alexametrics

Pengalaman Menginap di Ruang Isolasi Covid-19 Hotel Asrama Haji (2)

24 Oktober 2020, 07:48:34 WIB

Mayoritas penghuni Hotel Asrama Haji (HAH) Sukolilo merupakan orang tanpa gejala (OTG) Covid-19. Mereka merasa sehat secara fisik. Tanpa mengetahui virus asal Tiongkok itu berada di dalam tubuh mereka. Tahu-tahu, hasil tes swab mereka positif. Cerita mereka yang divonis positif pun beragam.

EDI SUSILO, Surabaya

Senasib dan sepenanggungan. Pepatah itu cocok diberikan kepada penghuni isolasi di Hotel Asrama Haji Sukolilo. Nasib sesama positif Covid-19 membuat kami, para penghuni ruang isolasi, mudah akrab. Selain dengan teman sekamar, ngobrol ngalor-ngidul sering dilakukan antar penghuni ketika bertemu di luar gedung. Misalnya, setelah cek kesehatan atau sehabis senam pagi. Biasanya, antar penghuni cangkrukan. Tentu dengan protokol kesehatan.

Obrolan yang dibahas macam-macam. Mulai bagaimana mereka menjadi OTG, kondisi tubuh selama perawatan, hingga curhat di luar kesehatan.

Contohnya, kesulitan usaha selama pandemi sampai soal rumah tangga.

Misalnya, yang diungkapkan Kardi (bukan nama sebenarnya). Lelaki berusia 60 tahun itu dinyatakan positif setelah menjalani tes swab di rumah sakit. Awalnya, dia tidak datang untuk uji swab. Tapi, untuk keperluan operasi dua ujung jarinya yang putus karena tergencet mesin penggiling tebu.

Kejadian nahas itu berawal ketika Kardi ingin menyalakan mesin penggiling tebu miliknya yang sempat rusak. Lalu, dia membenahi sendiri. Namun saat dijalankan, ternyata mesin tidak berjalan normal. Sepersekian detik, mesin yang menderu langsung menyedot tangan kirinya. Akibatnya, separo jari manis dan jari tengah Kardi putus.

”Ya gara-gara mau operasi ini, saya malah positif,” ucapnya, lantas tertawa.

Saat ini beberapa rumah sakit memang menerapkan syarat wajib tes swab dengan hasil negatif bagi pasien yang akan menjalani operasi.

Saat di-swab, Kardi merasa sehat-sehat saja. Tidak batuk dan demam. Namun, dia kaget ketika tahu hasil tes swab positif. Kardi hanya bisa pasrah. Pria asli Lumajang itu langsung diminta untuk menjalani isolasi di asrama haji. ”Sekarang tanpa operasi, sepertinya tangan saya mulai sembuh,” ucapnya sambil menunjukkan dua jemari yang masih diperban.

Selama menjalani isolasi di HAH, Kardi cemas memikirkan kondisi sang istri. Maklum, pasutri tersebut selama ini memang hanya tinggal berdua di sebuah rumah kos. Maka, saat Kardi menjalani isolasi di asrama haji, otomatis sang istri tinggal sendirian.

Pengalaman berbeda disampaikan Januar. Lelaki tersebut bekerja sebagai sopir di perusahaan. Saat dinyatakan positif awal bulan ini, sebenarnya dia tidak mengalami gejala. Sehat-sehat saja.

”Tapi pas mau bulan Ramadan itu, saya sempat mengalami sesak,” ucapnya.

Bahkan, beberapa kali dia bangun tengah malam karena tidak bisa napas. Untuk bisa bernapas kembali, Januar sesekali harus berteriak.

Saat bercerita, dia menunjukkan kondisinya saat itu kepada saya lewat layar handphone. Sekilas, wajahnya memang tampak lesu. Pucat. Sadar kondisinya tidak sedang baik-baik saja, dia mengobati secara mandiri. Minum parasetamol dan vitamin. Rutin saban hari.

Siang itu, bersama beberapa penghuni lain yang nimbrung, Januar memprediksi mungkin saat itulah dirinya terserang Covid-19. Mobilisasi yang tinggi sebagai sopir membuat dirinya berisiko tertular orang lain. ”Saya juga wira-wiri di Juanda sebelum sesak,” kenangnya.

Pengalaman lain diceritakan Steven. Pemuda yang bekerja sebagai teknisi untuk membetulkan alat-alat elektronik kesehatan rumah sakit itu juga tidak paham kapan dirinya terkena Covid-19.

Saat salah satu bos di perusahaannya positif Covid-19, dia diminta untuk tes juga. Awalnya saat rapid test, dia ditanyakan nonreaktif. Namun ketika menjalani swab PCR, hasilnya, kata petugas puskesmas, positif. ”Saya dibawa ke rumah sakit,” ucapnya.

Dia bingung saat dibawa ke RS. Sebab, dia merasa tidak mengalami keluhan seperti batuk atau demam. Alasan yang membuat Steven dibawa ke rumah sakit adalah postur tubuhnya termasuk obesitas. Jadi, lebih berisiko daripada pasien dengan berat badan normal. Diberi jawaban begitu, Steven manut saja.

Meski awalnya memaklumi, lama-lama Steven jengkel. Dia merasa bingung ketika dirawat di RS. Penyebabnya satu. Dia merasa sehat dan dokter serta perawat tidak memberi Steven pelayanan seperti pasien lain. Mulai obat rutin sampai ditancap cairan infus.

Karena itu, dia meminta untuk pindah ke ruang isolasi di asrama haji. Saran tersebut kemudian disetujui dokter. Dia pun dibawa dengan ambulans ke HAH.

Sampai di tempat itu, Steven merasa lebih nyaman. Sebab, banyak pasien positif seperti dirinya yang dalam kondisi sehat. ”Di sini ternyata yang lebih gendut dari saya juga ada,” ucapnya, kemudian tertawa.

Ada yang menertawakan nasib. Ada pula yang datang ke ruang isolasi dengan kesedihan. Mereka harus kehilangan keluarga, kawan, dan rekan bermain karena Covid-19. Mereka meninggal dalam perawatan. Semua kesedihan itu dicurahkan kepada sesama penghuni.

Selain saling curhat, beberapa penghuni juga punya cara unik untuk bangkit dan sembuh dari Covid-19. Setiap pagi, sebelum senam, ada beberapa penghuni yang duduk sambil berjemur. Sambil ngobrol, mereka menikmati hangatnya mentari pagi. Yang muda-muda juga terlihat lari-lari kecil keliling gedung.

Bukan hanya soal kebiasaan, para penghuni juga punya trik penyembuhan. Salah satunya keampuhan minyak kayu putih. Cairan bening yang memberi rasa hangat saat dioleskan ke tubuh itu dipercaya dapat mempercepat proses penyembuhan.

Macam-macam metode yang dipakai. Ada yang memilih meneteskan minyak kayu putih ke masker untuk dihirup dalam-dalam. Ada pula yang percaya virus akan mati jika minum beberapa tetes minyak kayu putih dalam segelas air hangat. Semua usaha itu bagian dari ikhtiar penghuni agar segera sehat dan dapat berkumpul kembali bersama keluarga. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads