alexametrics

Kekeringan di Surabaya Diprediksi hingga Akhir Oktober

Lahan Tak Dialiri Air, Petambak Gagal Panen
21 September 2019, 16:33:10 WIB

JawaPos.com – Tidak banyak yang dilakukan Kusnoto kemarin (20/9). Penyewa lahan Lantamal V itu hanya mencangkul tanah dari lahan yang sudah dijadikan tambak tersebut. Kondisinya kering. Bahkan, beberapa tanah tambak di Jalan Wonosari Besar, Ujung, itu sudah pecah dan membentuk petak-petak. Kusnoto menyebutkan, fenomena itu disebabkan kemarau panjang.

’’Sejak Juli lalu. Sekarang kondisinya tambah parah,’’ ujar pria 65 tahun itu. Dia menerangkan, kondisi tersebut membuat usaha tambak bandengnya tidak berjalan. Selama tiga bulan ini dia tidak panen sama sekali. Menurut dia, kerugiannya sekitar Rp 9 juta. ’’Sebab, saya hanya mengandalkan air hujan,’’ ungkap pria asal Mrutu Kalianyar tersebut sembari menyeka keringatnya.

Memang, lahan itu sempat dialiri air dari laut. Namun, aliran dari utara tersebut sudah difungsikan untuk aktivitas lain. ’’Jadi, tidak ada lagi yang mengalir ke sini,’’ ungkapnya.

Kondisi kekeringan yang terjadi selama tiga bulan belakangan, kata dia, juga menghasilkan fenomena unik. Tepatnya di utara. ’’Bagian tanah yang bawah kering. Atasnya dipenuhi garam,’’ jelasnya. Butiran-butiran putih itu tampak di semua sudut lahan. ’’Tapi, sama pemiliknya dibiarkan begitu saja,’’ ungkap Kusnoto.

Dari pengalamannya, musim kemarau tahun ini memang terbilang parah. Lima petak lahan yang disewa kering. ’’Paling kecil ada yang setengah hektare. Paling luas 1 hektare. Semua belum bisa digunakan,’’ jelasnya.

Beberapa waktu lalu dia mengganti usahanya di bidang sayuran, tetapi tidak berlangsung lama. Sebab, sayuran-sayuran tersebut dicuri orang yang tidak bertanggung jawab. ’’Karena itu, saya menunggu musim hujan tiba saja,’’ ungkapnya pasrah. Untuk memaksimalkan waktu, setiap pagi hingga siang dia membajak lahan tambak untuk dibuat aliran air.

Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya Fajar Setiawan menuturkan, musim kemarau tahun ini lebih panjang. ’’Musim kemarau masih berlangsung sampai akhir Oktober,’’ paparnya. Dia menjelaskan, sebagian besar wilayah Jawa Timur diprediksi baru memasuki musim hujan awal November. ’’Sebagian kecil ada yang akhir Oktober,’’ ungkapnya.

Fajar mengimbau warga, terutama yang berada di pesisir utara Suramadu, agar mempersiapkan diri menghadapi perubahan musim. Terkait kekeringan, kata dia, warga juga bisa menyirami halamannya untuk mencegah pergerakan debu. ’’Untuk menghindari terserang penyakit paru-paru,’’ jelasnya. Sebab, intensitas panas yang tinggi plus pergerakan angin laut bisa mengganggu kesehatan warga. Khususnya nelayan. ’’Harus selalu waspada,’’ ucap Fajar.

Di bagian lain, pengamat lingkungan dari Tunas Hijau Zamroni menerangkan bahwa musim kemarau yang lebih panjang dan kekeringan merupakan dampak perubahan iklim. Kondisi itu tidak boleh dianggap sepele.

Diperlukan langkah antisipasi ke depannya. Salah satunya, masyarakat bisa membuat sumur resapan dan lubang biopori. Dengan begitu, ketika musim kemarau datang, ada cadangan air yang bisa digunakan. ’’Air hujan masuk ke sumur resapan dan lubang biopori. Itu bisa menjadi cadangan di musim kemarau,’’ ungkapnya. Selain itu, menanam pepohonan di sekitar lahan berfungsi untuk menimbun air di akar-akar pohon

Serukan Darurat Iklim

Sebanyak 30 orang yang tergabung dalam Relawan Jeda berkumpul di depan Gedung Bank Indonesia, Jalan Pahlawan, kemarin (20/9). Mereka melakukan kampanye kepedulian lingkungan bertajuk Jeda untuk Iklim. Dari titik awal berkumpul, mereka menuju Tugu Pahlawan.

Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 itu juga diikuti 15 anak-anak. Mereka membawa berbagai tulisan yang berisi ajakan untuk peduli terhadap iklim. Save our planet. Begitu bunyi salah satu tulisan yang dibuat pada karton bekas. Juga ada imbauan untuk tidak membakar hutan sembarangan. Aksi mereka menjadi perhatian warga sekitar dan pengendara yang sedang melintas.

”Siapa yang cinta bumi tepuk tangan?” seru koordinator aksi Jeda untuk Iklim Surabaya Marhamah. Peserta aksi membalas pekikan itu dengan tepukan tangan berkali-kali. Marhamah menyatakan, keikutsertaan anak-anak dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk edukasi lingkungan sejak dini.

Marhamah menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari aksi Climate Strike sedunia yang menuntut dideklarasikannya status darurat iklim serta dilakukannya langkah nyata untuk mengatasi kegentingan iklim. Aksi global itu diadakan menjelang pertemuan PBB untuk Perubahan Iklim pada Senin (23/9). ”Ini diharapkan menjadi semacam alarm untuk mengingatkan para pemimpin dan seluruh masyarakat,” ungkapnya.

Kadar CO2 di atmosfer sudah melebihi ambang batas 350 ppm. ”Kita menginginkan keadilan iklim untuk semua,” papar Maria Kristanti, salah seorang peserta yang rela menempuh perjalanan dari Malang bersama anaknya, Adeodatus Louis Maria Karmenito, untuk ikut kegiatan itu. Bentuk keadilan itu bisa dilakukan dengan mengurangi efek rumah kaca, menjadikan status darurat iklim, serta adanya pendidikan ekologis yang mendalam pada semua pihak.

Acara tersebut tidak hanya dilakukan di Surabaya. Tetapi, juga di 17 kota lainnya. Secara global, aksi serupa berlangsung di lebih dari 150 negara

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : jar/c15/c6/nor



Close Ads