Beda Holywings di Jakarta, Beda Nikah Manusia dan Kambing di Gresik

27 Juni 2022, 07:23:06 WIB

JawaPos.com- Kasus pernikahan manusia dan kambing di Desa Jogodalu, Kecamatan Benjeng, Gresik, sudah berjalan 20 hari lalu. Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ormas Islam, dan Kemenag Gresik, sudah menyikapinya. Meski para pelaku menyebut hanya sebatas konten, namun ritual itu sudah termasuk penistaan agama.

Toh, polisi belum menetapkan nama tersangka dalam kasus tersebut. Sejauh ini, Polres Gresik baru berkirim surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Gresik pada pekan lalu. Boleh jadi karena menilai lambat, netizen pun membandingkannya dengan pengusutan kasus Holywings.

Unggahan Choirul Anam di Facebook, misalnya. Dia menulis: Sama-sama pasal yang dilanggar, sama-sama viralnya, sama-sama institusi yang menanganinya, sama-sama Indonesianya. Di sana cepat, di sini kok lambat. Apa beda status pelakunya? Di sana para pemabuk, di sini anggota DPR dan orang-orang agamis? Hayo kenapa dan ada apa hayo…??

Di tulisan yang diunggah Minggu (26/6), Anam juga menyertakan sebuah link berita berjudul: 6 Pegawai Holywings yang Jadi Tersangka Penistaan Agama Terancam 10 Tahun.     

Dalam kasus Holywings di wilayah Jakarta, hanya dalam waktu beberapa hari saja, Polda Metro Jakarta Selatan telah menetapkan sejumlah tersangka. Bahkan, langsung menahannya. Adapun perkembangan kasus ritual manusia dan kambing, Polres Gresik mengaku masih menunggu keterangan dari saksi ahli.

’’Kami pastikan proses penyidikan terus berlanjut. Kami sudah meminta keterangan saksi ahli terkait ITE, nanti kita jadwalkan juga meminta keterangan saksi ahli dari MUI terkait penistaan agamanya,’’ kata Kapolres Gresik AKBP Mochamad Nur Azis.

Pada proses pengumpulan keterangan saksi, penyidik juga mengaku belum mendapat keterangan dari Nurhudi Didin Arianto. Keterangannya diperlukan lantaran Pesanggrahan Keramat Ki Ageng di Desa Jogodalu itu adalah milik anggota DPRD Gresik asal Nasdem tersebut. Sebetulnya, polisi sudah mengundang mantan kepala Desa Metatu, Benjeng, itu. Namun, dua kali panggilan sebagai saksi belum didatangi alias mangkir.

Pasca keterangan dan berkas yang dibutuhkan dirasa lengkap, pihak kepolisian akan segera melakukan gelar perkara dilanjutkan penetapan tersangka. Azis juga meminta masyarakat bersabar atas kelanjutan kasus yang menghebohkan tersebut. ’’Yang pasti proses hukum terus berjalan. Juga akan ada berapa yang ditetapkan tersangka, kita lihat nanti hasil penyidikannya,” tandasnya.

 Sidang Lanjutan Badan Kehormatan

Sementara itu, sidang etik kasus pernikahan nyeleneh yang menyeret nama dua anggota dewan itu kembali berjalan. Sabtu (25/6), Badan Kehormatan (BK) DPRD Gresik telah mengundang Aliansi Masyarakat Peduli Gresik (AMPG). Mereka didengar kesaksiannya sebagai pengadu.

Menurut Umi Khulsum, perwakilan dari AMPG, pihaknya telah memberikan keterangan. “Materi pengaduan yang dibuat AMPG cukup lengkap. Karena sudah memuat semua syarat-syarat yang diminta,” paparnya.

Meski demikian, pihaknya berjanji masih akan menambahkan bukti-bukti baru. ’’Prosesi pernikahan domba dan manusia itu termasuk perbuatan yang tidak elok dan melanggar hukum,’’ ujar Umi.

Umi mengungkapkan, kalau ritual itu disebut konten adalah konten yang tidak mendidik. Bahkan, cenderung merusak mental generasi muda dan bisa menimbulkan disorientasi seksual.

Semestinya, lanjut dia, sebagai anggota legislatif yang notabene wakil rakyat, ketika mengetahui itu harus mencegahnya. Namun, dari bukti-bukti yang ada, oknum dewan itu secara nyata sebagai pengundang, pemilik tempat, dan terlibat aktif dalam prosesi pernikahan manusia dan kambing.

‘’Satu oknum dewan lainnya, ikut menghadiri sebuah kegiatan itu dan memberikan ucapan selamat,” jelasnya.

Wakil Ketua DPRD Gresik Mujid Riduan mengatakan, pada awal sidang ini pihaknya hanya mendengar keterangan pengadu sesuai surat yang dikirim ke BK. “Sekaligus kami memberi kesempatan, jika ada tambahan bukti-bukti baru. Selanjutnya, paling lambat 14 hari akan memanggil pihak teradu untuk menyampaikan sanggahan,” tandas Mujid.

Editor : M. Sholahuddin

Reporter : Ludry Prayoga

Saksikan video menarik berikut ini: