Keunikan Tradisi Bandungan Warga Lumpur Gresik

22 Mei 2022, 22:37:52 WIB

JawaPos.com- Pagi begitu cerah. Seolah mengabarkan suasana bahagia. Awan menggelantung tipis. Menghias biru langit di perairan Kelurahan Lumpur. Puluhan perahu berjajar rapi di tepi dermaga. Ratusan orang berjalan beriringan. Laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja hingga dewasa. Menuju perahu-perahu itu.

Tampak sekelompok orang membawa sebuah replika perahu. Bentuknya apik. Berhias bangunan balai. Di dalam perahu kecil itu terlihat semacam sesajian. Ada jajan pasar hingga bunga. Salawat Nabi diiringi tetabuhan alat pukul terbang mengalun. Menjadi pengantar rombongan.

Perahu-perahu itu pun bergerak. Berpayung langit biru. Menjauh dari dermaga. Menuju ke tengah laut. Bendera merah putih yang terpasang di masing-masing berkibar indah. Melambai-lambai. Seperti ingin menunjukkan kepada setiap pasang mata yang melihatnya. Inilah salah satu kekayaan tradisi di bumi pertiwi. Nusantara.

Ya, itulah sekilas gambaran tradisi Bandungan, salah satu rangkaian peringatan haul Sindujoyo. Yang digelar warga Kelurahan Lumpur, Gresik, pada Minggu (22/5). ‘’Tradisi Bandungan ini sudah turun-temurun dilaksanakan sejak bertahun-tahun lalu dan dilestarikan hingga sekarang,’’ kata Abdul Majid, salah seorang tokoh masyarakat Kelurahan Lumpur.

Dari puluhan perahu itu, ada tiga perahu yang digandeng jadi satu. Lalu, ditarik satu perahu menuju ke tengah laut. Perahu ini dinaiki para tokoh yang memimpin prosesi Bandungan dan rombongan hadrah banjari. Perahu-perahu lain lantas mengiringinya. Selawat terus terdengar. Perahu-perahu itu milik warga atau para nelayan Kelurahan Lumpur sendiri.

Sesampai di tengah laut, perahu-perahu itu berkeliling selama beberapa menit. Mencari posisi sesuai yang diinginkan. Yakni, mesti lurus dari laut wilayah Lumpur dengan arah makam Sunan Giri dan Bale Kambang. Begitu sudah lurus, maka dilakukan ritual melarung replika perahu yang berisi semacam sesajian itu dengan diiringi pembacaan salawat.

Selanjutnya, warga berdoa bersama. Lalu, seluruh perahu itu merapat. Mereka makan bareng. Panitia sudah menyiapkan nasi tumpeng. Beserta lauk-pauknya, ikan, telur dan ayam panggang, jajanan pasar, dan buah-buahan. Setelah selesai, panitia memberikan aba-aba bahwa prosesi tradisi Bandungan selesai. Perahu-perahu itu kembali menepi bersama bunyi lirih ombak yang bersahabat.

‘’Tradisi ini sebagai salah satu wujud syukur atas kepada Allah SWT atas hasil tangkapan ikan di laut. Selain itu, berdoa agar warga dan nelayan Lumpur yang kerja di laut agar terhindar dari musibah,’’ jelas Abdul Majid.

Lumpur termasuk salah satu masyarakat nelayan di Kabupaten Gresik. Selama bertahun-tahun, ratusan warga yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan di laut. April 2022 lalu, Presiden RI Joko Widodo juga sempat berkunjung ke kampung Lumpur tersebut. Presiden juga sempat berdialog dengan sejumlah nelayan. Kesempatan itupun dimanfaatkan nelayan untuk curhat.

Setidaknya, ada tiga disampaikan perwakilan nelayan kepada Presiden. Pertama, kesulitan mendapatkan BBM solar untuk melaut. Kedua, pendangkalan wilayah perairan. Perahu nelayan kesulitan sandar. Ketiga, status kepemilikan tanah yang ditempati para nelayan di kampung sekitar pantai.

 

Perkembangan Haul Sindujoyo 

Haul Sindujoyo yang rutin setiap tahun diselenggarakan warga Lumpur, itu termasuk salah satu di antara tradisi unik dari sekian banyak kegiatan haul di Kabupaten Gresik. Keunikannya, pada tata pelaksanaannya yang digelar di beberapa tempat dan nilai-nilai akulturasi.

Mengutip hasil penelitian Sulfiyah, mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Unesa, seperti dimuat dalam Avatara e-Jurnal Pendidikan Sejarah, awalnya tradisi yang untuk mengenang jasa Mbah Sindujoyo di Kelurahan Lumpur itu bernama wayang bumi. Namun, pada 1965, tradisi wayang bumi itu berganti menjadi tradisi haul Sindujoyo.

Pergantian wayang bumi menuju ke haul Sindujoyo tersebut dilatarbelakangi meletusnya G30S/PKI 1965. Banyak prosesi peringatan tradisi wayang bumi yang disalahgunakan untuk kegiatan maksiat seperti tayuban, saweran, dan minum-minuman keras. Saat itu, tradisi tersebut cenderung dianggap sebagai tradisi yang bernuansa LEKRA (lembaga kebudayaan rakyat) milik PKI.

Menghindari tuduhan sebagai anggota PKI karena telah menjalankan kesenian wayang bumi, warga pun mendekat kepada kiai. Mereka meminta saran agar tradisi wayang bumi tidak dianggap sebagai kesenian milik PKI. Warga kemudian mengutus seorang tokoh dari Kelurahan Lumpur untuk bersilaturrahmi dan meminta saran kepada KH Mas Muhammad Nur, dari Branjangan, Surabaya.

Saran yang diberikan KH Mas Muhammad Nur adalah mengubah wayang bumi menjadi tradisi bernuansa Islami. Atas kesepakatan masyarakat dan menghindari tuduhan sebagai anggota PKI, serta menjaga tradisi tetap lestari, maka masyarakat pun bersepakat mengubah wayang bumi menjadi haul Sindujoyo.

Dalam perkembangannya, haul Sindujoyo mendapat sambutan positif dari masyarakat Kelurahan Lumpur. Karena itu, pada 1965 mulai dilakukan haul Sindujoyo untuk kali pertama. Tata laksana tradisi haul Sindujoyo dari kurun 1965 hingga sekarang mengalami sejumlah perkembangan.

Dulu, hanya dilakukan di dua tempat saja. Yakni, di makam Mbah Sindujoyo dan di Bale Kambang. Awalnya, masyarakat Lumpur berkumpul di Bale Kambang. Kemudian, mereka bersama-sama menuju ke makam Mbah Sindujoyo. Baik di Kelurahan Karangpoh dan di kompleks  makam Sunan Prapen.

Belakangan, haul Sindujoyo dilakukan di makam Mbah Sindujoyo dan di lima bale, yaitu Bale Kambang atau Bale Gede, Bale Cilik, Bale Purbo, Bale Wonorejo, dan Bale Pesusuan. Prosesi dilakukan di lima bale tersebut karena  sebagai tempat untuk peristirahatan para nelayan.

Pelaksanaan tradisi haul Sindujoyo dimulai dari Bale Kambang. Kemudian, di Bale Cilik, yang dilakukan di laut dinamakan tradisi Bandungan. Tempat ketiga adalah Bale Purbo, dan keempat di Bale Wonorejo, serta terakhir bertempat di Bale Pesusuan.

Acara haul Sindujoyo di Bale Purbo, Bale Wonorejo, dan Bale Pesusuan memiliki tata pelaksanaan yang sama. Yang membedakan hanya tanggal pelaksanaannya. Prosesi dimulai pada pagi dengan khataman Alquran. Selesai khataman, malam dilanjut salawatan, pembacaan Yasin dan Tahlil, serta ceramah agama.

Replika perahu yang berisi semacam sesajian dilarung ke laut lepa dalam tradisi Bandungan warga Kelurahan Lumpur, Gresik.

Sosok Mbah Sindujoyo

Ada sejumlah versi tentang sosok Sindujoyo. Salah satu di antaranya seperti dalam buku Babad Sindujoyo, penulis Kiai Tarub. Disebutkan, nama asli Sindujoyo adalah Pangaskarta, putra dari Kiai Kening, Desa Klating, Kecamatan Tikung, Lamongan.

Sindujoyo suka berkelana. Mencari dan menuntut ilmu agama. Atas doa restu bapak dan ibunya, Sindujoyo pergi ke Pondok Pesantren Sunan Prapen, keturunan Sunan Giri, di Gresik. Dalam menuntut ilmu, Sindujoyo telah mendapat gemblengan bermacam-macam ilmu. Mulai ilmu syariat, tarekat, makrifat dan ilmu lainnya.

Selama nyantri di Sunan Prapen, Sindujoyo berkenalan dengan santri bernama Iman Sujono, putra Kadim. Keduanya seperti saudara sendiri. Setelah mendapat gemblengan ilmu yang cukup, keduanya melanjutkan perjalanan untuk berkelana lagi. Dari satu tempat ke tempat lain. Keduanya pun bertemu dengan Salam dan Salim.

Singkat cerita, keempat orang itu kemudian terus berkelana mencari tempat yang tenang bertirakat. Di antaranya di Gua Sigolo-Golo. Tiga bulan mereka di gua yang berada di wilayah Sragen, Jateng, itu. Lalu, datanglah dua orang utusan Sunan Amangkurat Kertasura, Jateng. Tujuannya, meminta tolong dan berkenan mengikuti sayembara melawan Tumenggung Banyumas.

Akhirnya, mereka berempat berhasil memenangkan sayembara dan sekaligus berhasil menangkap Tumenggung Banyumas yang dikenal congkak dan sombong. Keempat orang itu diberi hadiah berupa seekor kerbau berkulit abu-abu atau kebo bule. Pangkaskarta juga mendapat gelar Sindujoyo dari Sunan Amangkurat. Setelah itu, Sindujoyo pamit pulang kembali.

Dalam buku itu juga dikisahkan, suatu ketika Sindujoyo mencari ikan di laut atau nyodo. Saat itu, Sindujoyo melihat ada rombongan prajurit dari Ngampel naik perahu. Lalu, Sindujoyo pun ikut di belakangnya dengan menggunakan perahu.

Dalam peperangan, prajurit Ngampel mengalami kekalahan. Lalu, meminta tolong pada Sindujoyo. Berangkatlah rombongan prajurit Ngampel dengan dipimpin Sindujoyo menuju daerah Gumeno, dan beristirahat di masjid Gumeno.

Tak lama kemudian, Sindujoyo memukul beduk masjid Gumeno sebagai tanda ada peperangan. Maka terjadilah peperangan. Sindujoyo berhadapan langsung dengan Kidang Palih sebagai panglima prajurit Gumeno. Sindujoyo memenangkan peperangan. Kidang Palih dan istrinya terbunuh.

Atas kemenangan itu, Sindujoyo mendapat hadiah seekor kerbau kecil kurus. Namun, tak lama kerbau itu mati. Akhirnya, Sindujoyo masuk ke dalam tubuh kerbau dan terhanyut di laut, kemudian tersangkut dan berhenti di Karang Pasung, Kroman.

Ketika menjalani kehidupan sebagai nelayan, suatu hari Sindujoyo melihat seekor buaya kecil terjepit di pohon. Dengan hati yang tulus dan ikhlas, dia menolong buaya itu dan memasukkan kembali ke laut. Ternyata buaya kecil yang ditolong Sindujoyo itu adalah anak dari Si Remeng, buaya milik Kiai Sindupati Dermaling, Bangkalan, Madura.

Suatu saat, Sindujoyo kedatangan tamu Sindupati dengan di antar Si Remeng. Tujuannya menyampaikan terima kasih. Selain itu, meminta tolong karena Sindupati akan mengikuti sabung ayam di Mengare. Lalu, Sindujoyo memberi palu dan berpesan jika sampai di daratan Mengare, palu itu digosok 3 kali sambil berkokok. Berubahlah palu itu menjadi seekor ayam.

Maka, terjadilah sabung ayam antara Si Palu milik Sindupati dengan ayam Si Gongso milik Kiai Mengare. Akhirnya, ayam Si Palu menang. Sindupati pun menceritakan bahwa ayamnya adalah pemberian dari Sindupati. Karena tertarik, Kiai Mengare ingin bertemu dengan Sindujoyo.

Lantas, Sindujoyo menganggap semua tamu yang datang ke rumahnya sebagai saudara sendiri. Pesannya sambil berdoa bersama agar semoga warga di sekitar Kroman kelak dijadikan oleh Allah SWT suka bersedekah sambil mengadakan selamatan nasi tumpeng dengan ikan yang bermacam-macam, sayur-sayuran, jajan pasar, ketan empat macam, dan dilaksanakan satu tahun sekali. Selain itu, berdoa semoga semua nelayan diberikan rezeki ikan yang cukup serta berkat kuat dan selamat dari Allah SWT.

Diceritakan, sosok Sindujoyo memiliki kepribadian yang sangat menonjol. Beberapa di antaranya suka berkelana untuk mencari, menambah, dan menuntut ilmu agama, budi pekertinya sangat halus dan sabar, andap asor atau sopan santun tinggi, tidak suka mengumbar bicara, nada bicaranya pelan dan halus.

Selain itu, suka menolong terutama dalam menghadapi bahaya dan kesombongan, suka berdoa dan munajat kepada Allah SWT, baik untuk dirinya, keluarganya maupun untuk anak cucunya.

Editor : M. Sholahuddin

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads