alexametrics

Kisah dan Perjuangan Anggota Komunitas Pejuang Dua Garis (2-Habis)

23 Juni 2022, 07:48:54 WIB

Komunitas Pejuang Dua Garis atau Menuju Dua Garis (MDG) yang dibentuk Rosiana Alim atau Mizz Rosie pada 2021 berhasil menyatukan ribuan orang yang berupaya memperoleh buah hati. Dari saling berbagi kisah, satu sama lain akhirnya tahu bahwa masing-masing punya kendala infertilitas yang beragam.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

SETAHUN mengawal Komunitas MDG, Rosie selaku founder menyadari bahwa kebanyakan anggota masih malu untuk terbuka pada lingkungan, teman-teman, bahkan keluarga. Mereka malu mengakui infertil. Namun, sejatinya mereka haus terhadap informasi. Bertemu dengan orang-orang orang dengan kasus serupa membuat mereka lebih terbuka dan tidak merasa sendiri.

”Kalau sudah ketemu satu sama lain, misalnya pas kopi darat, mereka lebih terbuka untuk cerita. Dan, setelahnya merasa plong.

Jadi, mereka punya semangat lagi sekaligus harapan baru,” ujarnya. Meski masih banyak yang tertutup karena berbagai alasan, ada pula beberapa anggota yang sudah jauh lebih terbuka. Bahkan sudah berani membagikan kisahnya di media sosial. Sebut saja Kartika, perempuan 28 tahun yang menceritakan kisahnya lewat video-video yang diunggahnya di media sosial. Dia membagikan pengalamannya yang tidak pernah mengalami menstruasi.

”Setelah dua bulan menikah, aku dan suami memeriksakan diri ke Malaysia. Di sanalah aku dinyatakan MRKH syndrome atau tidak memiliki rahim dan jalur vagina,” ungkapnya.

Namun, sebelum vonis itu keluar, Kartika sempat menjajal berbagai pengobatan tradisional. Misalnya, urut, mengonsumsi minuman herbal, hingga tindakan operasi tanpa bius dalam kondisi sadar 100 persen.

Karena tidak memiliki rahim, sudah bisa dipastikan Kartika tidak bisa mengandung. Satu-satunya cara untuk bisa memiliki anak kandung adalah metode surrogate mother atau ibu pengganti. Namun, tindakan itu masih dianggap ilegal di Indonesia. Sementara, di luar negeri, biayanya bisa mencapai hingga Rp 1 miliar.

Dari waktu ke waktu, dia berusaha menjadi sosok yang lebih tegar. Dia berusaha menerima kondisi karena sesungguhnya tidak ada pilihan lain.

”Aku percaya, di setiap ujian, Tuhan akan memberikan hadiah yang setimpal,” terangnya.

Lain lagi kisah yang dialami Caroline Lazaro. Menikah pada 2020, dia dan suami langsung mencoba untuk punya anak. Setelah enam bulan tidak ada tanda-tanda, Caroline merasa perlu memeriksakan dirinya ke dokter. Ada delapan dokter yang dia datangi. Dan, saat itu semuanya berkata tidak ada apa-apa.

Sampai akhirnya, dia melakukan riset sendiri dan memutuskan untuk menjalani cek anti-mullerian hormone (AMH). Hasil tes itu menyebutkan bahwa cadangan sel telurnya hampir tidak terdeteksi atau sudah mau habis. ”Dan, ternyata yang mengalami menopause dini seperti aku ini banyak sekali di Indonesia.

Namun, dengan berkumpul di komunitas, mereka saling menguatkan dan tetap berbagi. Mereka percaya pasti ada jalan terbaik.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads