alexametrics

PSBB Surabaya Raya Berlaku Hari Ini, Semua Aktivitas Stop Pukul 21.00

28 April 2020, 09:14:03 WIB

JawaPos.com – Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo resmi berlaku mulai hari ini. Teknis pembatasan diserahkan kepada pemda masing-masing. Namun, ada beberapa kesamaan aturan. Salah satunya adalah berlakunya jam malam.

Di Surabaya, pelaksanaan PSBB sudah dipersiapkan matang. Checkpoint akan difokuskan di 17 pos perbatasan. Masing-masing dilengkapi dengan peralatan sterilisasi.

Mulai semprotan berisi cairan disinfektan, pengecek suhu tubuh, hingga bilik sterilisasi. Di tiap pos juga ada petugas yang berjaga sepanjang hari. ”Kurang lebih kami siapkan seribu petugas saat PSBB. Dari berbagai dinas,” ungkap Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Surabaya Eddy Christijanto kemarin (27/4).

Hari ini (28/4) dan besok (29/4) disepakati untuk menyampaikan imbauan terlebih dahulu kepada warga agar taat PSBB. Kesepakatan tersebut telah dibicarakan dengan Pemkab Sidoarjo dan Pemkab Gresik. Sedangkan lusa dan hari keempat akan ada penindakan tegas. ”Saat rapat dengan Kapolda kemarin (kemarin lusa, Red) hari pertama dan kedua itu kita lebih mengarah kepada imbauan,” ungkap dia.

Yang menjadi salah satu perhatian utama adalah pembatasan kegiatan pada malam hari alias jam malam, yakni mulai pukul 21.00 hingga 04.00. Bakal ada tim gabungan yang patroli keliling untuk mengimbau masyarakat tidak berkeliaran saat malam. Bila ada toko atau kafe yang buka melebihi jam tersebut, mereka akan diminta tutup.

Para pengendara yang masih melintas pada malam hari juga akan diminta pulang atau kembali ke asalnya. Pemkot sudah bekerja sama dengan kepolisian yang membuat pos Operasi Ketupat Covid-19. Pos-pos tersebut didirikan di perempatan atau lokasi strategis lain yang dekat dengan jalan raya. ”Yang kita aktifkan untuk memantau pengendara itu. Dan polisi menambah beberapa pos pantau lagi yang memang dipergunakan untuk pemantauan itu,” ungkap Eddy.

Kepala Bagian Pemerintahan dan Otonomi Daerah Kota Surabaya Kanti Budiarti menambahkan, di tingkat perkampungan juga akan ada imbauan-imbauan terkait jam malam tersebut. Petugas dari kecamatan sudah diminta sosialisasi ke tempat usaha yang biasanya buka sampai larut malam. Mereka diminta untuk tutup maksimal pukul 21.00. ”Di perkampungan juga sudah banyak yang membatasi akses keluar masuk. Itu bisa turut membantu untuk meminimalisasi persebaran Covid-19. Sekaligus mengaktifkan kembali pos ronda,” ujar Kanti.

Jam malam juga diberlakukan di Sidoarjo. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) drg Syaf Satriawarman menjelaskan, sistem PSBB saat ini masih memberikan kelonggaran. Contohnya, warga masih bisa beraktivitas sebelum pukul 21.00. ”Kalau PSBB diperpanjang, pembatasan jauh lebih ketat,” terangnya. Menurut Syaf, pemkab mengusung target PSBB. Yaitu, angka persebaran korona harus di bawah 30 persen. ”Artinya, jika di bawah 30 persen berhasil. Lebih dari itu, PSBB gagal,” jelasnya.

Selama PSBB, pemkab bakal melakukan evaluasi. Tingkat persebaran Covid-19 dipantau setiap hari. Di akhir masa pembatasan, evaluasi digelar untuk melihat tingkat keberhasilan PSBB. Syaf mengatakan, ada dua kemungkinan hasil akhir. Yakni, PSBB berakhir atau diperpanjang. Jika berakhir, jam malam dicabut. Pemeriksaan di setiap batas kota tidak seketat saat PSBB. Namun, jika diperpanjang, PSBB bakal diperketat lagi.

Dalam sosialisasi kemarin, Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji mengatakan, aturan PSBB harus ditegakkan. Seluruh personel Polri serta TNI akan menjalankan regulasi sesuai ketentuan. Namun, dalam penerapannya, petugas diminta bersikap humanis. Misalnya, saat memeriksa kendaraan di batas kota. Pengendara yang tidak mengenakan masker harus diminta putar balik. ”Petugas juga harus memberikan pemahaman kepada warga tentang PSBB,” jelasnya. Minimarket dan swalayan tetap buka seperti biasa. Namun, harus mematuhi aturan operasional. Yakni, selepas pukul 21.00 harus tutup.

Warga kota lain yang bekerja di Sidoarjo tetap bisa beraktivitas. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan kalangan industri. Pabrik diminta membuat surat pernyataan. ”Keluar masuk pekerja menunjukkan surat tugas itu,” ucapnya. Menurut Sumardji, PSBB hanya bertujuan membatasi. Bukan pelarangan. ”Perekonomian harus tetap berjalan,” ucapnya.

Selain itu, kebutuhan pangan bakal dicukupi. Pemkab, Polresta, serta Kodim 0816 Sidoarjo sepakat mendirikan dapur umum di Mapolresta Sidoarjo. Setiap hari 6 ribu nasi bungkus dikirim. Bantuan itu diberikan kepada gugus desa. ”Gugus desa yang mengirimkan nasi bungkus ke warga terdampak,” jelasnya.

Dandim 0816 Sidoarjo Letkol Inf M. Iswan Nusi mengatakan, pembagian nasi bungkus itu dilakukan setiap hari. Sore menjelang berbuka dan pagi menjelang sahur. ”Seluruh penerima sudah terdata,” jelasnya.

Pada bagian lain, Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono menyatakan, ada bantuan anggaran untuk penanganan virus korona. Anggaran tersebut diserahkan kepada Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. ”Penggunaannya diatur daerah,” ujarnya.

Pemprov Jatim bersama Polri dan TNI juga menyiapkan dapur umum. Tadi malam dapur umum sudah didirikan di beberapa titik. Salah satunya di area Makodam V/Brawijaya. Dapur umum tersebut dibangun untuk menyuplai logistik masyarakat di pelosok.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyatakan, penerapan PSBB harus terukur. Targetnya harus tercapai. Antara lain penurunan kasus Covid-19 dan pencegahan munculnya klaster baru. ”Kami semua berjuang untuk itu,” ucapnya.

Tadi malam pemprov bersama forkopimda menggelar rapat persiapan akhir.Pada rapat tersebut kesiapan penerapan PSBB dicek. Semua menyatakan siap. Titik checkpoint maupun regulasi PSBB juga sudah selesai. Tinggal pelaksanaan.

Sementara itu, seorang dokter di RSUD dr M. Soewandhie, Surabaya, meninggal sekitar pukul 20.00 tadi malam. Tiga pekan lalu, dokter yang bernama Berkatnu Indrawan Janguk itu merawat pasien positif Covid-19. Sayang, pasien asal Pemalang tersebut semula tak memberikan informasi dengan lengkap tentang riwayat sakitnya. Akibatnya, dokter Berkatnu tertular dan diisolasi.

Namun, pekan lalu tes swab menunjukkan hasil negatif. ’’Sudah tiga kali tes swab dan hasilnya negatif. Kondisi beliau sebenarnya sempat membaik,’’ kata Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara. Diduga, almarhum meninggal karena mengalami pembengkakan jantung. Menurut dia, almarhum juga punya riwayat asma. Meski demikian, pemakaman tetap menggunakan protap Covid-19.

Febri juga mengomentari pasien yang tak jujur hingga menulari dokter Berkatnu. ’’Kejadian ini harus menjadi pelajaran yang sangat berharga. Pasien jangan sampai tidak jujur dengan kondisinya. Dan jangan malu menceritakan kondisi penyakitnya. Kalau seperti ini, tenaga medis yang terkena imbasnya,’’ tegas Febri.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : jun/riq/aph/c10/c9/c5/c7/oni

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads