alexametrics

Ratusan Peserta Ikuti SKB CPNS Pemkot Surabaya

Untuk OS, Dewan Minta Dilakukan Sistem CAT
24 November 2021, 17:52:29 WIB

JawaPos.com–Seleksi kompetensi bidang (SKB) calon pegawai negeri sipil (CPNS) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya diikuti 146 peserta, Rabu (24/11). Untuk pelaksanaan tes di SMP Negeri 1 Surabaya dipantau anggota Komisi A DPRD Surabaya.

Kepala Bidang Pengembangan dan Penilaian Kinerja BKD Surabaya Hanry Rachmanto menuturkan, ada 14 orang yang menjalani tes di luar Surabaya. Lokasinya di kantor regional atau UPT BKN. Untuk pelaksanaan seleksi di Surabaya, panitia menyediakan ruang khusus bagi peserta yang hamil atau pascahamil.

Ada tujuh ibu hamil yang mengikuti tes SKB. Ketujuh ibu hamil tersebut ruangannya dipisah dengan 125 peserta lain. Hanry menyebutkan, peserta ibu hamil di lantai satu. ”Yang tidak hamil ada di lantai dua,” tutur Hanry Rachmanto.

Berdasar data dari BKD Surabaya, jumlah peserta yang mendaftar untuk CPNS teknis paling besar jika dibandingkan CPNS kesehatan. Jumlah CPNS teknis sebanyak 1.724 orang sementara untuk CPNS kesehatan hanya 367 orang. Peserta yang berhak mengikuti SKB CPNS teknis ada 47 orang dan 99 dari CPNS kesehatan.

Lantas, bagaimana dengan formasi pengadaan pegawai aparatur sipil negara 2022? Untuk tenaga kesehatan formasinya sejumlah 51 orang dan 17 orang tenaga teknis.

Anggota Komisi A Imam Syafii mengatakan, pelaksanaan SKB bisa dijadikan sebagai patokan jika kasus covid-19 melandai. Sebab, hasil tes Covid-19 dari para peserta negatif. Seluruhnya bisa hadir.

Formasi CPNS yang dibuka hanya 68 orang. Karena itu, Imam meminta kepada pemkot agar seleksi tenaga outsourcing (OS) dilakukan secara benar. OS digunakan untuk menutupi kebutuhan tenaga pemkot.

Politikus Nasional Demokrat (Nasdem) itu mendorong agar sistem rekruitmen OS diubah. ”Didata dulu, misal dinas A butuh berapa lalu dinas B angka kebutuhannya berapa. Kemudian rekruitmennya jadi satu, tidak sendiri-sendiri,” terang Imam.

Pelaksananaan rekruitmen OS yang terpisah-pisah itu dinilai Imam tidak efisien dan efektif. Selain itu, sistem tersebut juga memiliki celah yang besar untuk tindakan nepotisme.

Dia juga meminta supaya tes OS bisa menggunakan metode computer assisted test (CAT). Dengan begitu, tiap peserta akan tahu nilai tesnya.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Dimas Nur Apriyanto/JPK

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads