alexametrics

Pakai Narkoba dan Tak Punya SIM, Sopir Bus Maut Resmi Tersangka

Total 15 Orang Meninggal, 1 Korban Masih Koma
20 Mei 2022, 15:01:47 WIB

JawaPos.com – Kecelakaan bus di tol Surabaya–Mojokerto (Sumo) yang memakan belasan korban jiwa dinilai tidak hanya disebabkan kelalaian, tetapi juga kesengajaan. Karena itu, Ade Firmansyah, si sopir, ditetapkan sebagai tersangka kemarin (19/5).

Wadirlantas Polda Jatim AKBP Didit Bambang Wibowo menyampaikan, penetapan tersangka itu baru dilakukan karena penyidik harus melihat situasi.

Ade sebelumnya belum bisa diperiksa. ”Baru hari ini (kemarin, Red) dilakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan dan langsung dilakukan gelar perkara terkait dengan statusnya,” ujarnya.

Ade disangka melanggar pasal berlapis terkait dengan Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Yakni, pasal 310 ayat 4 dan pasal 311 ayat 5. Didit menyebut hukuman yang membayanginya di atas lima tahun penjara.

Menurut dia, unsur kesengajaan berbeda dengan kelalaian. Kelalaian bisa terjadi karena kurang konsentrasi. Di sisi lain, kesengajaan dipicu faktor yang sudah pasti. Misalnya, mengemudi dengan mengoperasikan ponsel. ”Dalam kasus ini, tersangka diduga dalam pengaruh narkoba ketika mengemudi,” paparnya.

Didit belum mengetahui alasan tersangka memakai narkoba. Sebab, Ade bersikukuh mengaku tidak mengonsumsi barang haram tersebut saat menjalani pemeriksaan. Ade mengklaim meminum obat batuk yang terakhir dilakukannya pada Kamis (12/5) pekan lalu. Sebagaimana yang disampaikan dalam paparan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), dia sebulan terakhir batuk-batuk.

MENUJU RS: Iring-iringan ambulans yang mengangkut para korban kecelakaan bus di tol Sumo kemarin (16/5). (AFP)

Walau begitu, sanggahannya tidak penting. Sebab, penyidik sudah mengantongi bukti awal dari tes urine Ade.

Ade sejatinya adalah kernet. Namun, pada Senin (16/5) pagi nahas itu, dia mengambil alih kemudi sejak rest area Saradan, Kabupaten Madiun, karena si sopir utama, Ahmad Ari Ardiyanto, tertidur di bagasi.

Bus PO Ardiansyah dengan Ari dan Ade sebagai kru membawa rombongan wisata dari Kampung Benowo Krajan, Surabaya, menuju Dieng, Wonosobo, dan Jogjakarta. Mereka berangkat dari Surabaya pada Sabtu (14/5) pekan lalu.

Baru sekitar 17 kilometer menyetir, kecelakaan terjadi di Kilometer 712 tol Sumo. Bus menabrak papan multipesan. Jumlah korban meninggal bertambah satu kemarin menjadi 15 orang di antara total 33 penumpang.

Didit menjelaskan, penerapan pasal narkoba saat ini masih dikaji. Untuk memastikannya, penyidik akan melibatkan ahli pidana. ”Yang jelas, saat ini unsur pidana terkait dengan lalu lintas sudah dianggap memenuhi,” ungkapnya.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Jatim AKBP Gathut Bowo Supriyono menyatakan, peran tersangka sebenarnya hanya pendamping sopir. Ade tidak boleh menjadi pengemudi. Terlebih, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pria 29 tahun itu belum memiliki SIM.

Dia menuturkan, tidak tertutup kemungkinan ada tersangka lain. Namun, dia belum bisa berkomentar banyak. Sebab, alat bukti yang diperlukan masih dicari. ”Dalam kesempatan ini, kami juga menyampaikan duka mendalam atas bertambahnya jumlah korban jiwa menjadi 15 orang,” tuturnya.

Sementara itu, Najwa Dwi Yuniarti, salah seorang pasien yang sempat menjalani perawatan di RS Gatoel, Kota Mojokerto, tak tertolong setelah kondisinya terus memburuk. Remaja 13 tahun tersebut meninggal meski telah menjalani operasi di bagian kepala dan kakinya.

Dia merupakan korban meninggal ke-15 dalam kecelakaan pada Senin pagi lalu itu. Jenazah korban diotopsi di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo hingga akhirnya diberangkatkan ke kampung halamannya di Surabaya. Bersama keluarganya, jenazah diantar dengan mobil ambulans Dinas Sosial Surabaya.

Proses otopsi itu berlangsung selama satu jam, lalu jenazah diberangkatkan sekitar pukul 09.00. ’’Tadi pagi sekitar pukul 06.00 diotopsi ke sini, rujukan dari RS Gatoel,’’ ujar Koordinator Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Twinki Rachmad kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Dikonfirmasi terpisah, Wadir Pelayanan Medis RS Gatoel dr Anggraina Puspitasari menyatakan, korban dinyatakan meninggal sekitar pukul 04.00. Tim medis yang tengah berjaga sudah memberikan pertolongan pertama, tetapi tak berhasil.

Diketahui pula, sebelumnya korban sempat menjalani operasi pada kepala dan kedua kakinya. Kondisi pasien sempat membaik pada Rabu (18/5) siang. Namun, kesadarannya menurun saat tengah malam. ’’Iya, kondisi pasien memang sempat membaik, bahkan sudah bisa merespons rasa nyeri meski belum bisa bicara. Tapi, saat tengah malam, kondisi tubuhnya mengalami pemburukan,’’ jelasnya kemarin (19/5).

Sementara itu, per kemarin RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo masih merawat satu korban laka maut bus PO Ardiansyah. Satu korban bernama Nur’ai tersebut masih mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU. Namun, kondisinya memburuk jika dibandingkan saat Rabu lalu.

’’Pasien mengalami penurunan kesadaran lagi, padahal kemarin (Rabu, Red) sempat sadarkan diri. Kondisinya stabil. Hanya, kesadarannya sama sekali tidak mengalami kenaikan. Ini masih pakai ventilator,’’ papar Wadir Pelayanan dan Pendidikan RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo dr Hesti Puspasari dikonfirmasi tadi malam. Korban 54 tahun itu mengalami luka di bagian mata dan cedera otak berat.

Lalu, di RS Citra Medika, hingga kemarin jumlah pasien yang dirawat masih sama dengan Rabu lalu, yakni tiga orang. Dua pasien di antaranya berada dalam masa pemulihan di ruang ICU. Satu pasien yang dirawat di ruang reguler, Bayu Adrian, berangsur membaik. Dengan demikian, total ada empat korban laka yang belum dirujuk ke Surabaya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (edi/ oce/fen/c14/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads