alexametrics

Jangan Sampai Timbul Klaster Sekolah di Surabaya

26 September 2021, 12:12:38 WIB

JawaPos.com – Pembelajaran tatap muka (PTM) di sebagian sekolah telah berlangsung tiga pekan. Sejak dibuka 6 September lalu, Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya sangat berhati-hati. Selalu mewanti-wanti pihak sekolah untuk menjalankan protokol kesehatan (prokes) secara ketat dan disiplin. Tujuannya, jangan sampai sekolah menjadi klaster baru persebaran Covid-19.

Kadispendik Surabaya Supomo menyampaikan, pelaksanaan prokes menjadi perhatian utama. Tim satgas mandiri sekolah dan kepala sekolah diminta selalu memantau dan mengamati siapa pun yang masuk ke area sekolah. Siswa dan guru harus dalam kondisi fit. Jika ada tanda-tanda yang bersangkutan tidak sehat, pihak sekolah wajib melakukan tindakan cepat dengan tidak beraktivitas di sekolah.

”Kalau guru, silakan mengajar online dari rumah. Kalau siswa, kami minta mengikuti pembelajaran daring dari rumahnya,’’ imbuh Supomo.

Dispendik juga meminta pihak sekolah untuk melakukan evaluasi harian. Mulai kondisi kesehatan warga sekolah, pelaksanaan prokes, hingga kelangsungan proses belajar-mengajar. Hasil evaluasi harian wajib dikirim ke Dispendik Surabaya.

Evaluasi harian disampaikan kepada para pakar kesehatan. Biasanya, dispendik juga menggelar rapat bersama pakar seminggu sekali untuk mengevaluasi pelaksanaan PTM. Bahkan, lanjut dia, sejumlah pakar juga datang langsung ke sekolah-sekolah untuk memantau perkembangan pelaksanaan PTM. ”Jika ada yang kurang, mereka bisa langsung menegur pihak sekolah atau disampaikan ke dispendik,’’ tuturnya.

Pelaksanaan PTM mendapat perhatian serius dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim. Jangan sampai memicu terjadinya klaster sekolah. Ketua IDAI Jatim dr Sjamsul Arief MARS SpA(K) prihatin dengan timbulnya klaster baru di sejumlah daerah. ”Ini sudah kami khawatirkan sebelumnya. Jangan sampai ada temuan di Surabaya,’’ imbuh dr Sjamsul.

Menurut dia, Pemkot Surabaya harus melakukan langkah mitigasi yang cepat. Jangan sampai fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dipenuhi oleh anak-anak yang terpapar virus SARS-CoV-2. ”Apalagi kami sejak awal belum berani merekomendasikan PTM. Tapi karena PTM sudah terlaksana, harus ada langkah antisipasi,’’ tegasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : mar/c6/ady

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads