alexametrics

Terlalu Berisiko untuk PTM, IDAI Jatim Tak Setuju Sekolah Dibuka

21 Juni 2021, 14:48:09 WIB

JawaPos.com – Pembelajaran tatap muka (PTM) yang rencananya digelar pada 1 Juli tinggal menghitung hari. Kebijakan itu berpotensi dievaluasi di tengah melonjaknya kasus baru Covid-19. Termasuk di Surabaya yang trennya terus meningkat.

Para dokter dan tenaga medis merasa keberatan jika PTM tetap digelar. Misalnya, yang disampaikan dr Dominicus Husada. Dokter spesialis anak itu menyampaikan bahwa sekolah tatap muka sangat berisiko. Muncul kekhawatiran terjadi potensi penularan yang cukup besar di lingkungan sekolah jika kebijakan tersebut dijalankan.

’’Buka sekolah dalam kondisi begini memang sangat berisiko,’’ kata dr Dominicus, Minggu (20/6).

Pihaknya tidak setuju jika PTM pada 1 Juli tetap diberlakukan. Dia lebih setuju kalau kebijakan PTM sebaiknya ditunda dulu sampai tren kasus baru benar-benar melandai. Menurut dia, penundaan kembali PTM bukan sesuatu yang buruk.

Apalagi, kata dr Dominicus, rencana PTM pada 1 Juli diputuskan ketika grafik penularan kasus Covid-19 dalam kondisi melandai. ’’Nah, sekarang grafiknya naik lagi. Jadi, sebaiknya ditunda lagi sampai kasusnya rendah,’’ papar dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) itu.

Melonjaknya penularan Covid-19 memang sangat mengkhawatirkan bagi anak-anak. Pada 14 Juni lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia Jawa Timur (IDAI Jatim) melansir, secara kumulatif terdapat 2.949 kasus anak di Jatim yang terkonfirmasi Covid-19. Dari jumlah itu, 24 anak meninggal dunia. Atas kondisi tersebut, IDAI mengaku belum setuju jika PTM tetap digelar pada 1 Juli.

Sebab, kasus Covid-19 belum turun dan bahkan terus naik. ’’Kita dari dulu belum setuju dengan rencana PTM,’’ papar Ketua IDAI Jatim dr Sjamsul Arief MARS SpA(K).

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : mar/c6/ady

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads