alexametrics

Jaringan Bermasalah, NIK Tak Terbaca, Nakes Gagal Divaksinasi Covid-19

22 Januari 2021, 19:38:15 WIB

JawaPos.com – Proses vaksinasi Covid-19 gelombang pertama untuk tenaga kesehatan (nakes) memang tak semulus jalan tol. Beberapa kendala dan problem terjadi di lapangan. Terutama yang saat ini dirasakan hampir seluruh fasilitas layanan kesehatan yang menyelenggarakan pelaksanaan vaksinasi. Yakni, persoalan jaringan.

Kepala Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Darmo dr Devina mengungapkan, kendala tersebut terjadi pada saat awal-awal vaksinasi pekan lalu. Kendala jaringan membuat NIK nakes sebagai calon penerima vaksin tidak terbaca sistem. ”Saat petugas melakukan entry NIK nakes, datanya tidak ditemukan,” ungkapnya kepada Jawa Pos, Kamis (21/1).

Hal tersebut terjadi saat nakes selaku calon pasien vaksinasi melakukan registrasi offline untuk menyinkronkan data di meja 1. Data yang tidak ditemukan sistem itu pun mau tidak mau membuat nakes yang bersangkutan gagal divaksin pada hari itu. ”Prinsipnya, begitu di meja 1 sudah bermasalah, semua pelayanan ikut bermasalah dan tidak bisa dilanjutkan,” paparnya.

Devina mengutarakan, itu merupakan kesepakatan dengan pihak Dinas Kesehatan Surabaya. Yang memberikan arahan untuk tidak melayani nakes yang datanya gagal diinput ke sistem. Meskipun, mereka sudah memiliki e-ticket atau semacam bukti registrasi online mandiri. ”Mungkin tujuannya baik. Untuk mengantisipasi jangan sampai ada yang ngaku-ngaku nakes dengan membawa e-ticket orang lain. Jadi, meski dia bawa bukti ID card, tapi kalau NIK gagal diinput, pelayanannya ditunda. Terpaksa pulang dengan tangan kosong,” tuturnya. Namun, nakes yang bersangkutan dijanjikan untuk bisa vaksin pada batch kedua.

Hingga saat ini, setiap hari masih ada 5–10 persen data nakes calon penerima vaksin yang NIK-nya tidak bisa diinput karena kendala jaringan dari pusat di RS Darmo. Devina mengungkapkan, kendala jaringan yang hampir serupa juga pernah terjadi saat registrasi online para nakes yang menerima SMS sebagai calon peserta vaksin. Banyak nakes yang gagal registrasi meski sudah mencoba berkali-kali. ”Yang paling ngeselin, kalau kita tahu itu betul-betul nakes, tapi NIK-nya tidak terdaftar saat di-entry tanpa tahu alasannya kenapa,” ujarnya.

”Untuk skrining di meja 2, kebanyakan yang tidak lolos karena ada demam, batuk, dan pilek. Ada juga yang tensinya di atas batas yang ditentukan, yakni 140/90. Biasanya kalau ada tensi di atas itu yang tidak terkontrol, kami berikan jeda waktu 30 menit untuk diulang tensinya,” tandas Devina. 

Ombudsman Jatim Beri Solusi Kendala Vaksinasi

Kendala selama vaksinasi yang sudah berjalan selama sepekan ikut menjadi perhatian Ombudsman Jatim. Kemarin (21/1) pihak ombudsman menyambangi kantor Dinas Kesehatan Jawa Timur untuk menggelar audiensi.

Kepala Perwakilan Ombudsman Jatim Agus Muttaqin ditemui langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Jatim dr Herlin Ferliana MKes. ’’Salah satu kendalanya adalah peserta penerima vaksin mendapatkan e-tiket, namun tidak muncul dalam daftar penerima vaksin di aplikasi PCare fasilitas layanan kesehatan (fasyankes),’’ terangnya.

Kendala tersebut membuat calon penerima vaksin tidak bisa divaksinasi. Selain itu, dari Dinkes Jatim, pihak ombudsman juga mengetahui kendala lainnya. Sebut saja, kesalahan input data oleh petugas hingga data sasaran penerima vaksin yang tertunda tidak muncul pada aplikasi saat sudah dijadwal ulang.

Baca Juga: Pakar Sebut Antam Tak Bisa Bertanggung Jawab Atas Pidana Pegawainya

Dia menyebutkan, kendala pada sistem aplikasi Peduli Lindungi mesti segera diatasi. Kegagalan registrasi mungkin terjadi karena bug pada aplikasi. Hal tersebut juga berimplikasi pada penerusan informasi kepada sasaran melalui SMS blast. Maka, perlu dilakukan sinkronisasi ulang pada dua aplikasi tersebut. Yakni, aplikasi registrasi dan SMS blast.

’’Solusi berikutnya bisa dengan cara membuat kanal pengaduan yang responsif untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Lalu, menyiapkan prosedur pendaftaran manual selama proses registrasi melalui aplikasi bermasalah,’’ jelasnya. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : hay/c12/ai




Close Ads