Di Flat Sombo dan Urip Sumoharjo, Satu Unit Kecil Ditinggali 9 Orang

24 November 2022, 20:25:57 WIB

JawaPos.com – Tinggal di rusunawa harus pintar ’’bersiasat” dan peduli. Sebab, satu hunian flat yang sempit ditinggali dua sampai tiga kepala keluarga. Jawa Pos merekam kehidupan mereka di Rusunawa Sombo dan Urip Sumoharjo.

Warga yang tinggal di Flat Sombo terbilang unik. Terdapat sepuluh blok di hunian vertikal itu. Kebanyakan setiap unit ditinggali dua hingga tiga kepala keluarga (KK). Jumlahnya mencapai sepuluh orang. Akibatnya, kepadatan penduduk tak bisa dihindari. Mereka harus berbagi ruang di dalam hunian yang hanya berukuran 3×6 meter itu.

Namun, bagi warga setempat, hal itu bukanlah masalah besar. Mereka tetap bertahan tinggal di hunian vertikal tersebut. Keguyuban masyarakat yang begitu kental membuat mereka kerasan tinggal di lokasi tersebut.

Selasa (22/11) siang ibu-ibu sedang berkumpul di area selasar lantai 2. Suasana di lokasi terasa sangat hangat. Mereka bercengkerama sambil sesekali mata melirik anak mereka yang bermain di dekat tangga. Rutinitas tersebut biasa dilakukan setiap hari bila para penghuni rusun tidak sedang ada acara.

Banyak di antara mereka yang telah menjadi penghuni tetap rusun sejak awal berdiri. Salah seorang penghuni lama adalah Fatimah. Wanita 43 tahun tersebut menghuni satu unit rusun di sana. Di dalam satu unit itu ada 3 kepala keluarga (KK) dengan total 9 anggota keluarga. Karena keterbatasan tempat, sering kali antaranggota keluarga harus berbagi tempat tidur. ’’Jadi, ada yang tidur di selasar depan dan yang di dalam unit,’’ ungkapnya.

Bila ada salah seorang anggota keluarga yang sakit, harus ada yang mengalah untuk tidur di selasar. Kendati kondisinya memprihatinkan, dia mengatakan banyak warga di rusun yang enggan pindah. Penyebabnya bukan alasan finansial. Namun, kedekatan emosional yang tidak bisa terlupakan dan dicari di tempat mana pun. ’’Di sini sudah seperti kampung halaman sendiri. Jadi, sangat sulit menghapus kenangan historisnya,’’ paparnya.

Selain cerita dari penghuni rusun, serba-serbi kehidupan yang tak kalah menarik juga dialami pengurus rukun tetangga (RT). Misalnya, yang dialami Ketua RT 3 Rusun Sombo Blok I Salaman. Dia mengatakan, pengurus RT sering kali menjadi sasaran kritik penghuni rusun bila ada permasalahan. Misalnya, permasalahan ketersediaan air. ’’Warga sering protes ke pengurus,’’ tambahnya.

Dia berharap adanya bantuan dari pemerintah terkait pompa air di blok. Sebab, kondisinya memerlukan pergantian. Selain itu, pemerintah diharapkan cepat dalam merespons keluhan penghuni rusun.

Secara terpisah, Wakil Ketua RW 5 Sombo Sabullah menjelaskan, permasalahan sarana dan prasarana rusun sering kali terjadi. Selain saluran air, terdapat atap yang mulai rapuh dimakan usia di beberapa titik. Karena itu, diperlukan perbaikan supaya tidak bocor saat terjadi hujan.

Buat Kamar Tingkat untuk Privasi

Berbagi ruang tidur sudah biasa dirasakan penghuni Rusunawa Urip Sumoharjo. Salah satunya Masduki. Ukuran hunian yang kecil membuatnya sempat menambah ruang tidur susun. Maklum, dia waktu itu tinggal dengan enam anggota keluarganya.

Masduki membuat kamar susun itu dengan bahan galvalum. Saat ini sudah dibongkar. Sebab, tiga anaknya sudah tidak tinggal bersama. Namun, fenomena tersebut masih ditemui hingga sekarang. ”Sing pasangan enom kan butuh gawe berduaan, aku kan wes tuwek,’’ ucapnya, lantas tertawa.

Masduki mengatakan, hunian yang kecil itu harus dibagi-bagi agar hajat keluarga bisa terlaksana. Karena tidak muat, dia tidur di ruang tamu yang sekaligus menjadi tempat kerjanya. ”Saya akali ruang tamu tak buat di teras,’’ ucapnya.

Di Rusunawa Lawas, Warga Diperbolehkan Punya Dua Unit

DINAS Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya mencatat sudah banyak penghuni rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang terpaksa hengkang karena melakukan pelanggaran. Misalnya, mengalihkan hak hunian kepada orang lain. Penertiban melibatkan banyak pihak, mulai satpol PP, kelurahan, kecamatan, bahkan kepolisian.

Kepala DPRKPP Surabaya Irvan Wahyudradjad menyebut prosedur penertiban tertuang dalam Perwali No 83 Tahun 2022 tentang Pemakaian Rumah Susun.

Di sana dijabarkan potensi pelanggaran yang bisa dilakukan penghuni rusun. Salah satunya soal peralihan hak hunian.

’’Hingga sekarang sudah 31 pelanggaran yang kami tindak. Jadi, macam-macam ya pelanggarannya, seperti mengalihkan pemakaian satuan rumah susun kepada pihak lain. Itu bisa dikenai sanksi. Bisa berupa teguran sampai pemutusan hubungan sewa,’’ paparnya.

Irvan memastikan validasi terus dilakukan. Tujuannya, warga yang kondisinya sudah bukan lagi MBR bisa segera keluar dari rusun. Namun, mereka tidak serta-merta diputus begitu saja, biasanya diberi batas waktu antara enam bulan hingga satu tahun untuk mempersiapkan kepindahannya.

’’Maka, kami meminta masyarakat hati-hati bila ada yang menawarkan unit rusun yang disewakan kembali. Sebab, pasti akan ketahuan. Masyarakat juga bisa ikut berpartisipasi dengan melapor ke kami bila menemui pelanggaran,’’ katanya.

Irvan menyebut bahwa ada tahapan penindakan yang dilakukan. Dimulai dari teguran hingga penindakan. Pihaknya pun tidak bergerak sendiri. ’’Pasti kami mengajak kelurahan dan kecamatan. Kemudian, meminta bantuan penertiban dari satpol PP. Lalu, kepolisian juga ikut mendampingi,’’ katanya.

Sementara itu, menanggapi soal keluhan di rusunawa, Kabid Perumahan Rakyat DPRKPP Surabaya Lasidi menyebut di setiap rusun sudah ada petugas yang melakukan perawatan. Bila ada laporan pompa air bermasalah, petugas di sana akan meneruskan informasi ke DPRKPP, lalu petugas segera menindaklanjuti. ’’Kalau kebutuhan urgen seperti air, pasti langsung kami tindak lanjuti cepat. Kalau tidak ada keluhan, petugas tetap melaksanakan pemantauan rutin,’’ paparnya.

Soal penghuni, memang dalam Perda No 83 Tahun 2022 ada pengecualian bagi Rusunawa Sombo, Dupak Bangunrejo, dan Urip Sumoharjo. Satu KK bisa memiliki lebih dari satu unit. Jadi untuk tiga rusunawa itu, bukan tindakan ilegal bila satu keluarga memiliki beberapa unit. ’’Itu dari sejarahnya dulu memang demikian, bukan tiba-tiba diperbolehkan. Tetapi, untuk rusunawa lain saat ini satu KK hanya satu unit, tidak bisa lebih,’’ paparnya.

PROBLEMATIKA RUSUN SOMBO

– Pompa air sering tidak berfungsi secara maksimal.

– Aliran air PDAM terkadang macet.

– Luas unit tidak sebanding dengan yang menghuni sehingga sering kali penghuni tidur di selasar.

– Pengurus RT sering kali menjadi sasaran ketika ada keluhan warga.

– Sering kali perbaikan pompa menggunakan dana swadaya warga.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ata/ian/zam/omy/gal/c6/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads