Sukiasih, Nenek Miskin Tiga Cucu Ini Luput dari Bansos Apapun

Didatangi Wakil Ketua Komisi D DPRD Surabaya
23 September 2022, 12:27:49 WIB

JawaPos.com- Pendataan warga yang sungguh-sungguh kurang mampu atau miskin, sejauh ini tetap saja menjadi masalah serius. Tidak akurat. Termasuk di Kota Surabaya. Padahal, akurasi data itu teramat vital. Masih cukup banyak warga miskin yang sebetulnya lebih berhak menerima bantuan.  Namun, mereka tidak masuk data base. Sebaliknya, warga relatif mampu, tapi diberi bantuan.

”Awas kebenthok (terbentur),” kata Sukiasih kepada seorang tamu yang datang ke rumahnya, pada Kamis (22/9). Lansia 72 tahun itu perlu mengingatkan itu kepada sang tamu. Sebab, plafon rumahnya sangat rendah. Hampir-hampir menyentuh kepala.

Sang tamu adalah Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya Ajeng Wira Wati. Dia sengaja datang datang dan menyapa Mbah Sukiasih. Warga Jalan Kertajaya Juwingan, Kelurahan Kertajaya, Kecamatan Gubeng, itu merupakan warga tidak mampu.

Namun, nenek tiga cucu tersebut sama sekali belum tersentuh bantuan. Termasuk bantuan langsung tunai (BLT) BBM yang baru saja disalurkan. ”Ternyata, Bu Sukiasih ini luput dari pendataan,” kata Ajeng.

Dia pun mendorong Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya untuk melakukan pendataan secara cermat. Tentu dengan memasukkan mereka yang sangat berhak mendapatkan bantuan. ”Saya minta dinsos serta perangkat RT dan RT bergerak aktif lakukan pendataan,” imbuhnya.

Ajeng berharap pemkot menyalurkan bansos dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Nilainya Rp 3,6 miliar dengan total penerima 11.710 orang. Perinciannya, 3.591 penerima dari kalangan pekerja atau buruh. Nah, sisanya, 8.119 calon penerima, merupakan masyarakat umum. ”Saya berharap Ibu Sukiasih masuk dalam daftar penerima bansos yang bersumber dari hasil cukai,” ucap Ajeng.

Politikus Gerindra itu menegaskan, warga yang belum pernah mendapat bantuan harus dimasukkan dalam data penerima bantuan. ”Karena orang seperti Ibu Sukiasih ini memang berhak dapat bantuan,” ujarnya.

Pihaknya pun mendorong berbagai bantuan harus tepat sasaran. Jangan sampai bantuan bea cukai kembali diberikan kepada mereka yang sebelumnya mendapat bantuan. Baik BLT, program keluarga harapan (PKH), maupun bantuan pangan nontunai (BPNT).

Itu penting agar berbagai program bantalan sosial pemerintah bisa tepat sasaran. Termasuk bansos dari hasil cukai. Selama ini, ada warga yang meninggal, tapi masih terdata sebagai penerima bantuan.

Bahkan, ada yang tergolong mampu juga masuk data penerima bantuan. ”Prinsipnya, jangan menumpuk di beberapa orang saja. BLT dan bansos harus disebarluaskan agar warga merasakan manfaatnya,” tutur Ajeng.

Sangat mungkin Mbah Sukiasih tak ubahnya gunung salju. Masih begitu banyak warga miskin yang bernasib sama. Mereka tidak memiliki akses untuk bisa masuk data base penerima bantuan. Pendataaan pun menjadi tidak presisi. Tidak akurat. Maka, intervensi penanganan persoalan kemiskinan atau kesejahteraan sosial pun tak ubahnya seperti lingkaran setan. Belum bisa sepenuhnya memberi obat bukan kepada orang sakit.

Editor : M. Sholahuddin

Reporter : mar/c6/aph

Saksikan video menarik berikut ini: