alexametrics

Bahas Batas Kecepatan, Dishub Surabaya Undang Pakar

21 Januari 2020, 19:29:32 WIB

JawaPos.com – Batas kecepatan dalam kota yang selama ini ditentukan 40 kilometer per jam akan dibahas kembali. Pihak Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya menyatakan, pembahasan tersebut juga akan melibatkan semua stakeholder di bidang lalu lintas dan angkutan jalan Termasuk para akademisi.

Kepala Dishub Surabaya Irvan Wahyudrajad mengungkapkan, penentuan batas maksimal kecepatan di jalur-jalur dalam kota 40 kilometer per jam itu sudah melalui kajian. Termasuk melibatkan para akademisi. Namun, jika ada wacana menaikkan batas kecepatan dalam kota menjadi maksimal 60 kilometer per jam, perlu pembahasan dalam Forum Lalu Lintas Angkutan Jalan Kota Surabaya.

’’Nanti koordinasi dengan satlantas masalah kapan diagendakan. Kami undang pakar transportasi juga,’’ ujar Irvan kemarin (20/1). Hingga kemarin, waktu pertemuan Forum LLAJ Kota Surabaya belum disepakati.

Yang jelas, penentuan 40 kilometer per jam itu ditetapkan cukup lama. Setidaknya sebelum Irvan menjadi Kadishub Surabaya. ’’Dengan kecepatan di atas 40 kilometer per jam, pengendara sulit mengendalikan kendaraan. Terutama bila pengereman mendadak,’’ ungkapnya.

Pertimbangan lainnya, kecepatan tinggi bisa menimbulkan fatalitas yang tinggi pula jika menabrak. Karena itu, rambu-rambu peringatan batas kecepatan tersebut disebar di berbagai jalan protokol yang ditengarai rawan kecelakaan lalu lintas akibat berkendara terlalu kencang. ’’Karena tingginya angka kecelakaan di Surabaya akibat kecepatan tinggi seperti di FR Ahmad Yani,’’ tambahnya.

Selain memasang rambu-rambu tanda peringatan itu, Dishub Surabaya membuat rekayasa lainnya agar pengendara memperlambat laju kendaraan. Salah satunya menggunakan pita penggaduh berupa tonjolan di aspal dengan pengaturan ketinggian tertentu.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Organisasi Angkutan Darat (Organda) Surabaya Sonhaji sepakat dengan aturan 40 kilometer per jam di dalam kota. Sebab, dengan laju yang lebih kencang, potensi kecelakaan bisa semakin tinggi. ’’Meski di beberapa ruas jalan bisa jalan 20 kilometer per jam saja sudah bagus,’’ ungkapnya.

Sonhaji menuturkan ada banyak anggota DPC Organda Surabaya yang mengeluhkan terkait dengan penyempitan jalan. Sebab, trotoar semakin lebar dan memakan jalan yang ada. ’’Kalau jalannya sempit, ya tidak bisa jalan 40 kilometer. Apalagi saat jalanan ramai,’’ katanya.

Sebelumnya, batas kecepatan yang terekam sebagai pelanggaran dalam tilang elektronik adalah 60 kilometer per jam. Meski batas kecepatan yang dipasang dengan rambu-rambu 40 kilometer per jam. Polisi pun berencana membicarakan lagi terkait dengan batas kecepatan dalam kota tersebut

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : jun/c15/git


Close Ads