alexametrics

Hakim Itong Empat Kali Terima Suap

22 Juni 2022, 20:48:52 WIB

JawaPos.com – Hakim Itong Isnaeni Hidayat telah empat kali menerima suap dari pihak yang beperkara selama berdinas di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Pria asal Brebes itu dua kali menerima suap dari advokat RM Hendro Kasiono melalui panitera pengganti M. Hamdan. Perbuatan Itong terungkap dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum KPK. Hendro dan Hamdan juga didakwa secara terpisah dalam perkara yang sama.

Jaksa penuntut umum KPK Wawan Yunarwanto dalam dakwaannya mengungkapkan, selain menerima suap dari Hendro melalui Hamdan terkait perkara permohonan pembubaran PT Soyu Giri Primedika (SGP).

Itong juga menerima suap dari Hendro terkait permohonan penetapan ahli waris dengan pemohon Made Sri Manggalawati.

Hendro sebagai pengacara pemohon awalnya berkoordinasi dulu dengan Hamdan sebelum mendaftarkan permohonan di PN Surabaya. Dia bertanya kepada Hamdan mengenai persyaratan dan mekanisme mengajukan permohonan. Pertanyaan dari Hendro kemudian diteruskan Hamdan kepada Itong yang selanjutnya menjawab melalui pesan WhatsApp. Jawaban dari Itong kemudian dijadikan acuan Hendro untuk mengajukan permohonan di pengadilan.

Sebelum permohonan didaftarkan, Itong meminta Hendro untuk mengirim uang yang akan diserahkan kepada Wakil Ketua PN Surabaya Dju Johnson Mira Mangngi. ”Dengan maksud supaya terdakwa (Itong) ditunjuk sebagai hakim dalam perkara permohonan pembubaran PT SGP,’’ kata jaksa Wawan saat membacakan surat dakwaan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya kemarin (21/6).

Hendro lantas meminta kepada kliennya, Abdul Majid Umar, yang selanjutnya menyerahkan cek kepadanya senilai Rp 1,35 miliar. Cek itu dicairkan Rp 200 juta untuk diserahkan kepada Hamdan. Namun, Hamdan masih meminta tambahan Rp 60 juta. Uang Rp 260 juta itu diterima Hamdan. Setelah permohonan tersebut teregister, Itong ditunjuk sebagai hakim tunggal yang menyidangkan perkara itu dan Hamdan sebagai panitera pengganti.

Itong sepakat untuk mengabulkan permohonan tersebut asalkan sebelum pembacaan putusan, Hendro menyetor uang lagi Rp 150 juta. Hendro kemudian datang ke PN dengan membawa Rp 140 juta. Hamdan meminta Hendro menyerahkan uang itu dengan memasukkannya ke dalam mobil Honda Brio yang diparkir di PN Surabaya. Saat itulah, Hendro dan Hamdan ditangkap petugas KPK.

Itong juga menerima Rp 50 juta dari Hendro melalui Hamdan dalam pengurusan permohonan penetapan ahli waris. Total uang yang diterima Itong dan Hamdan dari Hendro Rp 450 juta. ”Dengan maksud untuk memengaruhi terdakwa selaku hakim PN Surabaya agar mengabulkan permohonan sesuai yang diajukan RM Hendro Kasiono,’’ tutur jaksa.

Di dalam dakwaan kedua jaksa penuntut umum, Itong juga disebut telah menerima gratifikasi Rp 95 juta dari dua orang yang sedang beperkara di PN Surabaya. Uang itu diterimanya di SPBU Jalan Kenjeran. Namun, sebelum jaksa Gina Saraswati membacakan uraian surat dakwaan lebih lanjut, Ketua Majelis Hakim Tongani yang juga teman Itong sesama hakim yang berdinas di PN Surabaya menghentikannya.

”Langsung dibacakan pasalnya saja,’’ kata hakim Tongani. ”Tapi, ini dakwaan yang berbeda, Yang Mulia,’’ jawab jaksa Gina. ”Iya, langsung pasalnya saja,’’ tegas Tongani. Jaksa Gina akhirnya menuruti permintaan hakim dengan membacakan pasal gratifikasi yang didakwakan kepada Itong.

Sementara itu, Itong melalui pengacaranya, Mulyadi, mengajukan eksepsi terhadap dakwaan jaksa. Itong menegaskan bahwa perbuatannya yang diuraikan dalam dakwaan jaksa sama sekali tidak benar. Itong juga keberatan disidang secara telekonferensi. Dia meminta agar dihadirkan langsung dalam persidangan. ”Perbuatan pidana yang didakwakan kepada saya semuanya tidak benar,’’ kata Itong dalam sidang telekonferensi dari Rutan Kelas I Surabaya di Medaeng.

Secara terpisah, pengacara Hendro, Harsono Njoto, menyatakan bahwa kliennya bukan pihak yang ditangkap KPK. Hendro hanya dicokot Hamdan. Pihaknya akan membuktikan dalam persidangan apakah kliennya benar memberikan suap atau tidak. Sementara itu, pengacara Hamdan menolak saat berusaha dikonfirmasi seusai persidangan.

Dju Johnson saat dikonfirmasi melalui Humas Pengadilan Tipikor Surabaya Ketut Suarta menyatakan bahwa itu hak jaksa dalam membuat surat dakwaan. Benar atau tidaknya Johnson menerima suap tersebut nanti dibuktikan dalam persidangan. Johnson juga akan menjadi saksi dalam persidangan.

”Ini kan baru awal. Nanti diperiksa saksi-saksi dalam pembuktian. Benar tidak apa yang didakwakan jaksa,’’ kata Suarta.

ALUR PENGATURAN PERKARA HAKIM ITONG

– Pengacara RM Hendro Kasiono berkoordinasi dengan panitera pengganti M. Hamdan.

– Hamdan meneruskan kepada Itong yang kemudian menjawab persyaratan pengajuan permohonan melalui WhatsApp.

– Jawaban dari Itong dijadikan acuan Hendro untuk mengajukan permohonan.

– Itong melalui Hamdan meminta Hendro menyerahkan uang kepada wakil ketua PN Surabaya agar dirinya ditunjuk sebagai hakim yang menyidangkan perkara tersebut.

– Sebelum pembacaan putusan, Itong melalui Hamdan meminta uang tambahan untuk mengabulkan permohonan tersebut.

– Itong telah menerima suap untuk empat perkara.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gas/c6/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads