alexametrics

Khusus Desa Waru Lockdown Total, RT/RW Diminta Tak Ewuh Pekewuh

22 Mei 2020, 16:43:25 WIB

JawaPos.com – Pengawasan pelaksanaan PSBB di Waru Sidoarjo berada di pundak pengurus RT dan RW setempat. Merekalah garda terdepan. Pemkab, Polri, dan TNI meminta perwakilan kampung siap tegas demi warga sendiri. Setiap warga yang keluar dan masuk diseleksi.

Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji menjelaskan, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jilid II berbeda dengan PSBB pertama. Warga dilibatkan. Tujuannya, membendung persebaran virus korona. Pelibatan warga itu, antara lain, terlihat dari perlunya surat keterangan RT/RW. Regulasi tersebut bertujuan membatasi keluar masuknya warga kampung. Tanpa ada urusan yang mendesak.

Sumardji meminta pengurus RT/RW tidak asal mengeluarkan surat keterangan. Tujuan keluar rumah harus pasti. Selain itu, kesehatan warga dipelototi. ”Yang statusnya PDP, ODP, apalagi yang terkonfirmasi dilarang keluar,” jelasnya.

Tugas lain ialah berjaga di checkpoint desa serta kelurahan. RT dan RW harus menempatkan relawan. Tugasnya menyeleksi orang yang lalu-lalang. Lagi-lagi, Sumardji meminta petugas harus tegas. ”Jangan ewuh pekewuh. Kalau bukan warga kampung, minta mereka balik. Warga harus menunjukkan surat keterangan RT/RW,” paparnya.

Relawan bakal didampingi petugas dari Polri dan TNI. Tugasnya membantu para relawan. Misalnya, ketika ada warga yang sudah diperingatkan tetap di rumah, tetapi tetap melawan, tindakan tegas menjadi tugas TNI dan Polri.

Plt Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin mengatakan, bantuan relawan dari RT/RW memang sangat dibutuhkan. Sebab, perwakilan kampunglah yang mengetahui warga terpapar korona atau tidak. ”Sehingga kalau warga yang terjangkit Covid-19 keluar kampung, itu langsung dicegah,” jelasnya.

Cak Nur –sapaan akrab Nur Ahmad– menjelaskan, lockdown atau pengawasan ketat di Desa Waru diperkirakan berjalan lama. Warga dikarantina total. Kebijakan tersebut baru dicabut setelah seluruh warga sembuh. Diperkirakan, pengawasan ketat itu berjalan hingga melebihi masa berakhir PSBB jilid II. Yakni, 25 Mei. ”Tidak masalah, yang terpenting warga sembuh. Kami berupaya melindungi warga,” tegasnya.

Politikus PKB itu menambahkan, memang kebijakan pengawasan ketat di Desa Waru bakal berbuntut panjang. Warga tak bisa bekerja karena karantina. Kegiatan di kampung mandek. Kepala desa serta RT/RW mendapatkan kritikan warga. Menurut dia, itu merupakan konsekuensi yang harus diambil. ”Kebijakan tidak populis, tapi melindungi warga,” ucapnya.

Sementara itu, selama PSBB berjalan di Kota Delta, warga masih kerap melanggar aturan. Bukti itu terlihat dari rekap data pelanggaran di satpol PP. Totalnya 356 pelanggar.

Kasatpol PP Widiyantoro Basuki mengungkapkan pelanggaran rata-rata yang dilakukan warga. Yaitu, berkerumun di warkop dan melintas tanpa masker. Urutan kedua ditempati warkop. Selama PSBB, warkop hanya diperbolehkan melayani pesanan. Namun, masih ada yang bandel. ”Kami sita 17 wifi, 3 kompor, dan 3 tabung LPG,” tegasnya.

Tambah 57 Orang Positif Baru Lagi

Kasus korona jenis baru (Covid-19) di Kota Delta terus meningkat. Kemarin (21/5) ada 57 orang lagi yang dinyatakan positif. ”Sebagian besar berasal dari pasien dalam pengawasan (PDP),” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo drg Syaf Satriawarman SpPros.

Ada 37 ODP yang statusnya berubah menjadi positif Covid-19. Selain itu, ada 4 orang dari orang dalam pemantauan (ODP), 2 orang dari orang tanpa gejala (OTG), dan 14 orang merupakan kasus baru.

Mereka adalah warga Sidoarjo yang tersebar di berbagai wilayah. Bukan hanya dari Kecamatan Waru. Sebab, kemarin warga yang dinyatakan positif dari Waru hanya dua orang.

Jumlahnya tidak signifikan karena hasil tes swab belum keluar. Sebelumnya, ada 70 orang yang melakukan tes swab bersamaan. Di berbagai rumah sakit rujukan.

Selain swab, dinkes terus melakukan tracing. Mereka juga melanjutkan kegiatan tes cepat. Sebab, di RW 12 belum semua warga mengikuti rapid test. Masih ada 183 orang. Yang sudah menjalani tes lebih dari 300 orang.

Menurut Syaf, saat ini RW 12 yang juga dikenal sebagai klaster S. Parman di wilayah Waru itu sudah ditutup total. Lockdown dilakukan untuk memutus rantai persebaran. Pembatasan keluar masuk warga diberlakukan secara ketat untuk.

Syaf berharap tindakan tersebut mampu mengurangi tingkat persebaran virus. Sekaligus membuat masyarakat mematuhi aturan untuk melakukan isolasi mandiri. ”Agar warga tidak kagi bebas keluar rumah dan persebaran tidak terjadi,” lanjut Syaf.

Boleh Buka, tapi Harus Patuh Aturan

Mal-mal dan pusat perbelanjaan mulai ramai. Dengan mematuhi protokol kesehatan, pengunjung membeli pakaian dan kebutuhan menjelang Lebaran. Namun, jumlahnya jauh menurun.

”Bisa dilihat di parkiran. Masih banyak yang kosong. Turunnya sekitar 75 persen itu,” ungkap Store Manager Ramayana Sidoarjo Lister Juniawan Sitorus. Parkiran hanya terisi tidak sampai seperempat dari daya tampung.

Menurut Lister, saat ini per hari hanya ada sekitar seribu pengunjung. Sebelumnya, ada lebih dari 10 ribu dalam sehari. Salah satu yang membeludak adalah pengunjung dari luar daerah seperti Pasuruan.

HINDARI BERDESAKAN: Pengunjung Indah Bordir Sidoarjo membeli pakaian untuk persiapan Lebaran, Kamis (21/5). (Firma Zuhdi/Jawa Pos)

Manajemen membuat giliran sif untuk karyawan. Tujuannya, menghindari kerumunan. Jarak antarpembeli juga diatur. Sarana kebersihan pun disediakan.

Saat PSBB, pengunjung dari luar kota tidak ada. ”Pembeli lokal datang karena memang butuh. Kadang karena anaknya merengek minta baju baru,” ucapnya.

Susana di Indah Bordir Sidoarjo hampir senada. Ada penurunan pengunjung sekitar 50 persen daripada tahun sebelumnya. Namun, ada peningkatan pembeli online. ”Yang beli online naik sampai 100 persen menjelang Lebaran ini,” jelas Vitri Widhiasmaningsih, manajer operasional Indah Bordir Sidoarjo.

Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo Listiyaningsih menuturkan, memang ada tren peningkatan pengunjung menjelang Lebaran. Namun, karena Covid-19, toko atau supermarket bisa mengantisipasi sesuai aturan. ”Misalnya, pembatasan pengunjung itu lebih bagus,” katanya. Dengan begitu, jarak antarpengunjung tetap aman. ”Kami izinkan semua tetap buka, tapi syaratnya harus taat protokol pencegahan,” ujarnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : aph/may/uzi/c20/c10/roz

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads