alexametrics

Physical Distancing Tak Optimal, Pasien Positif di Sidoarjo 533 Orang

26 Mei 2020, 14:57:53 WIB

JawaPos.com ‒ Penularan virus korona jenis baru (Covid-19) di Sidoarjo semakin meluas. Hingga Senin (25/5), sebanyak 533 warga Kota Delta terinfeksi virus yang vaksinnya belum ditemukan tersebut. Uji cepat (rapid test) terus digencarkan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo aktif melaksanakan tes cepat di beberapa tempat. Terutama daerah yang rawan terjadi persebaran korona. Daerah yang terdapat banyak orang dalam pemantauan (ODP).

Salah satunya wilayah yang masuk zona merah sangat parah. Yakni, wilayah Waru. Terutama klaster S. Parman yang warganya tertular setelah mengikuti tahlilan di kampung. ’’Setelah Lebaran kami gencarkan rapid test lagi untuk warga yang belum,’’ kata Kepala Dinkes Sidoarjo drg Syaf Satriawarman SpPros.

Dari hasil rapid test itu, warga yang dinyatakan reaktif ditindaklanjuti dengan uji usap (swab test). Sebelum Hari Raya Idul Fitri, ada 70 orang dari Waru yang menjalani swab bersamaan. Mereka tersebar di berbagai rumah sakit rujukan. Namun, hingga kini belum semua warga mengetahui hasil swab mereka.

Pembatasan ketat di wilayah tersebut juga masih berjalan. Sebab, hingga kini penambahan kasus positif Covid-19 terus berjalan. ’’Warga belum menerapkan jaga jarak optimal. Physical distancing belum berhasil,’’ tegas Syaf.

Dinkes mengimbau warga untuk tetap mematuhi aturan jaga jarak. Yang tidak memiliki kebutuhan mendesak sebisanya berdiam diri di rumah. Juga, menerapkan pola hidup sehat agar tidak tertular virus.

Dengan begitu, jumlah kasus dapat berkurang. Hingga kini, masih banyak warga yang dirawat di rumah sakit. Pasien yang bisa pulang tidak terlalu banyak. Selama Idul Fitri hanya beberapa pasien yang bisa keluar dari rumah sakit.

Salah satu pasien positif Covid-19 yang bisa pulang saat Lebaran adalah bayi berusia 4 bulan. Bayi laki-laki yang dirawat di RSUD Sidoarjo itu sudah kembali ke keluarga. ’’Positif Covid-19 dan sudah sembuh,’’ ucap Direktur RSUD Sidoarjo dr Atok Irawan SpP.

Bayi tersebut merupakan pasien termuda yang dirawat di RSUD. Selama dirawat dia ditemani sang ibu. Waktu perawatan hanya sepekan. ’’Ibu bayi negatif Covid-19,’’ lanjut Atok.

Aturan Keluar Kampung Semakin Ketat

Terhitung sudah dua kali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan di Kota Delta. Anggarannya pun besar. Sayang, hasilnya masih jauh dari harapan. Covid-19 terus merebak. Sebagai solusinya, PSBB diperpanjang untuk kali ketiga.

PSBB jilid ketiga dimulai hari ini. Sama seperti PSBB pertama dan kedua, program itu berjalan 14 hari. Batas waktunya hingga 9 Juni mendatang. Sekilas, konsep PSBB periode ketiga sama seperti pendahulunya. Fokus utama membatasi kegiatan warga. Jam malam terus dilakukan. Tujuannya memutus mata rantai persebaran korona.

Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji menjelaskan, ada perbedaan konsep PSBB ketiga dengan PSBB pertama dan kedua. Pembedanya adalah aturan jauh lebih ketat. ’’Pembatasan dilakukan menyeluruh,’’ katanya.

Tak hanya di jalan-jalan utama dan jalan protokol, pembatasan aktivitas juga berlaku sejak di desa. ’’Mulai tingkat bawah harus ketat melakukan pengawasan,’’ ucapnya.

Petugas gugus tugas Covid-19 setiap hari diminta berkeliling memantau aktivitas warga. Penduduk yang keluar kampung harus mengantongi surat keterangan RT/RW. ’’Kalau warga kampung lain masuk dilarang,’’ tegasnya.

Selain itu, polresta menginisiatori pembentukan kampung tangguh. Konsepnya, seluruh kebutuhan warga dicukupi. Desa membagi tugas. Ada yang bertugas membeli bahan pokok. Ada yang bertugas membagikan makanan. Upaya itu menumbuhkan kepedulian sesama warga.

Salah satu contoh kampung tangguh ialah Desa Waru. Setelah banyak warga yang terpapar korona, desa ditutup total. Aktivitas warga diperketat. ’’Namun, kebutuhan pokok tetap dicukupi. Dengan adanya kampung tangguh,’’ jelasnya.

Perbedaan lain ialah pemkab bakal lebih tegas. Terutama terhadap warkop serta tempat yang memicu kerumunan warga. Misalnya kawasan Gading Fajar.

Kabid Ketenteraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Yani Setyawan menyatakan, kawasan Gading Fajar tetap dibatasi. PKL dilarang berjualan sejak sore hingga malam. ’’Kalau nekat kami tertibkan,’’ paparnya.

Anggota pol PP terus berkeliling. Memelototi warkop dan warung makan. Tempat usaha itu diminta tidak menyediakan layanan makan di tempat. ’’Selepas jam malam harus tutup,’’ tegasnya.

Sanksi PSBB ketiga ini bakal lebih tegas. Selain hukuman administratif, pelanggar disanksi sosial. Yaitu, membersihkan makam, jalan, serta membantu dapur umum. ’’Yang bandel harus ikut memakamkan jenazah Covid-19,’’ pungkas Yani.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : may/aph/c17/c15/roz

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads