alexametrics

Menengok Penanganan dan Pencegahan HIV/AIDS di Puskesmas Dupak

21 Februari 2020, 18:48:33 WIB

Puskesmas Dupak merupakan satu di antara sepuluh puskesmas di Surabaya yang ditunjuk untuk melayani pengobatan penderita HIV/AIDS. Melalui program HOPE (Humanity Love People Power) ODHA (orang dengan HIV/AIDS), puskesmas berkomitmen untuk melakukan pencegahan, mendampingi dan melatih penderita untuk hidup mandiri.

EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

Film pendek berdurasi 6 menit 43 detik jadi andalan Puskesmas Dupak untuk mengampanyekan bahaya HIV/AIDS. Video itu tidak saja diunggah ke YouTube. Film yang menggambarkan kehidupan ODHA di sebuah kampung terpencil tersebut juga telah disebar ke mana-mana. Terutama menjadi bahan pengarahan kepada para remaja yang masih bersekolah.

Untuk membuat video, pegawai puskesmas merekrut para aktor dan aktris pemeran. Perekrutannya pun secara mendadak Mereka juga menampilkan penggalan cerita dari seorang ODHA yang tetap bersemangat meski harus menjalani pengobatan sepanjang sisa hidupnya. Dia sukses menjauhkan anak-anaknya dari penyakit menular tersebut.

”Kebetulan saya punya tiga anak. Alhamdulillah, semuanya sehat,” ungkap Lastri (bukan nama sebenarnya) yang berkisah sambil menutupi sebagian wajahnya. Perempuan berusia 40 tahun itu mengungkapkan sempat frustrasi setelah menjalani hidup yang penuh liku-liku karena penyakit yang diidapnya. Sempat pula syok saat pertama mengetahui adanya HIV di tubuhnya.

”Motivasi saya untuk hidup muncul setelah bertemu petugas di Puskesmas Dupak. Saya berkomitmen untuk mandiri,” terang Lastri.

Ibu tiga anak itu tidak saja diberi obat antiretroviral (ARV) secara rutin. Namun, juga mendapat layanan konseling secara gratis. Hidup Lastri pun kian bermanfaat untuk orang-orang di sekelilingnya. Dia diajak petugas puskesmas untuk mengampanyekan anti HIV/AIDS kepada masyarakat.

Sebenarnya, pelayanan tersebut bukan khusus untuk Lastri. Ada ratusan ODHA yang juga mendapatkan pelayanan sama dari petugas puskesmas. Kesehatan mereka terus dipantau. Tenaga kesehatan di Puskesmas Dupak secara aktif dan konsisten mengingatkan keluarga pasien untuk terus mendampingi dan memotivasi penderita.

Kepala Puskesmas Dupak dr Nurul Lailah mengungkapkan, film pendek sengaja dibikin anak buahnya agar pencegahan HIV/AIDS efektif. Video tersebut dibikin secara menarik dan menampilkan gambar anak-anak. ”Sasaran video itu sebenarnya remaja. Makanya temanya cenderung milenial,” ungkap Nurul saat diwawancarai Jawa Pos.

Menurut dia, HIV/AIDS tidak saja menyasar orang tua. Ada pula remaja dan anak-anak. Memberikan pemahaman kepada mereka bukan hal mudah.

”Dengan video, kami berharap anak-anak akan lebih waspada. Mereka tidak terjerumus ke pergaulan bebas,” kata Nurul. Sebab, lanjut dia, banyak penderita HIV/AIDS yang sakit karena melakukan hubungan seks. Tidak sedikit pula yang bandel dan melakoni seks bebas.

Nurul mengungkapkan bahwa inovasi HOPE ODHA di puskesmasnya tidak ujug-ujug muncul. Dulu ada lokalisasi yang berdiri tak jauh dari puskesmas. Kawasan tersebut jadi sasaran pekerja seks komersial (PSK) dari Surabaya dan sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, tempat mangkalnya PSK lantas diobrak pada 2012. Seluruh pekerja seks dipulangkan ke daerah masing-masing. Petugas kesehatan memantau kesehatan para pekerja seks itu. Beberapa PSK diketahui terinfeksi HIV. Mereka harus menjalani pengobatan lanjutan. Kondisi tersebut memunculkan keprihatinan petugas puskesmas. Mereka khawatir terjadinya penularan penyakit.

Atas inisiatif Nurul, puskesmas lantas meluncurkan program HOPE ODHA. Petugas bekerja sama dengan kecamatan dan tokoh masyarakat. Mereka mewajibkan setiap ibu hamil untuk tes HIV.

Nah, ternyata jumlah ODHA yang berobat terus bertambah. Mereka tidak hanya berasal dari Kota Pahlawan. Ada juga warga yang datang dari Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Saking banyaknya yang berobat, layanan di puskesmas tersebut kian masyhur. Faskes itu jadi jujukan ODHA untuk berobat. Puncaknya, HOPE ODHA terpilih sebagai program terbaik dalam AIDS Innovation Awards pada 2015 yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAS) dan Kementerian Kesehatan. Sejak itu, puskesmas terus mengembangkan inovasi.

Layanan HOPE ODHA tidak saja berfokus pada sisi rehabilitatif. Petugas juga melakukan tindakan preventif, kuratif, dan promotif.

Dokter Rosna Suswanti, salah seorang dokter di Puskesmas Dupak, mengobati pengidap HIV bukan hal mudah. Sebab, mereka cenderung tertutup. Agar para pasien semangat berobat, puskesmas mencari cara. Salah satunya membentuk komunitas ”care giver”. Yakni, komunitas yang beranggota ODHA dan keluarganya.

Melalui komunitas, puskesmas tidak hanya memantau kesehatan ODHA. Mereka juga mengontrol kondisi psikologis penderita. Terutama mendorong keluarga ODHA untuk aktif menyemangati

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/ady



Close Ads