Bocah Dipukuli dengan Gagang Sapu hingga Tewas oleh Ibu Kandung

25 November 2022, 15:41:28 WIB

JawaPos.com – Ulandari adalah ibu yang kejam. Perempuan berusia 32 tahun itu tega menganiaya anak kandungnya sendiri hingga tewas. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (20/11) malam di kamar kontrakannya, Jalan Bulak Banteng Kidul Gang 8, Kenjeran. Namun, polisi baru membeberkan para tersangkanya kemarin.

Kasus memilukan itu berawal ketika AP, bocah 6 tahun, disuruh membeli sesuatu di warung. Kebetulan AP menolaknya. Sikap korban membuat Ulandari kesal.

Dengan menggunakan gagang sapu, secara bertubi-tubi dia memukuli sekujur tubuh AP. Mulai kepala, badan, punggung, tangan, hingga kaki. Aksi penganiayaan tersebut tidak dilakukan Ulandari sendiri. Dia dibantu temannya satu kontrakan bernama Lipa, 18.

AP menangis sejadi-jadinya. Bukannya ditenangkan, pelaku justru semakin ganas memukuli korban. Berjalan sempoyongan, AP menuju kamar mandi. Lalu, korban tergeletak tidak sadarkan diri.

Ulandari dan Lipa pun panik. ”Kami berdua membawa korban ke RS Soewandhie,’’ kata Ulandari di Mapolres Pelabuhan Tanjung Perak, Kamis (24/11).

Sayang, nyawa korban tidak bisa diselamatkan. Sekitar pukul 21.00, korban dinyatakan meninggal. Petugas medis mencurigai adanya keganjilan dari luka-luka AP. Sebab, di sekujur tubuhnya ada luka sobek dan lebam.

Ulandari kalang kabut. Dia berupaya menyembunyikan aksi jahatnya dengan mengaku bahwa anaknya meninggal karena terjatuh dari tangga rumah kontrakannya.

Pihak rumah sakit tak memercayai begitu saja. RSUD dr Soewandhie lantas melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Kenjeran.

Kasatreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Arief Ryzki mengatakan, proses penyelidikan dilakukan. Setelah divisum, korban dinyatakan meninggal akibat dianiaya oleh Ulandari yang tak lain ibunya sendiri. Ulandari pun ditangkap di rumah sakit.

Sementara itu, teman Ulandari, yakni LB, 18, melarikan diri. Menurut keterangan polisi, LB kabur ke Jember. Berkat keterangan dari Ulandari, LB bisa ditangkap.

Di hadapan petugas, kedua pelaku mengaku bahwa aksi penganiayaan itu sudah berlangsung lama. Bahkan, sejak korban masih berusia 4 tahun. Setiap hari korban disuruh mengamen. Jika menolak, korban lantas dianiaya.

”Meski anak kandung, pelaku membenci korban. Pelaku mengaku tetangga sering menghina korban merupakan anak haram. Kondisi tersebut membuatnya tambah kesal. Dan sebagai pelampiasannya, pelaku terus menganiaya korban,’’ jelas Arief.

Warga Sering Pergoki Ulandari Bermesraan dengan Teman Sesama Jenis

DI MATA warga Jalan Bulak Banteng Kidul Gang 8, Ulandari merupakan sosok yang sangat tertutup. Dia jarang sekali keluar rumah. Setiap hari Ulandari bersama sang anak pergi mengamen. Biasanya di seputar Pantai Kenjeran dan Suramadu. Mereka baru pulang saat malam pukul 20.00.

”Kalau sudah pulang, mereka hanya berada di dalam kamar kontrakannya,’’ kata Ketua RT 4, RW 4, Kelurahan Sidotopo Wetan, Juari, 53, kemarin (24/11).

Selain dengan sang anak, Lipa, 18, turut tinggal bersama Ulandari.

Sudah tujuh bulan mereka tinggal satu atap. Awalnya, warga tidak merasa curiga dengan kehadiran Lipa. Sebab, mereka sama-sama perempuan. Namun, seiring berjalannya waktu, sikap keduanya cukup aneh. Beberapa kali warga melihat mereka bermesraan.

Misalnya, berpegangan tangan dan bermanja-manjaan layak-nya pasangan kekasih. Kecurigaan tersebut diperkuat dengan perawakan Ulandari. Sejak kecil, dia berpenampilan tomboi layaknya laki-laki. Begitu pun teman pergaulannya. Semuanya laki-laki.

Sebelum memiliki anak, Ulandari kerap menenggak minuman keras (miras). Pada akhirnya, dia pun hamil di luar nikah. Namun, hal tersebut tak mengubah sikapnya. Justru semakin menjadi-jadi.

”Memang belum bisa dibuktikan kalau mereka pasangan sejenis. Tapi, di sini isu itu sudah banyak yang tahu,’’ ujar pria berusia 53 tahun tersebut.

Terkait dengan penganiayaan yang dilakukan Ulandari, Juari mengaku tidak mengetahuinya. Begitu juga para tetangga Ulandari. Sebab, selama di rumah korban jarang sekali menangis. Kemudian, korban kerap mengenakan pakaian tertutup untuk menutupi luka-lukanya.

Korban juga jarang sekali keluar rumah atau bermain dengan tetangga. Korban hanya keluar saat malam. Itu pun disuruh Ulandari belanja di warung.

PENDERITAAN AP DI TANGAN IBU KANDUNGNYA

– Setiap hari dari pagi hingga malam AP disuruh mengamen.

– Sang ibu hanya mengawasi dari kejauhan.

– Setiap kali mengamen, korban ditargetkan harus mendapat uang Rp 200 ribu. Jika tidak, korban akan dipukuli.

– Korban kerap ditempeleng dan dipukul dengan gagang sapu dan gitar ukulele.

– Korban dilarang keluar rumah dan bermain dengan teman sebayanya.

 

(ian/c6/git)

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ian/c6/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads