alexametrics

Bairus Salim, Cetuskan Metode Hafalan Alquran Mudah untuk Dewasa

26 Januari 2020, 20:48:58 WIB

Belajar menghafal Alquran di usia dewasa kerap memunculkan masalah. Metode yang umum kebanyakan ditujukan untuk anak-anak. Padahal, orang dewasa yang rentan lupa juga butuh cara mudah agar cepat nyantol dengan hafalannya.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

KEINGINAN Bairus Salim untuk menjadi seorang hafiz atau penghafal Alquran pada 2015 menemui tembok tebal. Bairus tidak kunjung menemukan metode yang pas untuk dirinya yang sibuk. Begitu pula metode yang khusus disusun untuk orang-orang dewasa sepertinya.

Masalah itu pun membuatnya resah. Karena sudah niat, dia tidak patah arang. Bairus lantas mulai melakukan penelitian mengenai cara-cara yang kiranya mudah diterapkan pada orang dewasa yang juga niat menghafal Alquran.

Penelitiannya berbuah manis. Tidak hanya membuatnya mudah menghafal ayat-ayat Alquran. Dia juga menjadikan penelitian itu sebagai bahan disertasi untuk program doktoral pendidikan agama Islam yang sedang ditempuh.

Penelitiannya itu pun dipresentasikan pada Senin (20/1) di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Bairus berhasil meraih predikat cum laude. Said Aqil Husein Munawar, mantan menteri agama yang bertindak sebagai salah satu tim penguji, menyebut disertasi Bairus mengandung invensi alias temuan yang belum pernah ada atau mengandung unsur kebaruan ’’Karena yang meneliti metode menghafal Alquran memang sudah banyak, tapi memang kebanyakan untuk anak-anak, bukan dewasa,’’ tuturnya.

Lelaki kelahiran Pamekasan itu menyatakan diliputi semangat yang membara saat memikirkan dan menyusun penelitiannya. Sebab, dia bisa langsung melakukan studi kasus pada siswa-siswa tahfiz Griya Alqur’an. Di tempat itu, Bairus menjadi salah satu tim ahli research and development.

Dia mengungkapkan, selama ini metode yang sudah teruji terbatas pada level tahsin atau memperbaiki bacaan. Saat menginjak tahfiz, guru cenderung mengajar sesuai pengalaman masing-masing. Belum ada metode yang paten atau baku untuk diikuti. Hal itu meninggalkan beragam masalah. Mulai siswa yang tidak percaya diri dalam menyetor hafalan hingga banyak yang memutuskan drop out (DO) atau putus di tengah jalan lebih dini.

’’Siswa dewasa DO juga bisa jadi karena metode pengajarannya tidak sesuai dengan psikologi dan karakter mereka,’’ tambahnya.

Bairus menjelaskan, siswa tahfiz dewasa memiliki keragaman profesi. Mulai tukang ojek, polisi, dokter, sampai pensiunan. Termasuk keberagaman kemampuan dalam menghafal. Namun, hal itu justru bisa menjadi solusi.

Bairus pun lantas berusaha merancang metode tahfiz berdasar teori andragogi. Sebuah pendekatan pengajaran untuk segmen dewasa. Kata kunci metode hafalan itu terangkum dalam akronim ’’Sahabat Akrab’’.

Poin pertama yang digarisbawahi adalah salam. Sejak awal guru memosisikan diri sebagai teman yang mengenal siswanya luar dalam. Tujuannya, menciptakan suasana kelas yang friendship based learning atau pembelajaran berbasis kedekatan.

Kata kunci kedua adalah apersepsi. Yakni, persiapan mental dan fisik. Siswa harus dimotivasi dan dibangun untuk memiliki persepsi berpikir bahwa menghafal itu mudah dan berpahala.

Lantas, akronim ketiga merujuk pada poin utama, yakni hafalkan. ’’Nah, poin hafalannya tersebut terangkum dalam kata Akrab. Supaya mudah diingat, dipahami, lalu diterapkan,’’ jelas bapak tiga anak itu.

Kata Akrab sendiri dimulai dengan teknik amati. Siswa tahfiz diharuskan berusaha mengamati tata letak halaman. Ayat apa di sebelah mana dan terletak di halaman berapa. Bairus mengungkapkan, dalam psikologi, mengamati tata letak bisa membantu menyimpan memori jangka panjang di dalam otak.

Setelah itu berlanjut pada tahap kaji, yakni mengkaji bacaan dengan benar. Mulai makhroj, tajwid, sampai panjang pendek bacaan. Sebab, sekali salah dan berlangsung lama, bacaan lebih susah diperbaiki karena telanjur melekat dalam ingatan.

Poin selanjutnya secara berurutan adalah repetisi, asosiasi, dan baca. Setiap tahap itu membiasakan siswa untuk membaca berulang-ulang dan menyambungkan ayat per ayat.

Selain Salam Akrab, dalam metode hafalannya, Bairus mengajak siswa tahfiz untuk menerapkan baca dan simak secara berpasangan. Antarsiswa bisa saling setor dan menyimak hafalan. Kesalahan kecil harus ditegur agar tidak terbiasa. Tahap itu juga mengurangi rasa gugup dan kosong ingatan sebelum siswa menyetor hafalannya ke guru.

’’Siswa lantas diapresiasi, tidak dinilai seperti ujian yang bikin takut. Juga, dimotivasi supaya tetap belajar dan tidak mudah puas,’’ jelasnya.

Metode itu pun saat ini sudah beberapa kali diajarkan pada pelatihan hafalan Alquran di beberapa sekolah Islam terpadu di Jawa Timur. Juga, pada komunitas, kelompok masjid, atau jamaah pengajian.

Pada masa mendatang, Bairus memiliki target agar metode itu bisa dimanfaatkan di kalangan yang lebih luas. Salah satu niatnya membukukannya menjadi metode yang utuh. Dengan begitu, metode itu bisa dipelajari dan diterapkan di berbagai kelompok. ’’Kalau tantangannya itu menyamakan persepsi dengan guru. Ada yang cepat move on. Ada juga yang sudah terlalu nyaman dengan metode lawas,’’ paparnya

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/ady



Close Ads