alexametrics

Pilwali Surabaya Gunakan Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap)

Hanya Mempermudah Rekapitulasi, Bukan Acuan
26 Oktober 2020, 19:24:15 WIB

JawaPos.com – KPU Kota Surabaya siap menerapkan Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) dalam Pilwali Surabaya 2020. Sirekap adalah aplikasi untuk penghitungan rekapitulasi suara secara elektronik. Meski begitu, data hasil Sirekap tidak menjadi acuan resmi dalam rekapitulasi perolehan suara secara berjenjang.

Komisioner Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Surabaya Soeprayitno menyampaikan, Sirekap hanya instrumen untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan informasi kepada publik. Juga mengurangi tingkat kesalahan, mempersingkat waktu, dan menjaga kemurnian hasil pemungutan suara.

”Sirekap sebagai informasi awal. Hasil resmi pemilihan tetap berbasis rekapitulasi penghitungan suara manual secara berjenjang,” kata Soeprayitno kepada Jawa Pos kemarin (25/10).

Disampaikan, KPU Surabaya sudah melakukan uji coba pada Sabtu (24/10). Uji coba dilakukan serentak oleh seluruh KPU yang menggelar pilkada. Mereka juga mencoba sistem Sirekap. ”Caranya cukup simpel,” ujarnya.

Yang pertama dilakukan adalah mengunduh aplikasi Sirekap melalui Play Store di HP Android. Tahapan itu akan dilakukan kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) di 5.184 tempat pemungutan suara (TPS). Langkah pertama, KPPS harus mengisi formulir C.Hasil-KWK.

Formulir C.Hasil-KWK berisi data perolehan suara masing-masing pasangan calon. Juga jumlah suara sah, jumlah suara tidak sah, jumlah pengguna hak pilih, dan informasi terkait jumlah surat suara yang dipakai dan tidak digunakan. Formulir C.Hasil-KWK juga berisi data jumlah pemilih di TPS, pengguna hak pilih, data pemilih disabilitas, serta data penggunaan surat suara.

Nah, formulir tersebut kemudian difoto melalui fitur foto yang tersedia di aplikasi Sirekap. Soeprayitno menjelaskan, KPPS harus memastikan bahwa foto-foto tersebut dapat terlihat dengan jelas di layar foto HP. Itu bertujuan agar tidak terjadi kesalahan angka dalam foto yang dikonversi. Setelah itu, hasil foto dokumen tersebut dikonversi menjadi data digital melalui aplikasi itu. Foto lantas dikirim dalam bentuk QR code yang terkoneksi langsung dengan jaringan KPU RI.

Sirekap dirancang dengan menggunakan teknologi optical character recognition (OCR) dan optical mark recognition (OMR). Teknologi itu dapat mengubah objek tulisan angka dan tanda dalam gambar menjadi karakter angka.

KPU Surabaya optimistis Sirekap bisa berjalan lancar. Sebab, sebagian besar petugas KPPS sudah biasa mengakses media sosial dan melek teknologi. Namun untuk memastikan hal itu, dalam waktu dekat KPU akan mengadakan bimbingan teknis kepada seluruh petugas KPPS. ”Ini untuk memastikan semua petugas di TPS siap,” imbuh Nano, sapaan karib Soeprayitno.

Sirekap hampir serupa dengan Sistem Informasi Penghitungan (Situng) dalam Pemilu 2019. Bedanya, dalam Situng, petugas TPS wajib memindai formulir hasil pemungutan suara. Dokumen hasil pindai itu kemudian diunggah petugas pemilu di kecamatan atau kabupaten/kota untuk dikonversi petugas IT KPU RI menjadi data digital.

Komisioner Bawaslu Surabaya Hidayat mengingatkan agar KPU Surabaya cermat dalam menerapkan Sirekap. Salah satu yang dikhawatirkan adalah kapasitas SDM petugas KPPS. ”Tenaga KPPS harus disiapkan betul. Jika tidak siap, justru bisa jadi persoalan sendiri,” imbuh Hidayat.

TENTANG SIREKAP

  • Aplikasi yang mempermudah rekapitulasi hasil penghitungan suara di TPS.
  • Petugas KPPS yang telah mengunduh tinggal memfoto formulir rekapitulasi.
  • Aplikasi akan mengolah data gambar ke data angka.
  • Sirekap sedikit berbeda dengan Situng. Situng masih memasukkan data secara manual. Dalam Sirekap, data angka otomatis terpindai dari foto bila telah sesuai.
  • KPU Surabaya sudah menguji coba Sirekap pada Sabtu lalu dan siap dipergunakan pada coblosan 9 Desember.

Sumber: Diolah

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : mar/c6/jun



Close Ads