alexametrics

Gereja dan Kelenteng Juga Tiadakan Ibadah, Pilih via YouTube

22 Maret 2020, 14:48:55 WIB

JawaPos.com – Setelah banyak masjid yang memutuskan untuk tak menyelenggarakan salat Jumat, umat agama lain juga mempertimbangkan tak menggelar ibadat yang melibatkan banyak orang di satu tempat. Beberapa gereja tidak menggelar ibadah raya atau misa hari ini. Begitu pula jemaat di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hong San Ko Tee alias Kelenteng Cokro.

Gereja Bethel Indonesia (GBI) Representative of Christ Kingdom (ROCK) memilih tidak menggelar ibadah raya. Di Surabaya, ada tujuh GBI ROCK. Tujuh gereja dengan 2.750 jemaat itu menggelar ibadah raya secara siaran tunda hari ini.

Salah seorang perwakilan GBI ROCK Rendra Himawan mengatakan, pihak gereja merekam terlebih dulu materi ibadah. Kemudian, lanjut dia, materinya akan diunggah melalui YouTube.

Saat perekaman materi ibadah, kata Rendra, tidak ada jemaat sama sekali. Hanya pelayan dan pekerja yang bertugas. ”Diunggah hari ini (Minggu, Red) pukul 10.00 di channel YouTube ROCK Surabaya Creative Media. Yang diunggah cuma satu sesi,” terangnya. Pekan depan, Rendra menuturkan, pihak gereja berencana menambah sesi. Tidak lagi hanya satu sesi.

”Sepertinya akan ditambah sesi. Juga bakal streaming untuk Komsel, Ibadah KGC (youth, Red), Rocket (remaja), serta untuk ibadah Rocky (anak),” paparnya.

Salah seorang petugas GKJW Wiyung Joko menuturkan, ibadah minggu hari ini (22/3) ditiadakan. Pun termasuk aktivitas belajar-mengajar TK, SD, dan SMP BPK sebelah gereja. ”Biasanya, gereja ini menggelar tiga kali ibadah. Pagi, siang, dan sore,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolsek Wiyung Kompol Muhammad Rasyad mengatakan, di wilayah hukumnya terdapat beberapa tempat ibadah. Bukan hanya masjid. Namun, lanjut dia, juga ada gereja dan pura. ”Kami sudah koordinasikan ke tempat ibadah untuk disemprot secara mandiri,” tambah polisi berpangkat satu melati itu.

Merespons pandemi Covid-19 dan konsep social distancing, Paroki Santo Yakobus juga memutuskan meniadakan Perayaan Ekaristi di Gereja Santo Yakobus, CitraLand. Perayaan harian maupun mingguan Prapaskah tersebut diputuskan ditiadakan sejak kemarin (21/3) hingga 3 April mendatang.

Keputusan tersebut diambil pengurus kemarin setelah mendapatkan ketentuan pastoral menghadapi Covid-19. Surat keputusan dari Paroki Santo Yakobus yang ditandatangani RD Hans Koerniawan selaku pastor kepala Paroki tersebut berisi informasi peniadaan perayaan dan kegiatan yang mengumpulkan massa.

Ferry Ariesandy, sekretaris Paroki Santo Yakobus, mengatakan, umat bisa tetap beribadah dari rumah dengan mengikuti live streaming Keuskupan Surabaya di akun KOSMOS keuskupansurabaya. ”Jadi, tidak ada dari kami sendiri live-nya. Hari ini (kemarin, Red) sudah dilakukan juga pukul 18.00, live dari Wisma Keuskupan,” jawabnya.

Selanjutnya, siaran langsung juga akan dilakukan kembali pukul 09.00 dan 17.00 hari ini. Siaran ibadat tersebut dipimpin langsung oleh Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono. ”Seperti perayaan biasa. Ada nyanyian dan komuni. Meski hanya dihadiri umat 4–5 orang,” jawab Ferry.

Misa Gereja Santo Yakobus biasanya dihadiri hingga 1.400 orang. Secara total, ada 7.000–8.000 orang. Lany Tjowasi, salah seorang jemaat, mengatakan menyambut baik keputusan tersebut. ”Memang sudah tepat untuk mengurangi kumpul-kumpul orang banyak juga,” ucapnya.

Sementara itu, sejumlah petugas gabungan dari BPB linmas, satpol PP, dan petugas Kelurahan dr Soetomo melakukan penyemprotan disinfektan di area Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hong San Ko Tee kemarin (21/3).

Seluruh area kelenteng tidak luput dari semprotan. Mulai meja, kursi, pintu, hingga ruang kantor pengurus kelenteng. Kecuali, satu titik yang memang tidak disemprot. Yakni, meja altar yang terdapat rupang dewa. Itu merupakan permintaan dari pihak kelenteng sendiri.

”Itu area yang sangat kami hormati, jadi khusus di situ memang kami minta nggak usah disemprot karena akan kami bersihkan sendiri,” terang Sudiman, salah seorang pengurus kelenteng.

Dia menjelaskan, meja altar yang biasanya dipakai umat untuk meletakkan persembahan tersebut merupakan area yang jauh lebih panas ketimbang area lainnya di dalam kelenteng. Sebab, terdapat banyak lilin berukuran besar yang sering dinyalakan dalam waktu cukup lama.

”Dari yang saya ketahui, virus korona itu tidak bertahan lama pada suhu panas. Sehingga kami lebih yakin area itu aman. Meski begitu, tetap akan kami bersihkan,” imbuhnya.

Sudiman sebelumnya menghubungi command center 112 untuk menanyakan terkait penyemprotan disinfektan di tempat ibadah. Dia lantas diarahkan untuk menghubungi pihak kelurahan setempat yang kemudian menerjunkan beberapa petugas dalam proses disinfeksi.

”Khusus hari ini (kemarin, Red) tutup untuk ibadah. Kalau sekadar bersih-bersih biasa, kami kurang yakin. Kami pikir lebih baik pakai disinfektan,” ujar lelaki 34 tahun itu. Selain itu, pihak kelenteng menambah unit wastafel yang diletakkan di halaman depan. Supaya nanti setiap jemaat bisa mencuci tangannya sebelum masuk dan sembahyang di Kelenteng Cokro.

Menurut dia, itu merupakan salah satu upaya untuk membuat kelenteng menjadi tempat yang aman dan nyaman. ”Tempat ibadah itu bersifat umum. Semua orang bisa datang. Menjaga diri dan sekeliling menjadi penting. Kalau kita saling menjaga, kemungkinan tertular semakin kecil,” tuturnya.

Sudiman mengungkapkan, persebaran virus korona yang terjadi saat ini juga turut berpengaruh pada kegiatan ibadah di kelenteng. Sebut saja, agenda rutin berupa ibadah bersama di setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Tionghoa.

Pada setiap tanggal tersebut, umat berkumpul di kelenteng pada jam 12 siang untuk sembahyang bersama. Setelah itu, mereka juga makan bareng untuk menumbuhkan kebersamaan. Sudiman menyebutkan, pada tanggal itu kelenteng juga akan lebih ramai dari biasanya. Sebab, sebagain besar umat juga memiliki jadwal sembayang di tanggal itu.

”Sejak empat hari lalu sudah kami tempel pengumuman di kelenteng dan pemberitahuan lewat medsos grup WhatsApp bahwa ibadah bersama itu ditiadakan. Karena memang harus mematuhi untuk tidak melakukan kegiatan yang sifatnya mengumpulkan massa,” paparnya.

Tanggal 1 bulan ke-3 penanggalan Tionghoa sendiri akan jatuh pada Selasa (24/3) mendatang. Pihak kelenteng tidak melarang umat untuk datang sembayang di tanggal itu. Namun, ibadah di hari itu tidak akan dilakukan serentak, tetapi sendiri-sendiri.

Untuk mengantisipasi agar umat tidak datang berbarengan, pihak kelenteng tidak akan mematok waktu ibadah. Bahkan, mereka bakal menambah durasi operasional atau jam buka. Dari 06.00–18.00 diperpanjang menjadi 06.00–21.00. ”Sebab, tidak memungkinkan kalau ibadah bareng 30–50 orang. Ruangnya tidak besar. Kurang memungkinkan untuk memberi tanda renggang. Kami imbau supaya umat tidak datang grudukan biar nggak dempet-dempetan. Harus berjarak dan cuci tangan sebelum masuk kelenteng,” tuturnya.

Sementara itu salah seorang petugas pembangunan dan ketertiban Kelurahan dr Soetomo Gunawan Wibisono menuturkan, tempat ibadah merupakan salah satu lokasi prioritas untuk disemprot disinfektan. Sebab, tempat tersebut termasuk area publik yang banyak dikunjungi serta disentuh banyak orang. Jadi, dikhawatirkan menjadi sumber penularan Covid-19. ”Disinfektan memang terbatas. Sementara ini satu tempat ibadah disemprot sekali. Ini bentuk perlindungan untuk masyarakat,” jelas Gunawan.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sam/dya/hay/c25/ady

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads