alexametrics

Dishub Surabaya: Ingin Cepat, Jangan Naik Angkot

19 September 2019, 19:59:20 WIB

JawaPos.com – Belum ada solusi atas berbagai keluhan layanan angkutan kota (angkot). Dinas perhubungan (dishub) justru menyarankan masyarakat untuk mencari alternatif lain yang lebih cepat, mudah, dan nyaman.

Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Surabaya Joko Supriyanto tidak menampik fakta terkait layanan angkot yang kurang maksimal. Namun, hal itu tidak terlepas dari aturan yang berlaku. Salah satunya, aturan mengangkut penumpang.

”Angkot memang boleh mengambil penumpang di mana saja, yang penting sesuai trayeknya,” kata Joko saat ditemui di kantornya kemarin (18/9) Menurut Joko, angkot tidak harus menunggu ada halte atau terminal untuk bisa membawa penumpang baru. Itu berbeda dengan Suroboyo Bus yang harus mengambil penumpang di halte atau bus patas yang hanya boleh mengangkut penumpang antarterminal.

Batas waktu ngetem juga tidak diatur. Karena itu, sopir bisa berhenti selama yang dia mau.Yang penting tidak melanggar rambu lalu lintas. Misalnya, berhenti di zona terlarang. Yakni, sepanjang area dengan rambu larangan berhenti.

Joko menilai hal itulah yang membuat perjalanan angkot lebih lama. Angkot harus berkali-kali berhenti untuk mengangkut penumpang baru atau menurunkan penumpang lama. Karena itu, wajar jika jadwal angkot yang hendak lewat sulit diprediksi. ”Misalnya, rute (kampus, Red) ITS ke TP (Tunjungan Plaza, Red). Hitung saja, berapa kali sopir berhenti,” katanya.

Terkait kualitas angkot, Joko menyebut hal itu menjadi tanggung jawab pemilik armada. Termasuk peremajaannya. Yang jelas, dishub sudah melakukan uji kir rutin untuk mengetahui kelaikan angkot.

Joko menambahkan, kondisi angkot memang tidak sebaik kendaraan pribadi atau kendaraan umum lain seperti taksi konvensional maupun taksi online. Tarif angkot memang lebih murah. Tapi, itu sebanding dengan kualitas pelayanan yang didapatkan.

Dia menyebutkan, ada faktor lain yang membuat perjalanan terasa lama. Yakni, kondisi lalu lintas yang dilalui untuk mencapai tujuan. ”Faktor traffic ini penting dalam teori transportasi,” terangnya.

Menurut Joko, waktu kepadatan lalu lintas di kota besar sejatinya sudah bisa diprediksi. Arus lalu lintas dipastikan padat saat pagi dan sore. Pada jam tersebut, jalanan dipenuhi orang yang berangkat dan pulang kerja serta anak sekolah. ”Lebih baik menghindari traffic yang padat jika ingin pergi ke suatu tempat. Apalagi kalau memilih naik angkot,” tuturnya.

Karena itu, para penumpang harus punya pertimbangan sebelum memilih jenis transportasi yang akan digunakan. Jika ingin murah, memang angkot pilihan yang paling tepat. Namun, jika ingin cepat, kendaraan roda dua dipastikan lebih efektif dari segi waktu. Baik motor pribadi maupun jasa tukang ojek. ”Mereka (penumpang, Red) sebetulnya sudah bisa menentukan sendiri karena pilihannya banyak,” katanya.

Sejak 1991, Rutene Meh Podo

Beberapa anggota DPRD Surabaya juga mencoba naik angkutan masal di Surabaya. Mereka menceritakan pengalamannya sebagai bagian dari masukan agar sistem transportasi masal di Surabaya jadi lebih baik.

Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti mengungkapkan, sekitar dua pekan lalu dirinya naik angkot dari Pacar Keling ke Keputih. Dia harus berjalan kaki lebih dulu ke dekat FK Unair. Menunggu sekitar 10 menit, dia lantas mendapatkan angkot yang mengantarnya ke Keputih. Rute yang dilewati mulai dari Dharmahusada, Kertajaya, Gebang, sampai Arif Rahman Hakim.

’’Penumpangnya hanya tiga orang saat itu. Kata bapak pengemudi angkotnya, sehari-hari juga begitu,’’ ungkap Reni kemarin Dari dialog antara Reni dan sopir itu, sopir angkot tersebut ternyata sudah sekitar 24 tahun menjalani pekerjaannya. Dia juga punya langganan yang kerap memintanya mengangkut barang. ’’Bapak itu juga bercerita bahwa dirinya sudah nyaman menjadi sopir angkot daripada beralih ke angkutan online,’’ tambah Reni.

Politikus PKS itu menyatakan, Pemkot Surabaya sudah waktunya mengaktifkan angkutan umum agar lebih berdaya. Sebab, angkot menjadi salah satu daya dukung Surabaya sebagai kota metropolis. Surabaya yang merupakan ibu kota Jawa Timur kerap mendapatkan sorotan terkait transportasi masal.

’’Sejak saya kuliah di ITS 1991 sampai sekarang, rutene meh podo. Lek len P Joyoboyo ke Karangmenjangan. Lin O dari Keputih nang Jembatan Merah,’’ ungkap alumnus ITS itu.

Dia berharap segera ada penataan rute setelah pemkot membuat program Suroboyo Bus. Berbagai kajian untuk menjadikan angkot sebagai angkutan pengumpan sering diwacanakan dan dikaji. ’’Tinggal dieksekusi,’’ tegasnya.

Masukan senada diungkapkan anggota DPRD Surabaya William Wirakusuma yang kemarin mencoba naik Suroboyo Bus dari Gubernur Suryo ke Santa Maria, lantas beralih ke jalur menuju ke Unesa. ’’Sudah bagus sebenarnya. Tapi, perlu ada yang diperbaiki. Misalnya, jadwalnya lebih pasti. Juga, menerima botol bekas di dalam bus itu perlu dicarikan solusi. Kan tidak higienis menaruh botol bekas di dalam bus, apalagi ber-AC,’’ ungkapnya.

Selain itu, dia berharap Suroboyo Bus yang masih berpelat merah bisa segera berpelat kuning atau kendaraan umum. Karena berpelat merah, pengelolaannya terbatas. Misalnya, belum boleh menarik retribusi. ’’Sudah saatnya dikelola lebih profesional. Mungkin bisa seperti Transjakarta. Masa uji coba Suroboyo Bus sudah waktunya diakhiri,’’ tambahnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : adi/jun/c15/c7/tia



Close Ads