjaan lainnya, Wiwik belum bisa menjawab. Dia beralasan saat ini tengah melakukan pengecekan ke lapangan. ”Kami belum bisa memastikan apakah ada lagi yang ditutup seperti PGS. Kini kami lagi fokus monitoring terhadap mal dan pasar-pasar,” katanya singkat.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ian/c12/any

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads