alexametrics

Rugi Miliaran dari Guardian Capital Group, Rahasiakan dari Suami

23 Oktober 2020, 12:48:06 WIB

JawaPos.com – Tidak semua member Guardian Capital Group (GCG) Asia yang melapor ke Polrestabes Surabaya mau blak-blakan tentang kasusnya. Ada yang menyembunyikan diri karena telanjur berinvestasi hingga miliaran rupiah tanpa seizin suami.

Salah satunya yang dihubungi Jawa Pos, Kamis (22/10). Seorang member GCG asal Surabaya mengalami kerugian sampai miliaran rupiah. Namun, dia menolak berkomentar. ”Gak usah dipublikasikan. Biar diproses polisi saja,” kata perempuan yang tidak mau namanya disebutkan itu.

Dia hanya mengaku kerugiannya sekitar Rp 1,5 miliar. Perempuan tersebut beralasan tidak mau namanya naik ke permukaan karena khawatir akan berdampak lebih besar ke keluarga. ”Bisa dicerai kalau suami tahu,” ungkapnya.

Sementara itu, Sunjoyo, salah satu member, menyatakan bahwa investasi bodong tersebut sudah menjerat puluhan ribu orang. Mereka tersebar di seluruh Indonesia. ”Member yang melapor tidak hanya berada di Surabaya. Di Jakarta juga ada,” katanya.

Pria yang mengaku merugi Rp 300 juta tersebut mengatakan, jika ditotal, kerugian member bisa mencapai triliunan rupiah. Menurut dia, masing-masing member punya kerugian yang berbeda. Mayoritas puluhan juta. Namun, tidak sedikit juga yang menelan pil pahit sampai ratusan juta. ”Di Surabaya sendiri ada yang sampai miliaran,” ujarnya.

Investasi itu bisa menjerat banyak orang karena menawarkan keuntungan yang menggiurkan. Member dijanjikan komisi 5–25 persen dari uang yang didepositkan. ”Nilai bonusnya ditentukan perkembangan dari trading yang dijalankan,” terangnya.

GCG, kata dia, disebut para leader bergerak di logam mulia. Untuk menghilangkan keraguan member yang akan bergabung, leader yang mengajak menunjukkan website perusahaan di bursa efek. ”Orang kemungkinan besar pasti tertarik. Apalagi dengan iming-iming komisinya,” tuturnya.

Sunjoyo menambahkan, investasi bodong itu bisa menarik banyak korban karena faktor lain. Berdasar pengamatannya, kebanyakan leader adalah agen sebuah perusahaan asuransi. ”Mereka mengajak nasabahnya sendiri untuk gabung,” katanya.

Dengan sistem itu, jelas dia, tidak heran jumlah korban mencapai puluhan ribu orang. Sebab, mereka sudah percaya dengan kinerja agen di bidang asuransi. ”Jadi, leader seperti dompleng nama besar perusahaan aslinya untuk sampingan,” terangnya.

Di bagian lain, polisi terus mendalami laporan dari para korban. Kanitharda Polrestabes Surabaya AKP Giadi Nugraha menyatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan banyak pihak sebagai tindak lanjut dari laporan. ”Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komiditi, Red) salah satunya,” kata alumnus Akpol 2012 itu.

Menurut dia, unsur tindak pidana dari laporan tersebut sebenarnya sudah terlihat. Dasarnya, GCG dipastikan tidak memiliki izin usaha. Namun, tidak berarti penyidikan berjalan mudah. Sebab, yang dilaporkan member bukan perusahaan. ”Leader-nya yang dilaporkan,” ungkapnya.

Fakta itu, kata Giadi, perlu mendapat pendalaman lebih lanjut. Dia tidak ingin salah langkah dalam mengambil keputusan. ”Kami komunikasikan dulu dengan pihak terkait lainnya. Kasusnya kami proses bertahap,” kata polisi dengan tiga balok di pundak itu.

Giadi menambahkan, unit yang dipimpinnya tidak hanya menangani satu laporan polisi (LP) dari member GCG. Melainkan delapan. Nah, terlapor dari masing-masing ternyata tidak sama. ”Yang jadi terlapor lebih dari satu orang. Karena yang dilaporkan korban adalah leader yang mengajak,” ujarnya.

TERJEBAK TRADING TAK BERIZIN

  • Korban ditawari menjadi investor trading yang dijalankan Guardian Capital Group (GCG). Investasi itu diklaim bergerak di bidang logam mulia.
  • Member dijanjikan komisi 5–25 persen setiap pekan. Nominalnya bergantung dari uang yang telah disetorkan.
  • Beberapa korban sempat mendapat komisi yang dijanjikan. Namun, setelah itu uang yang telah disetor maupun komisi dari nilai deposit tidak bisa diambil.
  • Satgas Waspada Investasi (SWI) memastikan aktivitas usaha GCG ilegal. Usaha dijalankan tanpa izin.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : edi/c13/eko



Close Ads