Setuju Tarif Air PDAM Surabaya Naik, tapi Dewan Beri Sejumlah Catatan

23 November 2022, 16:39:59 WIB

JawaPos,com- Penetapan kenaikan tarif air PDAM Surya Sembada semakin dekat. DPRD Surabaya mengingatkan agar penyesuaian tarif diikuti dengan perbaikan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dewan juga meminta seluruh kawasan metropolis teraliri air PDAM tahun depan.

Ketua Komisi B DPRD Surabaya Luthfiyah sudah mendengar rencana kenaikan tarif air PDAM. Saat ini manajemen PDAM Surya Sembada masih mengalkulasi dan mengkaji perubahan harga air itu. Selambat-lambatnya kenaikan tarif bakal berlaku awal 2023. ”Direksi PDAM juga sudah melaporkan ini (kenaikan tarif, Red) ke komisi B,” ujar Luthfiyah kemarin (22/11).

Menurut dia, kenaikan tarif PDAM sudah dipertimbangkan secara matang. Komisi B sendiri siap mendukung kebijakan tersebut. Apalagi, PDAM sudah lama tidak menyesuaikan tarif di tengah harga bahan baku air yang juga naik. ”Daerah tetangga seperti Sidoarjo dan Gresik sudah naik lebih dulu. Jadi, kami setuju saja,” papar Luthfiyah.

Hanya, pihaknya mewanti-wanti PDAM agar tarif baru tidak sampai memberatkan warga. Khususnya kelompok pelanggan golongan 1. Seperti masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), rumah sederhana (RS), dan rumah sangat sederhana (RSS). Selama ini mereka mendapatkan subsidi air. ”Harus terjangkau ke semua wilayah. Sehingga semua warga Surabaya harus bisa menikmati air PDAM,” tegas politikus Gerindra itu.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya Anas Karno menambahkan, kenaikan tarif sangat wajar dan berkeadilan. Sebab, tarif PDAM tidak pernah naik sejak 2005, sedangkan bahan baku produksi sudah naik. ”Jadi, kenaikan tarif ini sudah realistis,” ucap Anas.

Pemprov Jatim memberi tenggat waktu sampai akhir November kepada PDAM untuk menaikkan tarif air. Namun, hingga kini, rancangan perubahan harga layanan air itu belum mendapatkan persetujuan dari pemkot. Pakar mengingatkan, penundaan tarif bisa menjadi bom waktu bagi perusahaan pelat merah tersebut.

Peringatan itu disampaikan Guru Besar Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Joni Hermana kemarin (22/11). Menurut Joni, sudah sewajarnya perusahaan penyedia air itu segera mengubah tarifnya. Sebab, dia melihat instalasi jaringan milik PDAM perlu diremajakan.

”Jangan karena cari aman dengan setor dividen ke Pemkot Surabaya, tetapi instalasi airnya dibiarkan begitu saja. Makanya, saya mendorong direksi yang sekarang agar berani menaikkan tarif,” jelasnya.

Joni menilai, tarif layanan air PDAM sangat murah. Itu tidak sebanding dengan biaya operasional dan investasi jangka panjang. Belum lagi inflasi dan gejolak ekonomi sejak 2006 hingga sekarang tidak masuk dalam formulasi hitungan harga pokok penjualan air. ”Sudah saatnya PDAM memikirkan sistem operasional yang wajar. Bahwa biaya operasional plus pengembangan menjadi dasar hitungan tarif,” ujarnya.

Sementara itu, Dirut PDAM Surya Sembada Surabaya Arief Wisnu Cahyono mengatakan, sebelum akhir November, tarif baru PDAM bakal ditetapkan. Perhitungannya menganut SK gubernur, yakni Rp 2.659–Rp 17.202.

”Pak Wali meminta agar dihitung lagi tarif ideal untuk penerima subsidi. Termasuk koreksi tentang penentuan tarif sesuai kelasnya. Untuk finalnya, Pak Wali yang menentukan, kami hanya mengusulkan,” kata Arief.

Soal subsidi, Arief mengakui anggaran yang dikeluarkan cukup besar. Berkisar Rp 50 miliar sampai Rp 60 miliar per tahun. ”Tentu jika mekanisme berkeadilan yang nanti diterapkan akan mengurangi beban perusahaan. Tentu dengan tetap memberikan keringanan kepada yang berhak,” tuturnya. (mar/gal/c17/aph)

SIAP-SIAP TARIF PDAM NAIK

  • Tarif batas atas Rp 17.202 per meter kubik dan Rp 2.659 per meter kubik untuk tarif batas bawah.
  • Biaya tagihan sangat bergantung pada sedikit banyaknya pemakaian air
  • Tarif air PDAM tidak naik sejak 2005.
  • Selama ini mengeluarkan subsidi Rp 50 miliar–60 miliar per tahun.

MASUKAN DPRD

  • Perbaikan kualitas air kepada pelanggan.
  • Perluas jangkauan pelayanan sampai 100 persen.
  • Subsidi silang harus tepat sasaran kepada pelanggan MBR, RS, dan RSS.

Sumber: Reportase Jawa Pos

Editor : M. Sholahuddin

Reporter : mar/gal/c17/aph

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads