alexametrics

Strategi SWK Hadapi Pandemi, Ubah Sentra Kuliner Jadi Pusat Oleh-Oleh

29 Januari 2022, 09:48:47 WIB

JawaPos.com – Kegiatan perekonomian dilonggarkan sejak Surabaya berstatus PPKM level 1 awal November 2021. Meski begitu, beberapa kegiatan ekonomi masyarakat belum tampak menggembirakan. Kondisi sulit dirasakan pedagang yang menempati sentra wisata kuliner (SWK).

Total ada 49 SWK yang tersebar di seluruh kecamatan di Surabaya. Setiap stan dikelola warga ber-KTP Surabaya. Bagi pengelola SWK, dampak pandemi masih terasa. Pengunjung sepi.

Mereka mengeluhkan pendapatan yang merosot. Salah satunya di SWK Sukomanunggal. Pengunjungnya tampak sepi. ’’Belum normal,’’ kata Nurul Inayah, 38, salah seorang pedagang.

Karena sepi, banyak pedagang yang menutup stan saat siang. Mereka baru buka sekitar pukul 16.00 hingga malam. Sebagian besar pun menjual kopi, kudapan, dan aneka minuman lainnya.

’’Malam saja yang agak ramai,’’ tutur ibu dua anak itu.

Ketua Paguyuban SWK Sukomanunggal Kartejo merasa heran dengan kondisi itu. Padahal, lokasinya cukup strategis karena berada di pinggir Jalan Raya Sukomanunggal. Para pedagang juga menjajakan produk yang beragam. Mulai aneka makanan Nusantara, minuman, hingga berbagai jenis kudapan. ’’Yang dijual beragam. Tapi, kebanyakan orang datang ke sini untuk ngopi saja,’’ ujarnya, lalu tertawa.

Keadaan yang tidak jauh berbeda dirasakan pedagang di SWK Krembangan. Ananto, 39, salah seorang pedagang, masih mengeluhkan kondisi stan yang sepi. Itu sangat berbeda dengan sebelum pandemi melanda Surabaya. ’’Sebelumnya ramai terus. Sekarang paling banyak lho sepuluh pengunjung sehari,’’ kata penjual kopi dan rujak cingur tersebut.

Meski begitu, lanjut dia, kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan saat Surabaya berstatus PPKM level 4 dan PPKM level 3. Saat itu pengunjung sampai kosong melompong karena ada pembatasan kegiatan masyarakat. ’’Mudah-mudahan ada peningkatan,’’ ujarnya.

SWK Pegirian di kawasan Ampel juga sepi. Pusat kuliner itu belum sepenuhnya tertata. Tidak banyak orang yang berkunjung ke sentra tersebut.

Kondisi sentra yang sepi dikeluhkan masyarakat. Sebab, saat malam tempat itu menjadi arena cangkruk. Bahkan, aksi nongkrong berkali-kali ditertibkan satpol PP karena dilakukan hingga larut malam.

Ketua Pokdarwis Ampel M. Khotib menjelaskan bahwa sepinya sentra disebabkan banyak hal. Letak posisinya keliru. ’’Lokasinya bukan di jalur peziarah,’’ kata Khotib.

Dia menambahkan, perlu berbagai upaya untuk menata sentra. Salah satunya bisa dilakukan dengan mengubah produk yang dijual di SWK. Menurut Khotib, SWK seharusnya bisa lebih diberdayakan. Tidak hanya menjual makanan ringan, tapi juga aksesori khas Ampel. ’’Istilahnya pusat oleh-oleh. Itu akan mendorong ramainya tempat usaha,’’ tuturnya.

Di luar itu, memang ada beberapa SWK yang mulai menggeliat. Salah satunya, SWK Jambangan. Pendapatan pedagang mulai meningkat selama PPKM level 1. ’’Ibaratnya kita sudah bisa senyum karena ada sedikit peningkatan,’’ ucap Ketua SWK Jambangan Tata Oetomo Putri.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : mar/hen/c7/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads