alexametrics

Evaluasi PSBB Surabaya, Sering Temukan Pengendara Ngeyel di Perbatasan

22 Mei 2020, 16:48:11 WIB

JawaPos.com – Petugas di 17 titik pos perbatasan harus ekstrasabar sekaligus tegas dalam menegakkan peraturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Sebab, tak jarang ada orang yang ngeyel dan tidak mau mentaati aturan dalam PSBB yang ditujukan untuk menekan persebaran Covid-19 di Surabaya.

Kepala Dinas Perhubungan Surabaya Irvan Wahyudrajad menuturkan, yang paling sering ditemui adalah orang yang berboncengan dengan kendaraan roda dua. Namun, orang yang berboncengan tersebut tak memiliki hubungan kekerabatan yang erat. Misalnya, suami istri yang dibuktikan dengan satu alamat yang sama di KTP masih diperbolehkan untuk berboncengan.

”Kalau yang berboncengan itu biasanya agak lama ngeyel-nya. Petugas harus sabar memberi tahu. Tapi, juga harus tegas untuk menegakkan aturan PSBB,” ungkap Irvan, Kamis (21/5).

Selain itu, pengendara kendaraan mobil dikenai aturan kapasitas maksimal 50 persen dari kursi yang tersedia. Kursi di samping sopir, misalnya, harus dikosongkan.

”Kalau melebihi kapasitas maksimal, ya kami minta putar balik. Kadang ada saja pengendara yang agak sulit atau ngeyel saat diberi tahu,” tambah Irvan.

PSBB tahap kedua berlaku sampai 25 Mei. Sebelumnya, tahap pertama PSBB berlangsung mulai 28 April hingga 11 Mei. Lantas, diperpanjang untuk tahap kedua selama 14 hari.

”Di tahap pertama dan kedua ini, kami sebenarnya sudah ketat di perbatasan. Kalau menemukan ada yang melanggar, langsung kami ingatkan,” ujar Irvan.

Petugas di lapangan memang punya jam-jam tertentu yang sibuk sekali. Misalnya, pada pagi. Hari libur seperti kemarin termasuk lebih lengang.

”Kalau menjelang Lebaran ini, pengetatan terutama untuk mobil travel yang mengangkut pemudik. Bila melanggar, akan ditindak oleh teman-teman kepolisian,” imbuh dia.

Sebanyak 17 titik pos perbatasan menjadi salah satu upaya untuk mengurangi mobilitas penduduk dari luar kota masuk ke Surabaya. Sebab, pergerakan warga itu bisa memicu persebaran virus korona jenis baru tersebut.

Yang terbaru, pemkot sedang memasang penyemprot disinfektan di setiap titik perbatasan tersebut. Penyemprot air itu ditempatkan di kerangka besi yang diletakkan di jalan. Air tidak hanya menyemprot dari atas. Tapi, juga dari samping kiri dan kanan. Prinsipnya mirip dengan car wash.

Sementara itu, Wakil Koordinator Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Surabaya M. Fikser mengungkapkan bahwa partisipasi masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah persebaran Covid-19. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, akan sulit memutus mata rantai persebaran virus itu. ”Aturan-aturan di checkpoint itu harus kita ketati,” ungkap dia.

Sebab, selama ini pemkot berupaya menangani pasien di dalam kota. Pengurangan mobilitas warga dari luar kota itu tentu sangat membantu dalam mengurangi potensi persebaran.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : jun/c6/git

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads