alexametrics

Dua Siswa SMP Al-Azhar 13 Surabaya Dapat Reward ke Ajang Ilmiah di AS

21 Januari 2020, 20:48:47 WIB

Kupang lazimnya menjadi bahan makanan. Di tangan Aliyyah Maura Zakaria dan Naura Rahma Aulia Maricar Sahib, hewan sejenis kerang itu menjadi objek penelitian kadar plastik pada biota air. Hasil penelitian tersebut mengantar mereka ke ajang internasional.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

Sampah plastik menjadi problem besar bagi perairan di Kota Pahlawan. Hasil penelitian Komunitas Ecoton beberapa waktu lalu memperlihatkan kadar plastik yang tinggi pada ikan di Sungai Brantas. Angkanya mencapai 80 persen. Setelah diselidiki, penyebab terpaparnya ikan adalah gel popok bekas serta plastik yang dibuang sembarangan. Kadarnya bervariasi, besar dan kecil.

Penelitian Ecoton itu jelas menggambarkan problem plastik yang masih terus menghantui perairan Surabaya. Selain yang berukuran besar, plastik dalam ukuran kecil (mikroplastik) juga kerap ditemukan. Tak terkecuali di wilayah Kenjeran dan Rungkut yang memiliki biota air selain ikan Atas dasar itulah, Aliyyah dan Naura melakukan penelitian untuk mendeteksi dan mengidentifikasi kadar mikroplastik. Namun, mereka tidak menggunakan ikan, tetapi kupang.

”Kerang-kerang kecil yang biasa dijadikan makanan itu banyak yang terpapar sebenarnya,” ujar mereka saat dijumpai di ruang laboratorium SMP Islam Al-Azhar kemarin (20/1). Dari mana kesimpulan itu didapat? Aliyyah dan Naura ternyata meneliti hewan bernama Latin Mytilus edulis itu.

Dua siswi kelas IX tersebut melakukan uji mikroplastik dengan menggunakan tiga metode. Pertama, pembedahan. Kedua, penyaringan. Terakhir, metode ekstraksi. ”Kami pakai 100 gram sampel kupang,” ujarnya. Pembedahan menggunakan cara manual. Yakni, memilah mikroplastik dengan bantuan alat pencapit.

Sementara itu, untuk metode penyaringan, kupang dihaluskan dengan menggunakan blender. ”Kemudian, dapat terlihat ada atau tidak mikroplastiknya,” papar mereka. Metode ekstraksi melibatkan larutan cairan kalium hidroksida (KOH). ”Tiga metode ini menggunakan bantuan mikroskop supaya lebih jelas melihat kandungan mikroplastik di tubuh kupang,” kata Aliyyah.

Dara 14 tahun itu mengatakan, dari hasil penelitian dengan menggunakan tiga metode tersebut, ternyata ada temuan mikroplastik sebanyak 28 partikel. ”Ciri-cirinya bisa dilihat dari warna yang muncul. Kami temukan ada warna hijau, merah, dan kuning,” ujarnya. Lantas, bagaimana kupang yang lain? Sebenarnya, mereka mengandung mikroplastik juga. Hanya, kadarnya masih rendah. ”Yang 28 itu banyak,” ujar mereka sembari memperagakan metode pengujian. Saat ditanya soal ukuran biota yang terpapar, mereka menggeleng. ”Belum ada ukuran yang jelas,” jawabnya.

Naura menambahkan, dirinya belum begitu paham standar keamanan biota yang terpapar mikroplastik. Batas aman yang layak dikonsumsi manusia. ”Kami belum sampai hitung-hitungan dampak. Sebab, masih deteksi dan identifikasi saja,” ujarnya. Hal itulah yang perlu mereka dalami ke depan. ”Kami masih butuh penyempurnaan,” ungkap dia.

Penelitian dua siswa itu lantas mendapat respons positif dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam lomba karya ilmiah remaja (LKIR) yang diselenggarakan LIPI di Jakarta pada 22–26 Oktober 2019, mereka jadi satu-satunya peserta di tingkat SMP yang menduduki peringkat lima terbaik dari seluruh Indonesia. ”Kami menyingkirkan 1.993 peserta lainnya,” katanya.

Kelebihan penelitian mereka di mata dewan juri ialah soal isu yang dibawa. ”Belum ada penelitian soal mikroplastik ini. Terutama sampelnya pada kupang,” kata Naura.

Atas penelitian itu, mereka mendapat ganjaran untuk berangkat ke Anaheim, California, Amerika Serikat (AS). Di sana, mereka akan mengikuti ajang Regeneron International Science and Engineering Fair (RISEF) pada Mei. Pada event tersebut, mereka bakal memaparkan uji mikroplastik itu di hadapan delegasi seluruh negara peserta. ”Ini suatu kebanggaan bagi kami,” ujar mereka. Ajang tersebut mengumpulkan para siswa usia sekolah menengah yang berprestasi dari seluruh dunia untuk mempresentasikan penelitian ilmiah mereka.

Aliyyah mengatakan, banyak kesulitan yang mereka hadapi sat melakukan penelitian tersebut. Setidaknya dibutuhkan waktu setahun untuk mendapatkan hasil penelitian itu. ”Kami sempat mengalami down dan tak percaya diri karena berkali-kali gagal,” ujarnya. Namun, kemauan dan tekad yang tinggi mengalahkan keraguan dan ketakutan.

”Saya terus dibimbing oleh guru sains untuk terus semangat melakukan penelitian ini,” ujarnya. Ternyata, hasil tak pernah mengkhianati usaha. Penelitian yang mereka kerjakan sejak masih duduk di kelas VIII itu mendapatkan penghargaan gold medal dua bulan sebelum penghargaan dari sebuah lembaga ilmu pengetahuan di Malaysia. ”Sama dengan juri LIPI, mereka juga berpikir ini bagus untuk dikembangkan,” ujarnya.

”Setelah pulang dari Amerika, kami akan melakukan kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Surabaya dan BPOM untuk menyempurnakan penelitian ini,” tambahnya.

Tujuan lain penelitian itu, kata dia, ialah untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa banyak biota perairan di Surabaya yang sudah tercemar mikroplastik. Hal itu tentu berbahaya kalau dibiarkan. Sebab, kasus matinya ikan ternyata dipengaruhi plastik. Belum lagi dampaknya bagi manusia yang mengonsumsinya.

”Penelitian anak-anak ini pasti kami kembangkan,” kata Kepala SMP Islam Al-Azhar 13 Sifa Al Huda. Dia mengatakan, prospek penelitian itu bagus. Sebab, badan dunia untuk kesehatan atau World Health Organization (WHO) sekalipun belum pernah melakukan penelitian terkait deteksi dan kadar yang sehat untuk mikroplastik.

”Selama ini kita hanya peduli ke plastiknya. Bukan mikroplastik. Padahal, plastik yang lama di perairan bisa terdegradasi menjadi partikel-partikel yang berbahaya juga,” kata pria yang berdomisili di Sidoarjo itu. Nah, untuk mengetahui kadar tersebut, penelitian dua siswa itu perlu dikembangkan. ”Salah satu guru juga tengah dikirim ke LIPI untuk berupaya memperkuat hasil penelitian anak-anak,” ujarnya.

Sifa mengatakan, prestasi yang didapat anak-anak itu hanya bonus. Tujuan utamanya memberikan kesadaran kepada masyarakat betapa banyak dan bahayanya plastik di perairan. Hasil penelitian Ecoton di Sungai Brantas bisa jadi ukuran bahwa plastik dan mikroplastik sudah mengancam biota perairan. ”Maka, upaya untuk mencegah atau mencari solusi masalah itu harus dilakukan. Dan kedua siswa saya ini tergerak untuk ke sana,” kata pria 43 tahun itu.

Terkait dengan keberangkatan ke Amerika Serikat, pihaknya hanya mengirim satu delegasi. Yakni, Aliyyah. Sebab, Naura terganjal usia. Batas kelahiran 15 Mei 2005–10 Mei 2008. ”Naura lahir Maret 2005. Nggak masuk hitungan. Kasihan sebenarnya,” papar Sifa. Namun, hal itu tak menjadi alasan untuk tidak melanjutkan penelitian. ”Saya berpesan ke Aliyyah bisa membawa ilmu yang bermanfaat untuk pengembangan temuan mereka ke depan,” katanya, lantas tersenyum.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/ady


Close Ads