alexametrics

Cerita Kampung-Kampung Zona Merah Surabaya Utara yang Menolak Menyerah

Saling Menguatkan karena Sama-Sama Kesepian
26 Mei 2020, 16:29:33 WIB

Pandemi Covid-19 mengusik kehidupan warga di sejumlah kampung Surabaya Utara. Ada yang sampai bedol desa dan dikarantina. Namun, mereka bertahan karena warga lain tidak mengucilkan. Bahkan, mereka rajin mengirim bantuan sekaligus pesan penyemangat.

Kesabaran Yayuk Sri Wahyuni benar-benar diuji pada Lebaran kali ini. Selain tidak bisa berkumpul dengan dua buah hatinya yang tidak mudik, perempuan yang menjabat ketua RT 4, RW 1, Kelurahan Asemrowo, itu harus berdiam diri di rumah untuk sementara waktu. Dia diwajibkan menjalani isolasi mandiri setelah hasil rapid test-nya dinyatakan reaktif.

Hasil tes tersebut diperoleh pada Rabu (13/5). Ada 54 orang di RT 4, termasuk Yayuk, yang hasilnya reaktif. Mereka pun harus bedol desa menjalani karantina di hotel secara bersama-sama. ’’Meski kasurnya empuk, kami tetap tidak nyaman,’’ kata Yayuk saat diwawancarai Jawa Pos via telepon kemarin (25/5).

Menurut dia, banyak warga yang stres selama karantina. Bukan masalah menu yang itu-itu saja. Namun, warga jenuh lantaran menjalani hidup monoton. Tidur, olahraga, lihat TV, tidur lagi, dan begitu seterusnya. Selama karantina, mereka tidak boleh meninggalkan kamar. Komunikasi lebih banyak dilakukan via telepon genggam. ’’Yang pasti kangen sama yang di rumah. Ada yang menangis ingin pulang,’’ ungkapnya.

Menurut Yayuk, banyak warga yang terpaksa meninggalkan anaknya yang masih kecil di rumah. ’’Yang susah, kami juga dikucilkan warga gang lain. Padahal, mereka tidak tahu permasalahannya secara jelas,’’ ujar Yayuk.

Untunglah, hasil evaluasi menunjukkan bahwa mereka sudah bisa menyelesaikan masa karantina sehari sebelum Lebaran. Namun, tetap saja mereka harus melanjutkan dengan isolasi mandiri di rumah.

Kesedihan dan kesepian tidak hanya dialami warga yang dikarantina. Masyarakat yang dinyatakan nonreaktif dan tinggal di rumah juga merasa kesepian. Sebab, kawasan RT 4 sudah seperti kampung mati. Tidak ada aktivitas sama sekali.

Yayuk mengungkapkan, hasil rapid test membawa dampak besar bagi masyarakatnya. Ada yang terancam di-PHK. Bahkan, ada yang dikucilkan dan tidak dilayani saat berbelanja ke pasar.

Meski begitu, musibah tersebut menguatkan warganya. Masyarakat makin kompak. Warga saling membantu selama isolasi. Mereka yang tidak ikut dikarantina menyuplai makanan untuk anggota keluarga warga yang harus menjalani isolasi mandiri. ’’Kami ingin bangkit dari musibah. Saya berupaya menyemangati warga,’’ tutur Yayuk.

Menurut dia, upaya saling memotivasi dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya, rutin berkomunikasi antarwarga via telepon atau WhatsApp. Warga membentuk satu grup khusus untuk berbagi pesan. Namanya Grup Touring Hotel X. Menurut dia, penyakit tidak lantas membuat warganya putus asa. Itulah pembelajaran penting untuk bangkit. ’’Dari grup itu, kami berusaha saling berbagi rezeki dan membantu terkait dengan masalah perekonomian,’’ tandas Yayuk.

Beri Hadiah untuk Kampung Bebas Korona

Gotong royong jadi senjata andalan kampung lawas Maspati untuk bertahan selama pandemi. Mereka punya lumbung pangan agar tidak ada warga yang kelaparan. Mereka yang punya rezeki berlebih menyumbangkan sembako yang kemudian dikumpulkan di ruang perpustakaan kampung yang diubah jadi lumbung pangan. Sembako lantas didistribusikan untuk mereka yang tidak mampu.

Ketua RW 6 Kampung Maspati Sabar Swastono menjelaskan, sejak Maret tidak ada satu pun warga lain, termasuk wisatawan yang masuk ke Kampung Maspati. Kondisi tersebut membuat perekonomian warga merosot tajam. ’’Dari memandu para wisatawan yang datang, dalam sebulan pemasukan ke RW bisa mencapai Rp 60 juta. Nah, penghasilan itu dibagi rata terhadap warga yang berperan aktif di sini (Kampung Maspati),’’ kata Sabar.

Karena semua itu hilang, warga harus putar otak untuk bertahan. Upaya lumbung pangan tersebut dirasa berhasil. Hingga kini, semua masyarakat di lingkungan kerjanya masih bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19. Tidak ada warga yang merasa kelaparan meski beberapa di antaranya telah kehilangan pekerjaan.

Sabar pun menerapkan sistem gotong royong pada kampung-kampung lainnya. Kompetisi kampung kreatif dan inovatif dalam penanggulangan Covid-19 digelar. Pihaknya mencari 10 kampung terbaik dalam hal memutus mata rantai virus korona. Uang Rp 5 juta akan diberikan pada setiap pemenang.

Kriterianya, selama Maret, April, Mei, dan Juni tidak ada warga kampung yang positif Covid-19. Warga juga bisa bermusyawarah mengenai distribusi bantuan dan penanggulangan persebaran virus korona. Lalu, warga mempunyai ide kreatif untuk pencegahan Covid-19. Misalnya, membuat penyemprot disinfektan otomatis atau penerapan prosedur tetap (protap) kesehatan.

Pemenang akan diberitahukan pada awal Juni. Pihaknya bekerja sama dengan Pelindo III. Kompetisi tersebut diadakan untuk mendorong masyarakat guna melakukan penanggulangan Covid-19. Khususnya masyarakat yang tinggal di perkampungan.

Pikirkan Kondisi Anak Terdampak Pandemi

”Masio PPI Zona Merah, awakdewe gaoleh nyerah,” begitu tulisan di spanduk yang ditempel di beberapa tembok di kawasan Pasar Gresik PPI. Kampung tersebut memang telah menjadi kawasan merah akibat Covid-19. Ada puluhan warganya yang terkonfirmasi positif. Bahkan, aktivitas pasar dan kampung PPI sempat ditutup sementara waktu.

Didik Purwanto, sekretaris RW IV, mengatakan, meskipun ketakutan masih menyelimuti warga, mereka berusaha untuk tetap hidup dan menghidupi. Karantina sementara memang berdampak di perekonomian warga. Namun, tidak menyurutkan semangat saling berbagi. ”Rutin secara swadaya saling bantu. Waktu karantina pertama ada donatur yang bantu warga,” ujarnya kemarin (25/5).

Tugas lain adalah memikirkan kondisi anak-anak di kampung PPI. Sebab, bagi dia, pendidikan untuk anak di kawasan itu penting. Dia tidak mau bila nanti anak berasal dari PPI mendapatkan perlakuan yang tidak enak karena berasal dari kampung zona merah. ”Kan ada juga yang orang tuanya meninggal. Nah, kami berharap dia harus tetap bisa sekolah. Bagaimanapun caranya,” ungkapnya.

Bersama pengurus lain, dia juga berupaya menciptakan langkah preventif. Yakni, membuat satgas penanggulangan Covid-19 khusus dari warga sendiri. Dia berharap nanti satgas Covid-19 itulah yang memantau jika ada warga yang reaktif, tapi tanpa gejala sehingga bisa langsung dikarantina mandiri di kampung. Sementara itu, yang reaktif dan terkonfirmasi positif dengan gejala dapat dirujuk ke RS. ”Nanti setiap RT ada tendanya dan warga juga ikut memantau. Ini biar warga nggak takut juga,” jelasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : hen/ian/zam/c25/c15/c14/any ian/c15/any

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads