alexametrics

PPDB Zonasi Diserbu 13.465 Pendaftar, Orang Tua Kaget Anaknya Tersisih

24 Juni 2022, 11:48:01 WIB

JawaPos.com – Penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMPN jalur zonasi langsung diserbu ribuan pendaftar. Hingga kemarin (23/6) pukul 17.00, dinas pendidikan (dispendik) mencatat jumlah pendaftar mencapai 13.465 anak. Mereka mendaftar di 63 unit SMP negeri.

PPDB jalur zonasi memunculkan persaingan ketat antarsiswa di sekitar sekolah. Banyak orang tua yang cemas. Sebab, nama anaknya sudah tersisih dari daftar nama calon siswa yang diterima. Kondisi itu membuat puluhan wali murid mendatangi posko pengaduan Dispendik Kota Surabaya di Jalan Jagir, Wonokromo, kemarin.

M. Nawawi, salah satunya. Dia pesimistis anaknya lolos di jalur zonasi. Putrinya mendaftar di dua sekolah. Pilihan pertama adalah SMPN 12 Surabaya. Pilihan kedua, SMPN 48 Surabaya.

Namun, hingga kemarin pukul 13.00, nama anaknya tidak muncul di salah satu sekolah tersebut. ”Padahal, saya sudah daftar pagi,” kata Nawawi.

Keluarga Nawawi terdaftar sebagai masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Jalan Kalibokor, Kecamatan Gubeng. Dia juga mendaftarkan anaknya melalui jalur mitra warga pada 10–15 Juni. Namun, anaknya tidak lulus. Dia berharap banyak pada PPDB jalur zonasi. ”Eh, tidak lulus juga. Saya bingung, kalau daftar swasta, tidak mampu bayar,” ujar ayah dua anak tersebut.

Hal serupa dialami Khoirun Fadil. Putrinya mendaftar di SMPN 3 dan SMPN 4 Surabaya. Namun, di dua sekolah itu, nama anaknya tidak terdata. Padahal, dia mendaftar sejak pukul 02.00. Hingga pukul 07.00, nama anaknya masuk di urutan ke-80 di SMPN 3 Surabaya. Nah, pada pukul 14.00 nama putrinya sudah menghilang.

”Saya sampai begadang tidak tidur untuk daftarkan anak. Tapi, tiba-tiba nama anak saya tidak ada (di SMPN 3 dan SMPN 4, Red),” ungkap Khoirun.

Kemarin dia mengadu ke Dispendik Surabaya. Namun, petugas mengarahkan Khoirun agar terus memantau website pendaftaran. Sebab, data masih dapat berubah. Di sisi lain, pendaftaran jalur zonasi juga dibuka sampai besok. Meski begitu, para orang tua tetap pesimistis anaknya bisa bersekolah di SMP negeri yang dituju. ”Apa tidak bisa kuota jalur zonasi ditambah saja?” tuturnya.

Berdasar pantauan Jawa Pos kemarin, sejumlah sekolah di tengah kota langsung diserbu pendaftar. SMPN 1 Surabaya, misalnya. Total, sudah ada 176 anak yang diterima. Jarak terdekat yang diterima adalah 114 meter. Jarak terjauh mencapai 1.074 meter. SMPN 3 Surabaya juga demikian. Jarak terdekat yang diterima hanya 96 meter. Jarak terjauh 1.257 meter.

Kondisi itu berbeda dengan beberapa sekolah pinggiran. SMPN 59 Surabaya, contohnya. Jarak terdekat 232 meter. Jarak terjauh mencapai 6 kilometer. Di SMPN 51 Surabaya, cukup banyak yang mendaftar dengan jarak yang cukup jauh. Yaitu, mencapai 6 kilometer. Bahkan, SMPN 63 lebih miris lagi. Jarak terjauh pendaftar mencapai 8 kilometer dari sekolah.

Kadispendik Kota Surabaya Yusuf Masruh mengklaim pendaftaran sudah berjalan lancar. Terkait dengan pengaduan wali murid yang tidak diterima, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Sebab, semua sudah melalui sistem PPDB.

”Apalagi kan belum selesai. Kami minta ditunggu hasil akhirnya,” ujar Yusuf.

Sementara itu, pendaftaran berjalan lancar. Meski ada lebih dari 13 ribu pendaftar, sistem jaringan tidak mengalami gangguan sama sekali.

Hari Pertama, Posko GMBU Terima Aneka Keluhan

BERBAGAI problem masih mewarnai pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Kota Pahlawan. Para orang tua atau wali murid pun mencari informasi atas kebuntuan yang dialami. Salah satunya, mendatangi posko PPDB yang didirikan organisasi Garda Muda Bibit Unggul (GMBU). Setiap tahun ajaran baru, organisasi yang berisi alumni penerima beasiswa generasi emas Pemkot Surabaya itu membuka posko PPDB.

Tahun ini ada dua posko yang dibuka, yakni di Balai RW 1 Kelurahan Banjar Sugihan, Jalan Manukan Lor IV/K Nomor 18, Kecamatan Tandes, dan Balai RW 4 Jalan Pabrik Kulit, Kecamatan Wonocolo.

Salah satu kendala dialami Magenta Aidil Fitra. Dia hendak mendaftar ke SMKN 2 Surabaya. Namun, jarak rumah dengan sekolah yang diharapkan dirasa terlalu jauh. Tim dari GMBU di posko Manukan pun menyarankan Magenta agar mendaftar SMKN 7 Surabaya yang jaraknya tidak sampai 1 kilometer.

Nah, ketika mengunggah berkas, masalah muncul. Dari segi ekonomi, Magenta sejatinya termasuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Dia pun memiliki kartu Indonesia pintar (KIP) dan kartu Indonesia sehat (KIS) atau BPJS PBI. Namun, ketika nomor induk kependudukannya (NIK) dicek di situs e-pemutakhiran milik pemkot, namanya tidak termasuk dalam daftar keluarga MBR.

Karena itu, tim dari GMBU masih mengupayakannya. Anak-anak muda yang notabene masih duduk di bangku kuliah tersebut berkoordinasi dengan pejabat setempat. ’’Iyo, embuh piye iki lurah karo camate. Seharusnya dia masuk MBR. Tapi, di e-pemutakhiran belum masuk,” kata Amelia Nasywa Rahmasari, koordinator lapangan posko GMBU Manukan, kemarin (23/6).

Bukan hanya Magenta yang mengalami masalah ketika mendaftar. Rahma, sapaan Amelia, juga mengaku sempat disambati orang tua Muhammad Akbar Aulia Syawal. Akbar tidak diterima di SMPN 26 Surabaya setelah mendaftar lewat jalur afirmasi atau mitra warga. Padahal, jarak sekolah dengan rumahnya hanya 700 meter. ’’Belum tahu itu apakah karena jarak atau masalah lain. Yang jelas, dia terdaftar sebagai MBR. Indikasi sementara karena jarak,” paparnya.

Tim GMBU pun mencarikan solusi. Akbar ditawari mendaftar di SMPN 20 Surabaya. Meski jaraknya lebih dari 1 kilometer, nilai Akbar dirasa mencukupi untuk mendaftar lewat jalur prestasi. Dengan nilai 463, Akbar akhirnya diterima di SMPN 20 Surabaya.

Rahma mengakui, hampir setiap hari pasti ada orang tua atau wali murid yang datang untuk mengeluh. Rata-rata mereka tidak memahami prosedur normatif untuk mendaftar secara online. Ada pula yang terkendala masalah verifikasi data. ’’Macem-macem masalahnya. Dan, kita harus bisa mencarikan solusi,” kata mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Ketua GMBU Surabaya Muhammad Reza Bahtiar mengatakan, keluhan dari warga memang terus bermunculan. Karena itu, timnya membuka posko PPDB sejak pagi sampai malam. Mulai pukul 08.00 sampai 20.00. ’’Kami buka selama masa pendaftaran PPDB pada 10 Juni sampai 6 Juli,” tuturnya.

Reza menyatakan, tidak ada kendala ketika pembukaan posko PPDB di dua lokasi tersebut. Hanya, masih banyak warga yang belum tahu persis persyaratan pendaftaran yang perlu disiapkan. ’’Kalau warga atau wali murid tidak bisa datang ke posko, kami yang datang ke rumah mereka. Nanti di rumah kita bantu,” jelasnya.

TEMUAN PPDB JALUR ZONASI HARI PERTAMA

– Wali murid panik anaknya tersisih dari pilihan pertama dan kedua.

– Sejumlah pendaftar salah memilih sekolah pilihan pertama dan kedua.

– Sebagian pendaftar meminta pendaftaran ulang dilakukan.

– Sekolah tengah kota langsung diserbu pendaftar. Banyak yang tersisih karena faktor jarak.

– Jarak rumah siswa di sejumlah sekolah pinggiran sangat jauh.

Sumber: Reportase Jawa Pos

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : mar/ata/adi/c14/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads