alexametrics

Dengan Anggaran Sendiri, Pemkot Surabaya Siapkan 2.000 Test Kit Korona

Bisa Tes di Puskesmas atau RS Milik Pemkot
22 Maret 2020, 13:48:04 WIB

JawaPos.com – Pemkot menyiapkan peralatan untuk tes cepat deteksi virus korona. Rencananya, dengan anggaran sendiri, pemkot membeli sekitar 2.000 peralatan tes tersebut. Sementara itu, peralatan untuk membantu tenaga kesehatan di rumah sakit juga masih tersedia.

Khusus di RS Universitas Airlangga, pemkot sudah dua kali mengirimkan bantuan peralatan tersebut. Misalnya, 5.000 masker bedah, 100 masker N95, 100 baju khusus, dan 50 kacamata google. Hingga kemarin (21/3), Dinas Kesehatan Surabaya belum dimintai bantuan lagi.

Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Febria Rachmanita menjelaskan, pemkot sudah berencana membeli peralatan tes cepat atau rapid test untuk Covid-19. Jumlah yang akan dibeli sekitar 2.000 unit. Harga setiap unit sekitar Rp 200 ribu. ’’Datangnya pekan depan. Mungkin Jumat (27/3) sampai Surabaya. Semoga bisa lebih cepat,’’ kata Feni, sapaan akrab Febria Rachmanita, kemarin.

Penggunaan alat tes itu dilakukan analis di bawah pemantauan dokter spesialis patologi klinis. Tempat pengujian bisa dilakukan di RSUD dr M. Soewandhie, RSUD Bhakti Dharma Husada, atau puskesmas di seluruh Surabaya.

Test kit itu akan mempermudah dalam pelacakan orang dengan risiko (ODR) terkait dengan kasus virus korona. ODR adalah orang yang punya hubungan dekat dengan pasien dalam perawatan (PDP) atau orang yang positif korona. Deteksi atau penelusuran orang yang pernah berhubungan dengan pasien tersebut perlu dilakukan untuk memastikan persebaran virus itu.

’’Pada satu pasien TB (tuberkulosis), kami mengecek setidaknya 15 orang minimal. Kalau kasus korona ini bisa lebih dari itu,’’ ungkap Feni.

Penelusuran persebaran virus itu didasari dua hal, yaitu tempat dan orang terdekat. Orang-orang terdekat itu akan dicek sampai keluarga mereka. Lantas, orang-orang lain yang berdekatan dengan mereka. Tapi, selama ini pemkot sulit mendapatkan data-data tersebut. Karena itu, pemkot membuat aplikasi Lawan Covid-19 untuk mendata kondisi warga. Setelah melakukan self-assessment itu, petugas puskesmas akan mengecek kondisi orang tersebut.

Feni menjelaskan, rata-rata orang yang terjangkit virus itu bepergian dari luar negeri. Tapi, mereka tak menyadari menjadi pembawa virus tersebut. Karena itu, dengan tak sadar pula mereka menyebarkan virus tersebut.

’’Kesadarannya kurang. Pulang dari luar negeri mestinya tak boleh ke mana-mana. Mereka seharusnya juga tahu negara yang terjangkit apa saja. Semua pasien yang positif di Surabaya rata-rata umrah atau dari luar negeri,’’ ungkap Feni.

Orang-orang yang berasal dari luar negeri itu mendapatkan health alert center (HAC). Mereka akan dipantau selama 14 hari berturut-turut untuk memastikan kondisi. Hingga kemarin, masih ada 2.000 orang dalam pemantauan (OPD) di Surabaya.

Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi menyebutkan bahwa pemkot memastikan peralatan-peralatan kesehatan yang terkait dengan pencegahan virus korona tercukupi. Mulai hand sanitizer, masker, baju khusus, hingga disinfektan. ’’Kami memastikan persediaan ini cukup. Distribusinya sudah di kecamatan-kecamatan seperti peralatan disinfektan. Bahkan, masker sudah di kelurahan,’’ ungkap Eri.

Apabila membutuhkan peralatan khusus, tenaga kesehatan bisa mengajukan ke pemkot. Distribusinya akan dikoordinasikan dinas kesehatan.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti mendesak pemerintah agar segera membuka data-data persebaran pasien virus korona. Terutama di Surabaya. Sebab, jumlah pasien yang positif korona terus bertambah. ’’Dengan mengetahui lokasinya, warga juga bisa semakin waspada dan hati-hati. Di kota lain saja sudah ada peta persebaran seperti di Lumajang,’’ ungkap Reni.

Bahkan, sudah ada peraturan di Undang-Undang tentang Kesehatan yang mengharuskan untuk mengungkap lokasi persebaran penyakit menular. Pemerintah daerah wajib menjelaskan lokasi-lokasi tersebut. ’’Di UU 36/2009 itu pemda harus buka info daerah sebaran,’’ terang dia.

Perbaiki Desain Bilik dan Terowongan Steril

Pemutusan mata rantai penularan virus korona dengan sterilisasi seluruh badan secara berkala akan dicoba Pemkot Surabaya. Bekerja sama dengan Institut Teknologi Telkom Surabaya (ITTS), mereka sedang mengembangkan terowongan steril dan bilik steril. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta ada penyesuaian-penyesuaian pada terowongan steril yang akan ditempatkan di area publik tersebut.

Kemarin pagi (21/3) dua peranti itu dibawa ke rumah dinas wali kota di Jalan Sedap Malam untuk diuji coba. Risma masuk dan keluar ruangan tersebut. Perbedaan utama bilik steril dengan terowongan steril adalah cara cairan menyemprotkan ke tubuh orang. Bilik lebih mirip uap air, sedangkan terowongan steril lebih kecil daripada rintik-rintik hujan.

Risma meminta semprotan pada terowongan itu dibuat lebih banyak. Dengan begitu, sterilisasi pada orang bisa lebih cepat. Risma juga meminta terowongan itu dipergunakan untuk penyandang disabilitas, terutama yang memakai kursi roda. Lama sterilisasi sekitar 18 detik.

Yang menjadi perhatian adalah alas karpet pada bilik dan terowongan tersebut. Harus berasal dari bahan antibakteri. ’’Wes gak mau risiko aku, Pak,’’ ujar Risma.

Kemarin sore bilik sterilisasi itu langsung ditempatkan di jalur pedestrian di dekat Taman Surya. Ada tenda khusus yang menaungi alat sterilisasi tersebut. Risma pun mengawasi langsung pemasangan alat tersebut.

’’Cairannya nanti menggunakan seperti yang dipergunakan ketika sterilisasi di rumah sakit itu,’’ ungkap Risma.

Dia menyebutkan, sterilisasi itu ditujukan untuk memutus mata rantai penularan virus korona. Selama ini, biasanya dengan cuci tangan. Tapi, dengan sterilisasi langsung, seluruh tubuh akan dibuat lebih bersih, termasuk pakaian. ’’Kalau cuma cuci tangan, kita kan tidak tahu virusnya itu menempel di mana,’’ jelas Risma.

Pemkot pun akan membuat alat atau sterilisasi serupa. Saat pertemuan dengan rektor IT Telkom Surabaya itu, petugas dari dinas perumahan rakyat dan kawasan permukiman cipta karya dan tata ruang diminta untuk melihat bilik dan terowongan tersebut. ’’Kita akan bikin sebanyak-banyaknya untuk ditaruh di seluruh Surabaya. Sementara di sini dulu,’’ jelas Risma.

Rektor ITTS Tri Arief Sarjono menjelaskan, ide pembuatan ruang sterilisasi itu memang datang dari Risma. Dia mengungkapkan, pembuatan alat sterilisasi tersebut sebenarnya cukup mudah. Yang perlu mendapat perhatian lebih adalah cairan untuk penyemprotan.

’’Sambil kita jalan. Sambil kita melakukan pengujian virus ini sebenarnya matinya terhadap apa. Perlakuannya bagaimana, strukturnya seperti apa. Tapi, itu menunggu penelitian lama,’’ jelas Arief. Alat yang dibuat itu sementara menggunakan alkohol 70 persen. Orang yang masuk ke bilik tersebut memang harus sedikit memejamkan mata agar terhindar dari cipratan cairan alkohol.

Setelah berdiskusi dengan Risma, banyak perbaikan dengan terowongan sterilisasi tersebut. Jumlah spray yang semula 24 akan dibuat dua kali lipat menjadi 48. Dia mengungkapkan akan membuat 10 lagi peranti serupa. ’’Kalau ini jadi semalam, kira-kira seminggu lah (selesai, Red),’’ jelas dia.

Langkah Strategis Pemkot (Berdasar Surat Edaran Wali kota)

Berhenti sementara

  • Sekolah (libur)
  • Kegiatan melibatkan banyak orang. Termasuk hiburan malam, konser musik, kegiatan keagamaan, dan tempat wisata.
  • Posyandu balita, remaja, dan lansia
  • Taman, hutan kota, taman baca, perpustakaan kota, dan broadband learning center

Beroperasi dan terapkan protokol maksimum

  • Pelayanan publik
  • Perkantoran, tempat ibadah, stasiun kereta api, terminal jalan raya, hingga tempat pariwisata
  • Pasar, pertokoan, pusat perbelanjaan, dan toko modern
  • Hotel, restoran, rumah makan, dan kafe
  • Apartemen, rumah susun, perumahan, perkantoran, dan area industri

Imbauan

  • Terapkan hidup bersih dan sehat, hindari keramaian.
  • Tidak belanja berlebihan.
  • Tetap tenang dan berdoa.
  • Yang melihat ada warga dengan gejala demam, batuk, dan sesak napas segera lapor ke aplikasi Lawan Covid-19

Sumber: Surat edaran wali kota Surabaya, Maret 2020

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter :  jun/c19/ady

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads