alexametrics

Kombinasi Pilwali Surabaya Bisa Sama dengan Pilpres, Usul PDIP-NU

22 September 2019, 20:59:17 WIB

JawaPos.com – DPD PDIP Jatim menentukan sikap terkait dengan seleksi bakal calon wali kota dan wakil wali kota besok (23/9). Sebanyak 18 pendaftar yang mengikuti seleksi bakal disaring dan diserahkan ke pimpinan pusat. Sebelum nama-nama itu dikirim, mantan Ketua DPRD Surabaya Armuji yang mendaftar sebagai wakil wali kota sudah memulai perang urat saraf.

Pada berita sebelumnya, Armuji menyatakan bahwa kader non-PDIP bakal kesulitan mendapat rekomendasi. Sebanyak 8 di antara 18 nama yang mendaftar memang bukan kader PDIP. Ada yang berasal dari kalangan militer, pengusaha, hingga politikus partai lain. Bahkan, Armuji menuturkan, beberapa orang ikut-ikutan mendaftar karena ingin mencari sensasi.

Pernyataan itu direspons Dwi Astutik. Tokoh Muslimat NU itu sudah memahami karakter Armuji yang ceplas-ceplos. ”Kami tidak kaget. Biarkan saja Pak Armuji bilang begitu. Yang jelas, kami sudah diberi pintu oleh PDIP,” ujarnya kemarin.

Dwi mempunyai argumen tandingan. Menurut dia, PDIP justru memiliki kekuatan tambahan jika menggandeng tokoh dari luar partai. Jika yang diandalkan hanya suara PDIP, itu tentu bakal sulit. Pilwali tahun depan bakal berbeda dengan pertarungan 2015. Saat itu Wali Kota Tri Rismaharini didampingi kader PDIP Whisnu Sakti Buana. Gabungan keduanya membuat PDIP menang mudah.

Saat ini kondisinya berbeda. Risma tak lagi boleh mencalonkan diri. Dwi meyakini PDIP pasti berhitung untuk menentukan langkah dalam pilwali nanti. Kombinasi pilwali bisa jadi akan sama dengan pemilihan presiden (pilpres). Jokowi menggandeng Kiai Ma’ruf Amin dari NU.

Dwi merupakan kader NU tulen. Dia aktif di Muslimat NU selama 30 tahun. Selain itu, dia menjabat ketua Forum Taman Baca Masyarakat Jatim, pengurus Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Jatim, bendahara Dewan Pendidikan Jatim, wakil ketua PWNU LP Ma’arif Jatim, wakil ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, ketua Forum PAUD Jatim, bendahara Ikatan Sarjana NU (ISNU) Jatim, dan pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Jatim. Banyak di ataranya adalah organisasi sayap NU. ”Jika menggandeng kader NU, sudah pasti lebih banyak untungnya,” ungkap perempuan yang menempuh studi S-2 dan S-3 di Universitas Airlangga itu.

Armuji tak mau menarik ucapannya. Dia masih yakin kader non-PDIP bakal kesulitan mendapat rekomendasi. Jika Dwi menyatakan diri sebagai NU tulen, Armuji pun begitu. ”Lha aku yo NU eh,” ucapnya kemarin.

Anggota DPRD Jatim itu sepakat suara NU di Surabaya memang sangat diperhitungkan. Namun, untuk menjadi wakil wali kota Surabaya, PDIP tak perlu mengambil calon dari luar partai. Menurut dia, banyak kader PDIP dari NU.

Armuji mengungkapkan, PDIP terdiri atas beragam elemen masyarakat. Bukan hanya NU, juga ada Muhammadiyah dan organisasi lainnya. Namun, perbedaan itu tak perlu disekat-sekat. ”PDIP kan terbuka untuk umum,” katanya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sal/c20/ady



Close Ads