alexametrics

Jadi Saksi Penipuan PT CMP, Ustad Yusuf Mansur Diperiksa Jumat Depan

Dugaan TPPU PT CMP Terus Diusut
22 Februari 2020, 20:43:31 WIB

JawaPos.com – Ustad Yusuf Mansur urung diperiksa pekan lalu. Pada hari yang sama dengan jadwal pemeriksaan, dai kondang itu berduka. Ayahnya wafat. Jadi, pemeriksaannya sebagai saksi kasus penipuan PT Cahaya Mentari Pratama (CMP) dibatalkan.

Nah, penyidik sudah menjadwalkan ulang pemeriksaan. Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran menyatakan, ustad yang juga seorang pengusaha tersebut rencananya diperiksa Jumat depan (28/2). ”Belum bisa pekan ini,” katanya kemarin (21/2).

Menurut dia, penyidik tidak ingin memaksakan diri. Sudamiran mengakui bahwa penjelasannya sangat diperlukan pada berkas perkara. Namun, pihaknya juga harus mengedepankan rasa empati. ”Beliau kan masih dalam suasana berduka,” ungkapnya.

Sudamiran menuturkan, mayoritas konsumen yang menjadi korban penipuan tertarik membeli karena klaim perusahaan. PT CMP mengaku bekerja sama dengan Ustad Yusuf Mansur. Nah, pemeriksaan Ustad Yusuf Mansur akan membuat terang perkaranya. ”Biar jelas,” ujarnya.

Dia menyebutkan, sebenarnya penyidik sudah berkoordinasi dengan Ustad Yusuf Mansur. Lulusan UIN Syarif Hidayatullah itu mengaku tidak pernah bekerja sama dengan PT CMP. Hanya, keterangan tersebut tidak dicantumkan pada berkas perkara karena belum melalui pemeriksaan resmi.

Kanit Harda Polrestabes Surabaya Iptu Giadi Nugraha menambahkan, materi pemeriksaan akan difokuskan pada keterkaitan Ustad Yusuf Mansur dengan PT CMP. Hanya, detailnya tidak bisa dipublikasikan. Yang jelas, penjelasannya dalam pemeriksaan itu diperlukan untuk menganalisis perkara secara keseluruhan. ”Menjadi penting karena ada kaitan,” tuturnya.

Giadi mengatakan, pihaknya kini juga tengah menelusuri aset PT CMP. Untuk mengoptimalkan penyelidikan, penyidik menerbitkan laporan polisi (LP) baru. ”Beda dengan kasus pertama yang lebih condong pada penipuan. Di berkas kedua fokusnya pada tindak pidana pencucian uang (TPPU),” ucap polisi dengan dua balok di pundak tersebut.

Ketua Paguyuban Korban PT CMP Tony Aries secara terpisah menyatakan sangat berharap polisi bisa menemukan aset perusahaan. Dengan begitu, peluang kembalinya uang para konsumen menjadi terbuka. ”Semoga penyidik bisa menyisir aset yang disembunyikan,” jelasnya.

Dia meyakini PT CMP akan menghalalkan segala cara untuk mengaburkan aset mereka. Jadi, polisi harus teliti dalam melakukan penelusuran. ”Nominal uang dari para korban sangat banyak. Tidak mungkin kalau habis tak tersisa,” ungkapnya.

Tony menuturkan, total uang dari anggota paguyuban yang sudah disetor mencapai Rp 7,2 miliar. Uang itu berasal dari 46 orang yang terdaftar di paguyuban saat ini. ”Belum lagi korban yang tidak masuk paguyuban. Jumlahnya pasti banyak mengingat perumahan itu sudah ditawarkan sejak lama,” kata pria yang tinggal di Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, tersebut.

Seperti pernah diberitakan, polisi membongkar praktik mafia tanah dan perumahan berkedok syariah pada awal tahun ini. Bisnis culas itu dijalankan PT CMP. Modusnya, menawarkan perumahan berkonsep syariah. Lokasi perumahan tersebut diakui berada di Desa Kalanganyar, Sedati, Sidoarjo. Belakangan, para konsumennya membuat laporan.

Mereka mengadu ke polisi karena merasa menjadi korban penipuan. Perumahan yang dijanjikan tidak kunjung jadi. Berdasar penelusuran polisi, lahan yang rencananya dibuat perumahan ternyata masih berstatus milik warga sekitar. Direktur PT CMP Sidik Sarjono kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Tidak hanya memproses kasus penipuannya. Polisi juga mengusut TPPU yang dilakukan perusahaan itu

Kenapa Ustad Yusuf Mansur Diperiksa?

1. PT CMP mengklaim sudah bekerja sama dengannya.

2. Nama dan fotonya dipasang pada brosur untuk menarik perhatian konsumen.

3. Wisata Hati yang dipimpinnya disebut akan mendirikan rumah tahfiz di perumahan yang ditawarkan.

4. Ustad Yusuf Mansur pernah diundang untuk mengisi pameran di JX International meski tidak datang.

5. Tujuannya, memastikan apakah Ustad Yusuf Mansur terlibat atau tidak.

Diolah dari berbagai sumber

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : edi/c6/ano



Close Ads