alexametrics

Merevitalisasi Pecinan Surabaya yang Ambyar

Oleh FREDDY H ISTANTO *)
20 Februari 2020, 17:59:41 WIB

MENURUT peta tahun 1800-an, Kota Surabaya dirancang Belanda menjadi tiga kawasan. Kota yang dirancang dengan konsep kota benteng itu dibagi menjadi kawasan untuk orang-orang Belanda, kawasan pecinan untuk orang-orang Tionghoa serta kawasan untuk orang Melayu dan Arab. Pembagian tersebut dibatasi secara kuat oleh alam, yaitu Kalimas yang saat itu menjadi urat nadi transportasi perekonomian.

Kawasan untuk orang-orang Belanda berada di barat. Di sebelah timur Kalimas, ada dua kawasan. Kawasan itu pemisahnya adalah jalan. Sekarang dikenal sebagai Kembang Jepun. Dulu, namanya Handelstraat. Utara ditetapkan menjadi kawasan untuk orang-orang Melayu dan Arab. Kawasan di selatan Jalan Kembang Jepun dihuni orang-orang China. Kawasan itu kemudian memang dikenal sebagai kawasan pecinan Surabaya.

Kebudayaan Tiongkok sangat kental saat itu, tidak hanya terlihat pada bentuk arsitekturnya. Tetapi juga pada keseharian mereka. Termasuk upacara-upacara perkawinan, kematian, dan keagamaan. Kedekatan warga China dengan penguasa Belanda juga mulai menghadirkan generasi yang mulai ke-belanda-belanda-an.

Terlihat dari cara mereka berbusana, pesta pernikahan, dan juga pelepasan jenazah yang mulai diiringi alat musik Barat, piano. Di sisi lain, perpaduan kebudayaan Tiongkok dan kebudayaan lokal menumbuhkan sebuah subkultur baru di berbagai bentuk. Mulai kuliner, musik, sastra, busana, dan masih banyak lagi. Di sinilah pecinan Surabaya.

Namun, dinamika sosial, ekonomi, politik, dan budaya membuat kawasan ini mengalami pasang surut. Terutama saat Pemerintahan Orde Baru yang diskriminatif. Wajah pecinan mulai berubah. Signage-signagne berkarakter Mandarin hilang. Acara-acara kebudayaan seperti sembahyangan menyelinap di balik tirai-tirai kelam.

Selama 32 tahun pemerintahan yang anti-China tersebut melunturkan kebudayaan itu dan dua-tiga generasi Tionghoa menjauh dari budayanya. Mereka cenderung memilih kebudayaan Barat yang lebih aman dan sesuai zaman.

Di sisi lain, Pemerintah Orde Baru yang memojokkan etnis Tionghoa dan menyebut mereka hanya fokus pada posisi berbisnis membuat etnis ini justru meningkatkan kualitas ekonominya. Mereka hanya membuka usaha di kawasan utara Surabaya ini. Untuk tinggal, mereka memilih berdiam di kawasan Surabaya Barat, Timur, atau Selatan kota.

Akibatnya, kawasan Utara hanya berdenyut kencang di siang hari, malamnya mati. Demikian juga nadi bisnis berdetak kencang, sedangkan alunan budaya menghilang. Pecinan Surabaya dalam konteks budaya Tionghoa telah mati suri. Surabaya tidak punya lagi pecinan seperti yang dimiliki pecinan-pecinan lainnya di dunia.

Sudah beberapa kali suasana perayaan Tahun Baru China atau Imlek di kawasan ini sepi. Kawasan yang sudah berubah peruntukan untuk pergudangan dan bisnis ini tidak lagi punya nyali untuk bilang aku Pecinan Suroboyo yeee…… Padahal, di kawasan ini ada tiga rumah abu yang terkenal. Yaitu, Rumah Abu Keluarga Tjoa, Rumah Abu Keluarga The, dan Rumah Abu Keluarga Han. Juga, terdapat kelenteng tertua di Jalan Coklat.

Lalu, di mana perayaan seru Imlek kemarin? Kemeriahan itu ada di pusat-pusat perbelanjaan, di resotan-restoran, di rumah-rumah keluarga yang tersebar di mana-mana. Pecinan Surabaya sudah ambyaaaaar.

Merevitalisasi kawasan pecinan lama masih bisa diupayakan. Semua stakeholder kota harus bersinergi. Pemerintah kota harus berani secara tegas menetapkan kawasan pecinan Surabaya dengan regulasi-regulasi seperti ketegasan peruntukan tata kotanya.

Meningkatkan kualitas ruang urban di kawasan ini, sarana dan prasarana yang kontekstual. Pebisnis-pebisnis bersinergi dengan bantuan finansial untuk membangun kawasan itu. Salah satu caranya memberi bangkitan ekonomi, tidak sekadar pergudangan.

Komunitas-komunitas berbasis budaya berkolaborasi menggunakan kawasan itu untuk aktivitas riil berkebudayaan. Anak-anak muda diberi peran dengan potensi kuatnya di industri kreatif. Pemilik bangunan unik khas budaya Tionghoa diminta mengambil peran dengan membuka diri seperti menjadikan rumah-rumah abu sebagai destinasi wisata.

Sinergi semua stakeholder kota ini diharapkan membuat pecinan Surabaya bergairah kembali untuk menjadi bagian dari Surabaya yang berbudaya dan kota yang mengekspresikan kemajemukan. (*)


*) Freddy H Istanto, Dosen Arsitektur-Interior Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads