alexametrics

Petugas Puskesmas Berjuang di Garis Depan saat Pandemi di Surabaya (4)

23 Mei 2020, 20:48:49 WIB

Tidak hanya melakukan pencegahan dan penelusuran orang yang pernah berkontak dengan pasien (tracing). Tugas berat yang diemban petugas Puskesmas Wonokromo adalah menghapus stigma buruk pasien di lingkungan mereka. Telaten dan sabar jadi kuncinya. Termasuk telaten meladeni sikap ”manja” dari mereka yang sedang diisolasi.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

Sudah dua bulan belakangan 16 petugas Puskesmas Wonokromo memiliki tugas khusus. Setiap pagi mereka selalu memantau ratusan orang yang sedang menjalani isolasi mandiri. Tidak hanya melalui pesan WhatsApp, pemantuan juga dilakukan secara langsung ke lokasi. Dengan menggunakan alat pelindung lengkap (APD), petugas disebar di beberapa titik. Dengan kata lain, pergerakan mereka menyesuaikan dengan persebaran orang sedang karantina mandiri.

Tugasnya pun beragam. Mulai memastikan kondisi pasien hingga melayani berbagai keluhan yang terkadang cukup ’’manja”.

Misalnya, minta ganti menu permakananan yang sudah dijatah oleh pemkot. Alasannya tidak cocok karena alergi. ”Kami harus sabar, saat itu juga petugas langsung memberikan obat alergi,” kata kepala Puskesmas Wonokromo dr Era Kartikawati kemarin pagi (22/5).

Menurut Era, sapaan akrabnya, tugas tersebut masih ringan. Sebab, banyak yang lebih berat lagi. Dan tentu perlu kesabaran ekstra. Dicemooh pasien hingga beradu argumen dengan para warga sekitar merupakan makanan sehari-hari bagi mereka.

Situasi dramatis dilalui Era pada bulan lalu. Ada salah seorang warga yang meninggal dunia di rumah sakit. Usut punya usut, ternyata warga tersebut positif Covid-19. Sayangnya, saat itu hasil swab test-nya belum keluar. Akibatnya, jenazahnya dibawa pulang ke rumah duka.

Awalnya, tidak ada masalah. Tapi, setelah hasil swab test keluar, isu mulai berkembang. Para tetangga pasien mengetahui soal itu. Situasi mulai tidak kondusif. Penanganan awal langsung dilakukan Puskesmas, yakni melakukan rapid test kepada sembilan anggota keluarga.

Hasilnya, ternyata satu orang dinyatakan reaktif. Pemkot langusng melakukan karantina di salah satu hotel. Masalahnya, dari sembilan anggota keluarga itu, tiga di antaranya ber-KTP luar Surabaya. Termasuk satu anggota keluarga yang rapid test-nya reaktif. Jalan keluar pun diputuskan. Yakni, memisahkan tiga orang itu selama masa karantina. ”Ada yang dikoskan dan ada yang tinggal di rumah,” kata Era.

Untuk yang reaktif, dia ditempatkan di rumahnya. Dua lagi dikoskan dan enam lainnya karantina mandiri di salah satu hotel mengingat ber-KTP Surabaya. Karena pemahaman masyarakat masih kurang, akhirnya konflik mulai muncul.

Yang indekos hendak diusir oleh warga. Alasannya, warga takut terpapar virus. Situasi kembali tidak kondusif. Anggota polsek dan koramil didatangkan. Tujuannya, meredam amarah warga. Selama 14 hari, Era waswas tak keruan. Dia takut jika ada sesuatu yang dilakukan warga di luar kendalinya.

Berbagai upaya dilakukan. Mulai sosialisasi hingga adu argumen antara petugas Puskesmas dan warga sekitar. Era menyatakan, padahal jelas-jelas hasil rapid test mereka reaktif dan satu yang reaktif itu pun masih menunggu kepastian dari swab test.

Bahkan, saat itu warga hingga berdemo kepada pihak RW. Tuntutannya, menyuruh keluarga yang ngekos itu untuk pindah tempat. Perasaan Era semakin campur aduk, bingung, dan tak tahu harus berbuat apa lagi. Sebab, berbagai upaya telah dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut.

Menurut Era, saat itu keluarga yang reaktif hendak dibawa ke rumah sakit rujukan. Tapi, hal tersebut urung dilakukan mengingat semua rumah sakit sudah penuh. Jalan satu-satunya karantina mandiri sembari menunggu hasil swab test keluar.

Setelah 14 hari, hasil swab test keluarga itu keluar. Sayangnya, khusus yang reaktif, hasilnya malah belum keluar. Artinya, situasi belum terkendali. ”Kan lama tidaknya tergantung dari setiap rumah sakit,” kata Era.

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Semua hasil swab test keluar. Semuanya negatif terpapar Covid-19. Mereka akhirnya kembali ke tempat tinggal masing-masing. Meski begitu, stigma buruk masih berkembang di masyakarat. Masalah tersebut tidak hanya terjadi di satu tempat. Tetapi, juga di beberapa wilayah Wonokromo yang lain.

Hingga saat ini, Puskesmas Wonokromo mengawasi sekitar seratus orang. Baik mereka yang status ODP (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan), maupun OTG (orang tanpa gejala). Semuanya dipantau secara ketat. Tak sedikit juga yang dikucilkan di lingkungannya. Alhasil, itu membuat pasien tertekan. Malu, takut, dan tidak tenang dengan lingkungan sekitar.

Karena itu, banyak pasien yang marah saat didatangi petugas Puskesmas untuk memantau kondisi mereka. Sebab, kedatangan petugas dengan mengenakan APD lengkap mengundang perhatian orang sekitar. Tak jarang, petugas diusir.

Menurut dia, yang paling berat adalah stigma yang berkembang di masyarakat. Karena itu, saat ada yang masuk status ODP, PDP, OTG, bahkan positif, tetangganya tidak diberi tahu. Informasi sebatas diketahui lurah, ketua RT, dan ketua RW.

Berdasar temuan petugas puskesmas, tak jarang mereka yang harusnya dikarantina masih berkeliaran di luar rumah. Karena itu, penanganan pencegahan Covid-19 tak cukup dilakukan oleh puskesmas. Sinergisitas dari semua pihak harus dilakukan.

Meski begitu, tak dimungkiri kesadaran dan solidaritas di masyarakat kini mulai tumbuh. Sebab, ada juga warganya yang sedang isolasi mandiri dan keberlangsungan hidupnya dibantu tetangga. Misalnya, untuk kebutuhan makan, yang membelanjakan adalah para tetangga. Hasil belanjaannya diletakkan di pagar rumah pasien.

Jadi, kata dia, mereka tinggal mencatat apa saja keperluannya, nanti dicarikan tetangga sekitar. Dengan begitu, pasien bisa benar-benar menjalani karantina mandiri. Di samping ada tim yang khusus memantau, pihaknya juga membuat petugas pembagian pokak dan telur. Bahkan, setiap hari mereka mendatangi rumah pasien.

Jangan heran saat masa karantina selesai dan dinyatakan negatif, beberapa warga itu justru seperti saudara. Banyak yang mengucapkan terima kasih atas perhatian Puskesmas. ”Hal ini yang justru membuat kami semakin dekat dengan warga,” terangnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads