alexametrics

Hasil Evaluasi PSBB Surabaya Raya, Pengusaha Harus Terapkan WFH

29 April 2020, 09:16:44 WIB

JawaPos.com – Hari pertama pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo kemarin (28/4) langsung dievaluasi. Salah satu hasilnya, Pemprov Jatim meminta para pengusaha mengatur jam kerja karyawan. Dengan begitu, kemacetan yang kemarin tampak di beberapa checkpoint tidak terulang.

Sesuai aturan PSBB, kalangan pengusaha memang diminta mengurangi jumlah karyawan yang masuk kantor. Pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah tidak perlu dikerjakan di kantor. Namun, konsep work from home (WFH) ternyata belum dilaksanakan semua pengusaha di Surabaya Raya. Indikasinya, kemacetan panjang terjadi di checkpoint bundaran Waru dan daerah perbatasan lain.

’’Tingkat kepadatan kendaraan di sana memang sangat tinggi,’’ kata Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Trunoyudo. Dia menjelaskan, PSBB mengharuskan para petugas memeriksa semua kendaraan yang hendak masuk Surabaya. Karena itu, lalu lintas terhambat.

Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono mengatakan sudah berkoordinasi dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Apindo akan meminta para pengusaha di Surabaya Raya untuk mengurangi jumlah karyawan yang ngantor. ’’Mereka (Apindo, Red) akan meminta diadakan pembagian jam kerja,’’ katanya.

Sebagian besar warga yang masuk Surabaya dan Sidoarjo adalah pekerja. Mereka tetap diperbolehkan masuk asal memenuhi protokol kesehatan dan membawa surat keterangan kerja.

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak memahami kekhawatiran masyarakat ketika muncul banyak kerumunan. ’’Karena itu, penumpukan (kemacetan, Red) yang terjadi hari pertama PSBB menjadi bahan evaluasi kami,’’ tegas dia.

Suasana kepadatan kendaraan pada hari pertama PSBB Surabaya Raya di perbatasan Sidoarjo menuju Surabaya, Jumat (28/4/2020). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Sementara itu, pantauan Jawa Pos, kemacetan terparah memang terjadi di bundaran Waru yang menjadi daerah perbatasan Surabaya–Sidoarjo. Kemacetan terjadi sejak pukul 06.10 sampai 09.00. Penumpukan kendaraan terjadi di dua arah, yakni Sidoarjo dan exit toll bundaran Waru. Banyaknya pengguna jalan membuat petugas kewalahan melakukan pemeriksaan.

Kadishub Surabaya Irvan Wahyudrajat menyatakan, dari 19 titik pos perbatasan di Surabaya, pos bundaran Waru menjadi fokus petugas. Sebab, di sana banyak kendaraan yang hendak masuk Surabaya. Terutama saat jam berangkat kerja. ’’Hari pertama memang berat,’’ katanya kemarin pagi (28/4).

Kendaraan didominasi roda dua. Menurut Irvan, masih banyak warga yang belum tahu adanya PSBB. Akibatnya, banyak kendaraan luar kota yang masuk Surabaya. Padahal, kendaraan yang diperkenankan masuk hanya yang berpelat nomor polisi (nopol) L dan W. Meski begitu, penindakan tetap dilakukan terhadap kendaraan bernopol L dan W yang pengendaranya tidak mengenakan masker.

Pengendara dari luar Surabaya harus memiliki surat keterangan kerja dari perusahaan. Itu pun akan dilihat apakah perusahaan tersebut sesuai dengan yang diizinkan beroperasi atau tidak. Jika tidak, polisi akan meminta pengendara putar balik.

Dari pemantauan di lapangan, ratusan pengendara harus putar balik karena melanggar. Sebagian besar adalah pengendara roda dua. Salah satunya adalah Faiz Riyadi. Motornya bernopol M. Dia juga tak memiliki surat keterangan dari perusahaan. ’’Saya gak tahu, tak pikir gak kayak gini,’’ keluhnya.

Hal yang sama terjadi di pos pantau Rungkut Menanggal. Bahkan, petugas sempat menghentikan bus mini yang penuh penumpang. ’’Jadi, nggak lagi diisi separo. Orangnya penuh di dalam,’’ ujar Camat Rungkut Yanu Mardianto.

Tindakan tegas juga diterapkan di pos perbatasan Suramadu. Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Gamis Setyaningrum menuturkan, kendaraan dari Madura yang tidak memenuhi aturan diharuskan putar balik.

Kondisi sedikit lengang tampak di pos perbatasan Osowilangun. Kanitlantas Polsek Benowo AKP Heri Iswanto mengungkapkan, kendaraan yang melintas menurun dari biasanya. Meski begitu, pihaknya tetap melakukan pemeriksaan ketat. Terutama terhadap kendaraan dari luar Surabaya dan Gresik.

Pelanggaran lain tampak di rumah makan, restoran, hingga warung kopi. Kemarin masih banyak yang melayani pembeli makan-minum di tempat. Padahal, sesuai aturan, semua tempat makan dan minum hanya diizinkan melayani take away atau dibawa pulang.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menyatakan, penumpukan kendaraan di bundaran Waru tersebut terjadi akibat belum tahunya masyarakat soal PSBB. Berdasar pemantauannya, kondisi serupa tampak di Suramadu dan daerah perbatasan lain.

Dia menegaskan, imbauan dan teguran diberlakukan hingga hari ketiga PSBB. Pada hari keempat, sanksi akan diterapkan. Luki berharap masyarakat Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo menaati peraturan PSBB. ’’Sosialisasi terus kami lakukan agar masyarakat patuh dan paham tentang PSBB,’’ tegasnya.

Di Sidoarjo, petugas masih menemukan pelanggaran di beberapa lokasi checkpoint. Misalnya, di pos polisi Waru. Jalan dibagi menjadi dua lajur. Lajur paling kiri dilewati kendaraan roda dua. Lajur kanan diperuntukkan roda empat. Sejak pukul 00.00, petugas menjaga akses utama tersebut.

Kemarin siang (28/4) sejumlah pengendara dihentikan petugas. Salah satunya Riana. Dia hendak pulang ke Sidoarjo. Namun, perempuan 40 tahun itu tidak mengenakan masker. Petugas pun memintanya mengenakan masker. Riana bergegas mengambil masker di sakunya. ’’Lupa pakai masker,’’ ucapnya.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan dan Kasatlantas Polresta Sidoarjo Kompol Eko Iskandar sempat memantau checkpoint Waru. Keduanya melihat alur pemeriksaan pengendara. Pengendara yang tidak memakai masker dihentikan. Suhu badan pengendara diperiksa. Setelah itu, diminta memakai masker. ’’Kami masih memberikan kelonggaran. Hari pertama warga diimbau memakai masker,’’ ucap Eko.

Di exit toll Sidoarjo, Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji melakukan pemantauan. Pengemudi kendaraan roda empat yang melintas diminta membuka kaca mobil. Tujuannya, petugas ingin melihat pengendara yang tidak mengenakan masker. Selain itu, memastikan mobil menerapkan physical distancing.

Sumardji menjelaskan, pihaknya sudah memantau 16 checkpoint. Hasilnya, mayoritas pengendara sudah mematuhi aturan. Pengendara patuh pada protokol kesehatan. Mengenakan masker ketika berkendara. ’’Buktinya, sejauh ini baru 10 masker yang diberikan kepada pengendara,’’ tuturnya.

Namun, dia mengakui, masih ada pengendara yang belum sadar. Misalnya, pengendara roda dua. Meski ada aturan dilarang berboncengan, tetap saja ditemukan pelanggaran. ’’Setelah kami cek, mereka satu keluarga,’’ paparnya.

Petugas juga menemukan mobil yang dipenuhi penumpang. Petugas memberikan imbauan. Sesuai aturan, saat PSBB kendaraan roda empat maksimal mengangkut 50 persen dari total kapasitas.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : aph/riq/omy/gal/ian/sam/c5/c7/oni

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads