alexametrics

Warga Surabaya, Waspadai Penularan Covid-19 di Lingkungan Keluarga

23 Mei 2020, 19:37:31 WIB

JawaPos.com – Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap kedua akan berakhir pada Senin (25/5). Dengan catatan bila tak diperpanjang lagi. Pemkot Surabaya masih terus menggalakkan tes secara masif melalui rapid test dan swab untuk melacak orang yang terjangkit Covid-19. Tes secara masif itu sekaligus untuk mitigasi dalam mengatasi pandemi virus korona jenis baru tersebut.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyampaikan langkah-langkah Pemkot Surabaya itu saat rapat analisis dan evaluasi Jumat (22/5).

Hadir dalam rapat tersebut Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Mohammad Fadil Imran, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansyah beserta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kota Surabaya di Graha Sawunggaling. Hadir pula camat, Kapolsek, dan Danramil di Surabaya. Rapat tersebut menerapkan prinsip physical distancing.

Risma mengungkapkan, dari 311 pasien yang terkonfirmasi positif itu, ada 48 pasien dengan status orang dengan risiko (ODR). ODR merupakan orang yang berasal dari luar kota atau luar negeri yang datang dari pelabuhan atau bandara. Mereka mendapatkan kartu kuning atau health alert card (HAC).

”Harus kita temukan (pasien terjangkit Covid-19). Kalau tak ditemukan, akan mengenai orang lain. Jadi, data yang ada sebetulnya beberapa yang positif 48 orang itu adalah orang dengan risiko,” jelas Risma saat menyampaikan paparan tersebut.

Hingga Jumat (22/5), tercatat jumlah secara kumulatif ODR sebanyak 5.069 orang, orang tanpa gejala (OTG) sebanyak 2.763 orang, orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 3.309 orang, pasien dalam pengawasan (PDP) 2.202 orang, dan pasien terkonfirmasi positif 1.566 orang.

Dalam dua pekan terakhir ini Pemkot Surabaya memang memperbanyak rapid test dan swab test. Total lebih dari 15 ribu rapid test. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.400 reaktif. Orang-orang yang reaktif tersebut lantas menjalani tes swab.

Risma mengungkapkan, dari hasil pelacakan kontak erat itu, penularan lebih banyak kepada keluarga dekat. Misalnya, dari suami, istri, atau anak. Data-data tersebut sudah berada di tangan Pemkot Surabaya. ”Kenapa kemudian kami bisa memantau siapa-siapa yang positif dari mana. Ketika klaster ditemukan. Kemudian hubungkan dengan data kependudukan,” ungkap Risma.

Pada anev tersebut muncul gagasan dari Kapolda Jawa Timur Irjen Mohammad Fadil Imran soal pembentukan kampung tangguh terhadap Covid-19. Ada pengurus kampung dan warga yang dilibatkan secara aktif untuk mengatasi persebaran korona di kampung tersebut. Dia mencontohkan di sebuah kampung di Malang yang sampai melibatkan akademisi dari Universitas Brawijaya.

”Sudah saatnya kita membuat kampung tangguh berbasis penyelesaian masalah atau problem oriented policing,” ungkap Fadil dalam paparannya. Dia meminta setidaknya dalam waktu dekat ada lima kampung tangguh yang menjadi percontohan di lima kecamatan.

Penanganan di perkampungan itu juga harus melibatkan secara aktif polsek, koramil, dan camat. Harus dilibatkan pula pihak puskesmas dalam struktur tersebut. Dia pun memberikan peringatan sekaligus target untuk para Kapolsek agar bisa menurunkan jumlah pasien Covid-19 di wilayah masing-masing. Bahkan, dia menjanjikan akan memberikan reward untuk para Kapolsek tersebut. ”Nanti tinggal bilang mau jadi Kasatlantas mana?” ujar dia.

Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansyah menambahkan bahwa salah satu kunci keberhasilan PSBB adalah di penegakan perwali tentang PSBB tersebut. Dengan penegakan aturan itu, penegasan juga diberikan kepada masyarakat.

”Perwali ini yang kita pegang. Satpol PP jangan takut karena menjalankan perwali ini kan satpol PP. TNI dan polisi mem-back up,” ungkap dia.

Penindakan tersebut juga diperlukan untuk memberikan efek jera kepada para pelanggar. Termasuk untuk memberikan daya kejut bagi warga lainnya. ”Kalau masih ada restoran yang membuka dan melayani makan di tempat, kan tidak boleh di perwali. Ini kita datangi ramai-ramai dan di-blow up di media sekalian,” tambah dia.

Lebih lanjut, Risma mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan dari semua pihak dalam upaya memutus mata rantai Covid-19. Menurut dia, situasi di lapangan kadang tidak semudah yang dibayangkan masyarakat. Sebab itu, berbagai dukungan yang mengalir itu akan membantu wali kota perempuan pertama di Surabaya tersebut dalam memutus mata rantai persebaran virus tersebut.

”Dengan support ini saya percaya kita bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan tepat. Sering kali kita lakukan negosiasi atau upaya persuasif saat meminta mereka (warga yang terkonfirmasi) untuk ke rumah sakit,” kata Risma.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads