Operasi Pasar Bikin Harga Stabil tapi Daya Beli Cenderung Turun

23 September 2022, 11:44:51 WIB

JawaPos.com–Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan operasi pasar untuk menjaga kestabilan harga. Operasi pasar lumbung Jatim telah dilakukan sejumlah titik.

Menurut salah seorang dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair) Gigih Prihantono, stabilnya harga bahan pokok di tengah kenaikan BBM tidak serta merta menjaga daya beli masyarakat. Saat ini, daya beli masyarakat cenderung menurun.

”Harga di pasar saat ini harus ditinjau dari enam bulan ke belakang. Sekarang meskipun BBM naik, harga bapok relatif stabil. Tapi apabila melihat enam bulan ke belakang sebenarnya harga bapok ini sudah naik cukup tinggi,” ucap Gigih Prihantono.

Enam bulan ke belakang, menurut dia, harga bahan pangan telah mengalami kenaikan 10-15 persen. Kenaikan yang cukup signifikan itu, membuat daya beli cenderung menurun, kendati harga bahan pangan relatif stabil pasca kenaikan BBM pada 3 September.

”Upaya operasi pasar yang dilakukan pemerintah saat ini cukup efektif dalam menstabilkan harga. Saat ini pemerintah sudah tanggap dalam menangani kenaikan BBM. Selain meningkatkan supply lewat operasi pasar, pemerintah juga sudah meningkatkan demand melalui peningkatan alokasi anggaran keluarga harapan, subsidi angkutan, dan bahan pangan nontunai,” ungkap Gigih.

Upaya-upaya lain yang bisa juga dilakukan untuk mencegah inflasi antara lain perbaikan distribusi logistik, penurunan suku bunga pinjaman, dan meningkatkan impor. Menurut Gigih Prihantono, dampak kenaikan BBM masih akan terus dirasakan hingga 1-2 bulan ke depan.

Gigih menyatakan, pemerintah lebih memperhatikan keseimbangan antara pasar barang dan pasar keuangan. Ketika BBM naik dan terjadi inflasi, pemerintah biasanya menaikkan suku bunga yang berdampak terhadap kenaikan modal.

”Sekarang ini sudah naik. (suku bunga). Nah hal ini apabila dibiarkan dalam jangka waktu cukup lama dikhawatirkan akan menjadi bom waktu yang menyebabkan daya beli masyarakat justru menurun sebab biaya modal yang mahal,” terang Gigih.

Dia menambahkan, pemerintah diharapkan melakukan transparansi tata niaga migas dan konservasi atau shifting energi sehingga kenaikan BBM tidak sampai menyebabkan inflasi.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Salsabila Naqiyya Qoriroh

Saksikan video menarik berikut ini: