Ubah Pasar yang Mati Suri Harus Sesuai Kebutuhan dan Minat Pengunjung

22 Mei 2022, 12:48:44 WIB

JawaPos.com – Sejumlah pasar di Surabaya menunjukkan aktivitas yang minim hingga bisa disebut mati suri. Upaya untuk menghidupkan aktivitas ekonomi pun dilakukan. Tak lagi fokus pada fungsi sebagai tempat jual beli bahan pokok, konsep diperluas sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Saat ini setidaknya ada sebelas pasar yang dikelola Pemkot melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro-Menengah, dan Perdagangan (Diskumdag) Surabaya. Kondisi beberapa di antara pasar-pasar tersebut memprihatinkan. Tidak ada aktivitas dagang. Meskipun ada, bisa dibilang sepi.

Upaya untuk membangkitkan aktivitas di lokasi-lokasi itu dilakukan tahun ini. Dengan gagasan baru, aset-aset tersebut dicoba untuk dirombak dalam bentuk lain. Disesuaikan dengan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya.

”Jadi tak lagi fokus pada pemenuhan bahan-bahan pokok. Namun, kita upayakan untuk mereposisi pasar-pasar yang potensinya sudah mentok. Kami ubah menjadi pasar tematik,” terang Kabid Distribusi Perdagangan Diskumdag Surabaya Devie Afrianto.

Seperti Pasar Penjaringan Sari yang telah dibangun sejak 2019. Selama dua tahun berjalan, fungsi sebagai pasar kebutuhan bahan pokok kurang maksimal. Potensi bisnisnya kecil sekali. Berkali-kali pula keluar masuk pedagang anyar dilakukan.

”Namun, tetap saja hasilnya tidak maksimal. Kemudian, kami lihat lagi, apa ya yang bisa dikembangkan di sana. Nah, untuk Pasar Penjaringan Sari, cukup potensial untuk dibuat sebagai pasar malam angkringan,” jelasnya.

Sarana dagang yang tersedia di Pasar Penjaringan Sari dinilai sangat kurang. Meja jualan yang disediakan kecil. Sehingga tidak cukup muat untuk menggelar dagangan.

”Kami sudah membuka omongan dengan warga di sana, yang pasti mereka mendukung. Target kami pasar itu bisa segera beroperasi dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Konsepnya meminimalkan perubahan dulu,” papar Devie.

Pasar lain yang juga dikonsep ulang adalah Pasar Gunung Anyar. Devie mengatakan, nanti pasar tersebut tetap menjadi pasar bahan pokok. Namun sebagai percontohan pasar modern dan higienis. Baik dari aspek lingkungan maupun fasilitasnya.

”Lalu, ada Pasar Keputih yang dikonsep ulang menjadi pasar wisata. Karena di sana ada kebangkitan ekonomi dari taman. Sehingga lebih potensial untuk wisata,” ujarnya.

Devie juga menyebut Pasar Jambangan, yang lokasinya hanya 1,3 kilometer dari Pasar Karah. Dia menerangkan, Pasar Jambangan bakal dikonsep sebagai komplementer Pasar Karah, yakni sebagai pasar khusus bahan pokok.

Sekarang rehabilitasi dan perubahan konsep bisnis pasar yang ada terus dilakukan secara bertahap. Pihaknya berharap tahun ini reposisi fungsi pasar bisa terwujud. ”Kami berharap demikian. Tentunya perlu dukungan juga dari masyarakat. Apalagi, nantinya pedagang yang ada di sana turut melibatkan warga yang masuk kategori MBR. Sebagai upaya pengentasan (kemiskinan) dan meningkatkan kesejahteraan,” paparnya.

Dorong Pedagang Pasar Masuk ke E-Peken

KONDISI pasar yang tak bergairah tidak boleh dibiarkan terus-menerus. Anggota Komisi B DPRD Surabaya Zuhrotul Mar’ah mengatakan, kondisi tersebut tentu tak menguntungkan pedagang dan banyak pihak lain. Dia mengusulkan, pedagang yang ada di PD Pasar Surya (PDPS) difasilitasi untuk berdagang di e-Peken. Dengan begitu, lingkup pemasaran pedagang bisa lebih luas. Tidak hanya bergantung di pasar tempatnya berdagang.

’’Apalagi, kini e-Peken sudah dibuka untuk umum. Yang bisa belanja bukan hanya dari kalangan aparatur sipil negara (ASN),” tutur Zuhrotul.

Kemudian, PR Pemkot Surabaya berikutnya adalah sosialisasi e-Peken kepada masyarakat. Sosialisasi aplikasi buatan pemkot tersebut dinilai kurang masif. Hal itu terbukti ketika Zuhrotul menjalani reses di Jalan Kupang Segunting III. Anggota legislatif yang juga berprofesi sebagai dokter umum itu menyatakan, sosialisasi e-Peken harus sampai di lapisan bawah. RT-RW, misalnya.

Dia mengungkapkan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melimpah di Kupang Segunting. Karena itu, sangat disayangkan jika masyarakat kurang paham apa itu e-Peken. ’’Saya optimistis pasar-pasar yang sebelumnya sepi, ketika dipadukan dengan teknologi e-Peken, bisa bergeliat lagi,” papar Zuhrotul.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi B Anas Karno mengatakan, apabila banyak pedagang di luar pasar sementara di dalam pasar sepi penjual, Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya bisa mengedukasi pedagang lebih dulu. Kemudian, jika pedagang mengeluhkan fasilitas pasar, PDPS bisa mengupayakan untuk segera memperbaiki.

Menurut dia, pasar memiliki potensi ekonomi yang luar biasa. Karena itu, PD Pasar Surya harus melihat itu lebih jeli. ’’Jika perlu, ada program relaksasi retribusi untuk pedagang di luar pasar supaya masuk ke dalam, coba kaji dulu,” tutur Anas beberapa waktu lalu.

REVITALISASI HIDUPKAN MOTOR EKONOMI

– Ada 11 pasar yang dikelola diskumdag.

– Pasar itu berawal dari pasar rakyat yang berjualan bahan pokok.

– Perubahan konsep dilakukan agar fungsi aset lebih maksimal.

– Perubahan disesuaikan dengan potensi dan lokasi pasar, misalnya pasar wisata, angkringan, dan komplementer.

– Sudah ada 3 pasar yang diajukan ke DPRKPP untuk direhabilitasi.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gal/sam/eza/c17/ady

Saksikan video menarik berikut ini: